Rabu, 22 Juli 2026 | 21:46
Ruang Menulis

Cerpen: Ketika Murid Mencium Tangan Gurunya

Cerpen: Ketika Murid Mencium Tangan Gurunya
Ilustrasi

ASKARA - Di antara hamparan batu tua di halaman madrasah Amman, seorang murid bersiap mencium tangan gurunya, tapi tangan itu justru menepi, menolak disentuh bibir penuh hormat. Di balik penolakan itu tersimpan pelajaran tentang kerendahan hati dan cinta ilmu yang tak lekang oleh waktu, pelajaran yang kemudian mengguncang seluruh hidup sang murid.

Angin musim semi di Amman berhembus lembut sore itu. Udara membawa aroma tanah setelah hujan, menenangkan hati siapa pun yang sedang gelisah. Di halaman madrasah kecil yang dikelilingi tembok batu berlumut, seorang pemuda bernama Umar bin Zaid menunduk dalam-dalam di hadapan gurunya, Syaikh Abdul Karim Al Hamidi.

Sudah lama Umar ingin bertemu langsung dengan sang guru, ulama yang selama ini hanya ia dengar suaranya lewat rekaman kajian. Ketika akhirnya kesempatan itu datang, lututnya gemetar. Dengan langkah perlahan, ia mendekat dan menjabat tangan sang guru. Matanya bergetar, tangannya berusaha menunduk lebih dalam untuk mencium tangan itu.

Namun, Syaikh Abdul Karim dengan cepat menarik tangannya ke belakang. “Wahai Umar,” katanya lembut, “mengapa engkau ingin mencium tanganku?”

Umar terdiam. “Karena engkau guruku, Syaikh. Engkau alim, dan aku hanya ingin menghormati ilmu yang Allah titipkan kepadamu.”

Syaikh Abdul Karim tersenyum samar. “Apakah engkau benar mengira aku seorang alim?”

Umar mengangguk mantap. “Engkau yang mengajar kami tafsir, hadis, dan fiqih. Engkau yang menjelaskan makna sabar ketika hati kami sedang berantakan. Jika bukan alim, lalu siapa lagi?”

Syaikh Abdul Karim menatapnya lama, lalu menunduk dalam-dalam. “Aku bukan alim, wahai anakku. Aku hanyalah tuwailibul ilmi, penuntut ilmu kecil yang masih belajar mencintai kebenaran. Bagaimana mungkin tangan seorang yang belum selesai menuntut dicium karena ilmu yang belum sempurna?”

Hening. Angin membawa daun-daun jatuh di antara mereka. Di mata Umar, kalimat itu menampar ego yang tak pernah ia sadari.

Sejak hari itu, ia tak lagi mencium tangan gurunya. Tapi entah kenapa, rasa hormatnya justru semakin dalam. Ia mulai menulis, mencatat setiap nasihat, menyalin pelajaran dengan rapi, seolah setiap huruf dari lisan gurunya adalah mutiara yang harus disimpan seumur hidup.

Bertahun-tahun berlalu.

Umar tumbuh menjadi seorang pengajar di kota kecil bernama Irbid. Di ruang kelasnya yang sederhana, ia selalu memulai pelajaran dengan kalimat yang sama:

“Barang siapa merasa sudah alim, maka di situlah ilmunya berhenti.”

Para murid sering melihatnya termenung setelah mengajar, menatap jendela seakan berbicara dengan masa lalu. Tidak ada yang tahu, setiap kali ia menatap langit sore, wajah Syaikh Abdul Karim selalu terlintas di benaknya.

Hingga suatu hari, ketika sinar matahari condong ke barat, datanglah seorang pemuda bernama Fahri dari Yordania selatan. Ia baru selesai menempuh pendidikan dan ingin belajar langsung dari Umar.

“Syaikh,” kata Fahri suatu sore setelah pelajaran usai, “izinkan aku mencium tanganmu.”

