Cerpen: Dinding yang Mengajari Untung Bersyukur
ASKARA - Setiap pagi, Untung melewati dinding lusuh di sudut gang sempit dekat tempatnya bekerja sebagai satpam gudang logistik. Tulisan besar di tembok itu menatapnya seperti nasihat yang tak pernah letih: “Mending gaji 40 juta tapi disyukuri, daripada gaji 1 juta tapi ngeluh mulu.” Ia sering tertawa getir, sebab hidupnya ada di antara dua kalimat itu.
Untung, lelaki berusia empat puluh dua tahun, hidup dalam irama yang monoton. Pagi berangkat sebelum matahari terbit, pulang setelah malam menua. Gajinya pas-pasan, anak dua, istri menjahit di rumah kontrakan kecil di pinggir Bekasi. Hidupnya seperti mesin jam tua yang tetap berdetak meski sudah karatan karena tak punya pilihan selain terus berjalan.
Setiap lewat gang itu, pandangannya selalu jatuh pada dinding penuh lumut dan tulisan hitam tebal itu. Kalimat yang bagi sebagian orang terdengar lucu, tapi baginya seperti sindiran yang menusuk dada. “Ya, siapa juga yang gak mau gaji 40 juta,” gumamnya suatu pagi, menatap huruf-huruf besar itu sambil menyalakan rokok murahan.
Ia sering membayangkan: bagaimana rasanya hidup tanpa pusing menunggak listrik, tanpa khawatir uang sekolah anak, tanpa cicilan motor yang tak kunjung lunas. Tapi semakin lama ia berpikir, semakin ia merasa dunia hanya berpihak pada orang-orang yang sudah menang sejak lahir.
Hari itu, di pos jaga, ia kedatangan seorang pengusaha muda bernama Tyo pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Mobilnya berkilau, jam tangannya mahal, tutur katanya santai tapi tajam. “Pak Untung, saya titip area ini, ya. Barang-barang masuk malam nanti. Jangan sampai ada yang tercecer,” katanya ramah tapi berjarak.
Untung mengangguk. Dalam hati, ada campuran kagum dan iri. Ia pernah muda seperti Tyo, punya cita-cita tinggi, tapi nasib membuatnya harus menunda semua mimpi. Malamnya, ketika gudang sepi, ia menatap bayangan dirinya di jendela kaca. “Untung, namamu Untung, tapi apa benar kamu seberuntung itu?”
Beberapa hari kemudian, hidupnya berubah drastis. Tyo tiba-tiba datang dengan wajah panik. Gudang tempat Untung bekerja menjadi bahan penyelidikan karena dugaan penggelapan barang. CCTV rusak, dokumen hilang. Semua mata tertuju pada satu orang: Untung. Ia yang menjaga malam itu, ia yang terakhir terlihat di lokasi.
Untung dituduh tanpa bukti jelas. Ia dicopot, digantikan orang baru, tanpa kesempatan membela diri. Pulang ke rumah dengan seragam lecek, ia menatap anak dan istrinya yang diam tak tahu harus berkata apa. “Mungkin ini ujian,” kata istrinya lirih. Tapi dalam dada Untung, yang ada hanyalah rasa hancur dan malu.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut. Ia mencoba kerja serabutan, tapi tak ada yang bertahan lama. Orang-orang di gangnya mulai berbisik. Tulisan di tembok itu kini terasa makin menghina. Ia bahkan sempat berpikir, “Kalimat itu cuma cocok buat orang yang udah enak hidupnya. Bukan buat saya.”
Suatu pagi, saat duduk di warung kopi, Untung mendengar berita di televisi kecil: Tyo ditangkap karena penggelapan pajak dan manipulasi aset perusahaan. Semua dugaan atas kasus gudang berbalik arah. Nama Untung disebut sebagai korban salah tuduh.
Ia tak tahu harus bahagia atau sedih. Dunia seolah memberi pelajaran aneh—bahwa kejujuran tak selalu segera dibayar lunas. Tapi malam itu, ketika ia pulang dan kembali melewati dinding itu, langkahnya terhenti.
Tulisan di tembok masih sama. Tapi kini, di bawahnya, seseorang menambahkan satu kalimat kecil dengan cat baru:
“Yang penting bukan jumlahnya, tapi hatinya.”
Untung tersenyum pelan. Ia tak tahu siapa yang menulis tambahan itu, tapi rasanya seperti pesan dari semesta. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap perlahan, lalu berkata dalam hati, “Mungkin benar… bersyukur bukan soal berapa besar yang kita punya, tapi berapa tulus kita menerimanya.”
Beberapa hari kemudian, ia mulai bekerja lagi sebagai penjaga malam di tempat lain lebih kecil, lebih sepi, tapi lebih tenang. Ia membawa pelajaran dari dinding itu ke dalam hidupnya sendiri. Kini, setiap ada orang yang mengeluh soal rezeki, Untung hanya tersenyum dan berkata,
“Kadang kita butuh kehilangan, supaya tahu apa arti disyukuri.”
Namun pada suatu pagi, saat ia hendak lewat ke arah lama untuk sekadar nostalgia, ia terkejut. Dinding itu sudah rata dengan tanah. Gang itu dibongkar untuk pembangunan ruko baru. Tulisan itu hilang tanpa jejak.
Untung berdiri lama di sana, menatap puing-puing semen yang berdebu. Ia mendadak merasa kehilangan sesuatu yang dulu ia benci, tapi ternyata diam-diam menuntunnya jadi manusia yang lebih ikhlas.
Di saku bajunya, ia keluarkan pulpen, menulis di secarik kertas bekas:
“Mending hidup sederhana tapi jujur, daripada kaya tapi menipu diri sendiri.”
Kertas itu ia tempel di tiang listrik di pinggir jalan. Lalu ia berjalan pelan menuju tempat kerja barunya, dengan senyum yang belum pernah seutuh itu muncul di wajahnya.

Komentar