Kamis, 18 Juni 2026 | 01:34
COMMUNITY

SAGKI 2025: Gereja Dipanggil Jadi Duta Kemanusiaan dan Damai

SAGKI 2025: Gereja Dipanggil Jadi Duta Kemanusiaan dan Damai
Kardinal Suharyo ketika homili di Misa Penutupan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025 (Dok Askara)

ASKARA - Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke-5 tahun 2025 resmi ditutup dengan semangat pembaruan Gereja Katolik Indonesia untuk lima tahun ke depan. Sidang yang diikuti para uskup, imam, biarawan-biarawati, dan umat awam dari seluruh keuskupan ini menghasilkan rekomendasi penting tentang arah pastoral Gereja di tengah dunia digital dan krisis nilai kemanusiaan.

Dalam penutupan SAGKI, Kardinal Ignatius Suharyo memimpin misa yang sarat pesan rohani dan refleksi mendalam. Dalam homilinya, Kardinal menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar rutinitas lima tahunan, melainkan peristiwa iman di mana Roh Kudus bekerja nyata. “Dalam SAGKI, kita mengalami campur tangan Roh Kudus. Maka saya yakin, apa yang telah dirumuskan di sini tidak akan berhenti di atas kertas, tetapi akan dilaksanakan,” ujarnya dengan penuh keyakinan, Jumat (7/11).

Kardinal Suharyo juga menanggapi refleksi Ketua KWI, Mgr. Anton, dalam homili pembukaan yang mempertanyakan, “Apakah setelah SAGKI, kita akan kembali seperti semula?” Dengan tenang, Kardinal menjawab, “Saya yakin tidak. Roh Kudus sudah menuntun Gereja untuk melangkah ke arah baru.” Ia mengajak seluruh umat Katolik untuk menumbuhkan apa yang ia sebut spiritualitas inkarnasi — kesadaran bahwa Allah sungguh hadir dan bekerja dalam sejarah manusia.

“Jika kita ingin menemukan kehendak Allah, jangan mencarinya di tempat yang jauh. Temukanlah di dalam sejarah, di dalam lingkungan hidup kita, dalam peristiwa sehari-hari,” tutur Kardinal. Menurutnya, kehadiran Allah tidak selalu tampak dalam hal spektakuler, tetapi justru dalam kehidupan sederhana yang dijalani dengan iman dan kasih.

Ia kemudian menguraikan tiga langkah rohani untuk menemukan kehendak Allah. Pertama, melalui doa yang menumbuhkan kegelisahan rohani. “Kegelisahan adalah anugerah,” kata Kardinal sambil mengutip Santo Agustinus: ‘Jiwaku belum tenang sampai aku menemukan Engkau.’ Menurutnya, doa yang sejati bukan sekadar permohonan, melainkan kesediaan untuk digelisahkan oleh kasih Tuhan agar terus mencari dan berbuat baik.

Langkah kedua, lanjutnya, adalah menggunakan akal budi dan refleksi kritis. “Kita diberi akal budi bukan untuk menunda keputusan, melainkan untuk menimbang dengan jernih. Seperti yang dilakukan selama SAGKI, refleksi mendalam adalah bagian dari cara kita mendengarkan Roh Kudus,” katanya. Ia menegaskan, iman yang sejati berjalan seiring dengan nalar yang jujur.

Langkah ketiga adalah bertindak nyata demi kesejahteraan bersama dan kelestarian hidup manusia. “Kelihatannya mudah, tapi kenyataannya sulit,” ujar Kardinal. Ia menekankan perlunya kompetensi etis, seperti diajarkan Santo Paulus: ‘Tinggallah dalam Kristus.’ Hanya dengan berakar dalam Kristus, katanya, umat mampu menjadi tanda pengharapan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.

Pesan rohani ini selaras dengan rekomendasi SAGKI 2025 yang menegaskan pentingnya membangun budaya dialog lintas generasi dan lintas iman. Gereja diharapkan menjadi pelopor ruang perjumpaan yang terbuka dan manusiawi, tempat perempuan, kaum muda, difabel, dan lanjut usia turut berperan aktif dalam kehidupan menggereja. Semangat dialog juga diarahkan pada kerja sama lintas agama demi memperkuat persaudaraan dan perdamaian di Indonesia.

Sementara itu, Uskup Anton mengajak seluruh peserta SAGKI untuk menjadi duta di lingkungannya masing-masing. “Umat Katolik hendaknya menjadi duta kemanusiaan di tengah maraknya kekerasan dan perdagangan orang, duta lingkungan hidup di tengah kerusakan alam, serta duta pertobatan melawan korupsi dan dosa sosial lainnya,” ujarnya. Gereja, katanya, harus hadir sebagai wajah kasih Allah yang membawa pengharapan bagi sesama.

SAGKI 2025 ditutup dengan simbol penuh makna, pemukulan gendang oleh para uskup yang mewakili enam regio Gereja Katolik Indonesia: Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi-Maluku, dan Papua. Irama gendang menggema sebagai tanda dimulainya langkah baru Gereja Indonesia sebagai peziarah pengharapan, melanjutkan karya Roh Kudus di tengah bangsa. Seperti tertulis dalam Filipi 1:6: “Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada hari Kristus Yesus.”

 

Komentar