Umar tertegun. Pemandangan itu seakan memutar waktu. Ia melihat dirinya sendiri di tubuh pemuda itu, dengan semangat yang sama, rasa kagum yang sama, dan kebingungan yang sama.

Ia tersenyum kecil, lalu menatap pemuda itu dalam-dalam. “Apakah engkau melihat aku seorang alim, wahai anakku?”

Fahri menunduk, ragu-ragu. “Ya, tentu, Syaikh. Engkau telah mengajarkan kami banyak hal.”

“Tidak, aku bukan alim,” jawab Umar lirih, “aku hanya tuwailibul ilmi yang masih belajar mengenal Allah. Kalau engkau ingin menghormati ilmu, hormatilah amalnya, bukan tanganku.”

Fahri mengangguk, menahan air mata.

Hari itu, pelajaran itu menancap dalam hati sang murid muda sebagaimana dulu menancap di hati Umar ketika ia berdiri di hadapan Syaikh Abdul Karim.

Malam turun di Irbid dengan angin yang dingin. Umar duduk sendirian di ruang perpustakaan kecilnya. Di atas meja kayu, ada kitab tua bertuliskan Silsilah Ahadits Ash Shahihah kitab yang dulu pertama kali diperkenalkan oleh gurunya di Amman.

Ia membuka halaman tengah, dan di sana, selembar kertas lusuh terlipat rapi. Tulisan tangan itu milik gurunya:

“Ilmu itu cahaya. Tapi cahaya tak akan tinggal di hati yang sombong.”

Umar tersenyum. Air matanya jatuh perlahan di atas tinta tua itu.

Beberapa bulan kemudian, kabar duka datang dari Amman. Syaikh Abdul Karim wafat di usia delapan puluh tiga tahun. Umar berangkat menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri pemakamannya.

Ketika ia tiba, tanah pemakaman sudah ditutup, dan para penuntut ilmu masih berdiri melingkar, membaca doa. Umar menunduk, tangannya gemetar. Ia menatap gundukan tanah itu lama, lalu berbisik, “Syaikh, engkau benar. Ilmu bukan soal seberapa tinggi kita berdiri, tapi seberapa rendah hati kita menunduk.”

Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang dulu pernah ditahan oleh gurunya agar tak mencium. Lalu, tanpa berpikir, ia menunduk dan mencium punggung tangannya sendiri.

Bukan sebagai tanda sombong. Tapi sebagai pengingat bahwa tangan inilah yang dulu ditolak mencium tangan seorang alim, agar suatu hari ia belajar arti tawadhu sejati.

Tahun-tahun berlalu lagi.

Umar kini sudah tua. Murid-muridnya datang silih berganti, membawa semangat baru dan kisah lama yang terus berulang.

Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam di balik menara masjid, Umar dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Ilmu. Kabar kepergiannya cepat menyebar.

Di antara para pelayat, seorang murid muda mendekati jenazahnya, menatap wajah gurunya yang tenang. Ia menggenggam tangan dingin itu, lalu menunduk ingin mencium. Tapi tiba-tiba, dari saku jubah Umar, terselip secarik kertas bertuliskan:

“Jika engkau ingin menghormatiku, teruskanlah mencari ilmu. Jangan berhenti di tanganku.”

Pemuda itu menahan napas. Ia menarik kembali tangannya, menatap wajah gurunya yang tersenyum dalam diam.

Tiga hari setelah pemakaman, pemuda itu menemukan surat yang ditulis tangan Umar di dalam kitab Silsilah Ahadits Ash Shahihah. Di sana tertulis:

“Aku bukan alim. Aku hanya murid yang pernah ingin mencium tangan gurunya dan gagal. Tapi dari kegagalan itulah aku belajar, bahwa yang sejati dicium bukan tangan manusia, melainkan ilmu yang diturunkan dari langit.”

Pemuda itu menutup kitab itu dengan air mata. Di luar, angin sore berembus, membawa bisikan halus yang seakan datang dari kejauhan:

“Dan tetaplah engkau menjadi tuwailibul ilmi sampai akhir hayatmu…” (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar