Kamis, 04 Juni 2026 | 06:42
NEWS

Status Awas, Aktivitas Gunung Semeru Terus Meningkat

Status Awas, Aktivitas Gunung Semeru Terus Meningkat
Warga menyaksikan luncuran awan panas di daerah Lumajang (Dok Askara)

ASKARA - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru terus menunjukkan peningkatan signifikan setelah erupsi yang terjadi pada Rabu (19/11) sekitar pukul 14.13 WIB. Erupsi tersebut memicu awan panas guguran yang berlangsung beruntun dengan amplitudo maksimum mencapai 37-40 mm. Jarak luncur awan panas belum dapat dipastikan karena kondisi visual puncak tertutup kabut. Kolom abu tercatat menjulang hingga 2.000 meter di atas puncak.

Data pemantauan Badan Geologi menunjukkan aktivitas erupsi dan guguran lava masih berlangsung aktif, diiringi tingginya aktivitas kegempaan seperti gempa letusan, gempa guguran, dan gempa harmonik. Peningkatan gempa guguran sejalan dengan observasi visual yang memperlihatkan intensitas guguran lava pijar ke arah Besuk Kobokan semakin kuat. Kegempaan ini mengindikasikan masih adanya suplai material dari bawah permukaan gunungapi.

Di sisi lain, deformasi tubuh gunung terlihat relatif stabil, tetapi nilai variasi kecepatan relatif (dv/v) yang menurun sejak pertengahan Oktober 2025 mengisyaratkan meningkatnya tekanan pada lapisan dekat permukaan. Berdasarkan analisis keseluruhan, Badan Geologi menetapkan peningkatan status Gunung Semeru dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung mulai Rabu (19/11) pukul 17.00 WIB. Kenaikan ini menjadi alarm penting bagi masyarakat terkait potensi erupsi susulan dan bahaya lanjutan.

Situasi di lapangan juga terdampak. Akses jalan Malang-Lumajang ditutup sementara akibat kondisi vulkanik yang fluktuatif, sementara laporan menyebutkan terdapat lebih dari 130 pendaki yang tertahan di kawasan Ranu Kumbolo. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 km dari puncak serta menjauhi area 500 meter dari sempadan sungai di jalur aliran tersebut. Selain itu, radius 8 km dari kawah wajib dikosongkan untuk menghindari bahaya lontaran batu pijar dan awan panas. Informasi resmi perkembangan aktivitas Semeru dapat diakses melalui kanal Badan Geologi dan aplikasi Magma Indonesia.

 

 

Komentar