Rabu, 17 Juni 2026 | 18:37
COMMUNITY

Gereja Katolik Usung Pesan Perdamaian Sebagai Tema SAGKI 2025

Gereja Katolik Usung Pesan Perdamaian Sebagai Tema SAGKI 2025
Ketua Umum KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C (tengah) saat konferensi pers SAGKI Tahun 2025 (Dok. KWI)

ASKARA - Gereja Katolik akan menggelar kegiatan Sidang Agung Gereja Katolik (SAGKI) Tahun 2025, pada 3 hingga 7 November mendatang. Persidangan gerejawi bertempat di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, ini, mengusung pesan perdamaian yang tertuang dalam tema besar "Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian".

Dalam keterangan resminya Gereja Katolik menegaskan tema yang diangkat pada SAGKI Tahun 2025 merupakan suatu cerminan akan kesadaran diri sebagai persekutuan umat Allah yang sedang berjalan bersama secara intern (seluruh elemen Gereja Katolik). Di lain sisi tema tersebut juga diterjemahkan ecara ekstern yaitu wujud kebersamaan yang terbangun di antara Gereja Katolik bersama saudara-saudari sesama anak bangsa yang berasal dari agama, kepercayaan, budaya, dan golongan yang beragam.

Dijelaskan pula bahwa SAGKI merupakan pertemuan yang akan dihadiri seluruh elemen Gereja Katolik terdiri dari Uskup, Imam (Romo), Bruder, Suster, dan Awam yang berasal dari 38 perwakilan Keuskupan Teritorial dan 1 Keuskupan Teritorial TNI-POLRI.

Selama lima hari Gereja Katolik akan membahas langkah gerejawi dalam merespon berbagai tantangan ke depan, termasuk menginisiasi solusi dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa mulai dari isu kerusakan lingkungan, korupsi, kesenjangan hidup, intoleransi, kekerasan, hingga ketidakadilan gender.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C, pada sesi konferensi pers di Kantor KWI, Rabu sore (29/10), menjelaskan persidangan SAGKI akan terbuka terhadap setiap suara atau usulan yang berasal dari setiap delegasi, tanpa harus terbentur hirarki gereja. Hal itu disampaikan oleh Mgr. Antonius Bunjamin sebagai penegasan bahwa Gereja Katolik sangat terbuka bagi suara yang berasal dari setiap peserta sidang dengan berpegang pada prinsip kesetaraan dan karya ilahi yang bekerja di setiap diri manusia.

Sebagai gambaran, kata Mgr. Antonius Bujamin, Setiap isu yang menjadi bahasan di penyelenggaraan SAGKI telah didalami di tingkat lingkungan, paroki, dekanat, kemudian disuarakan secara berjenjang hingga tingkat keuskupan. Selanjutnya suara dari keuskupan akan dilanjutkan ke Sidang Agung mendatang. Puncaknya, hasil dari rangkaian persidangan SAGKI Tahun 2025 kemudian akan dituangkan dalam dokumen gerejawi.

"Nanti dokumen apa yang akan dirumuskan? Kami belum tahu. Tetapi yang paling penting pertemuan itu adalah peserta Sidang Agung harusnya dipanggil untuk menjadi dokumen yang hidup. Jadi orangnya itu yang menjadi dokumen yang hidup, yang membawa ke ke keuskupan, paroki-paroki, dan lingkungan. Maka harapan besar delapan orang yang berasal dari keuskupan itu (delegasi SAGKI) adalah orang-orang yang dapat diandalkan untuk berpartisipasi, dan pulang berkontribusi ke tempat masing-masing," tegas Mgr. Bunjamin.

Sidang Agung Gereja Katolik merupakan agenda rutin lima tahunan dari Gereja Katolik yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2000. Penyelenggaraan SAGKI bertujuan mengembangkan persaudaraan antara hirarki dan umat; mewujdkan Gereja Katolik sebagai komunitas pengharapan yang berjiwa misioner; meningkatkan peran Gereja Katolik yang lebih relevan, signifikan, dan berkesinambungan dalam mewujudkan perdamaian. Lewat SAGKI, Gereja Katolik juga ingin menghasilkan arah haluannya untuk lima tahun yang akan datang.

 

Komentar