Gelorakan Semangat Indonesia Emas, Prof. Rokhmin Dahuri: UMC Bangkitkan Generasi Unggul, Sukses, dan Bahagia
ASKARA — Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) kembali menyalakan bara semangat di awal semester melalui kuliah umum bertajuk “Sambut Energi Baru: Reaktualisasi Semangat dan Unggul di Semester Baru.” Hadir sebagai pembicara utama, Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyampaikan pesan inspiratif yang menggugah hati seluruh sivitas akademika UMC mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidik pada Senin (13/10).
Kuliah umum yang disampaikan Prof. Rokhmin Dahuri menjadi momentum reflektif dan penyemangat bagi sivitas akademika UMC untuk memulai semester baru dengan tekad unggul dalam iman, ilmu, dan akhlak, demi mewujudkan Indonesia yang maju, berkeadaban, dan berbahagia.
Dalam orasinya, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya membangun generasi unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045, seratus tahun kemerdekaan bangsa. “Mahasiswa dan dosen tidak boleh jadi minimalis. Harus unggul, berdaya saing, dan beriman,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor ini, dalam tema "Membangun Generasi Unggul Yang Sukses Dan Bahagia Dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045".
Tahun 2045 akan menjadi momentum penting: seratus tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah dan bangsa ini mencanangkan visi besar Indonesia Emas 2045 — yaitu Indonesia
yang maju, sejahtera, adil, dan berdaulat, dengan manusia Indonesia sebagai subjek utama kemajuan. Namun, kunci untuk mewujudkan cita-cita besar itu bukan hanya infrastruktur, bukan hanya teknologi, melainkan kualitas manusianya.
Ia mengajak mahasiswa UMC untuk menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar pencari gelar.
"Sebagaimana ditegaskan oleh Bung Karno, dengan semangat dan suara yang berkobar: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.
Generasi muda hari ini, termasuk kalian semua, mahasiswa Universitas Muhammadiyah," kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu.
Ia menekankan, keberhasilan suatu bangsa berakar pada kekuatan iman, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berjalan seiring. “Pemimpin sejati adalah yang punya iman dan takwa. Jangan pernah memilih pemimpin yang tidak punya keduanya,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menyoroti pentingnya peta jalan pembangunan nasional yang berlandaskan kemandirian. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak terus bergantung pada produk impor.
“Semua harus diproduksi dalam negeri. Ciri negara maju itu tidak ada kemiskinan. Kita masih 8,74 persen menurut BPS. Itu PR besar kita,” katanya.
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, untuk mentransformasikan bangsa menuju kemajuan, dibutuhkan tiga fondasi utama: kebijakan ekonomi yang berpihak, kebijakan sains dan teknologi yang progresif, serta pendidikan yang prima. Di sinilah peran perguruan tinggi seperti UMC menjadi kunci.
Cirebon — adalah pondasi utama menuju Indonesia Emas. Maka pertanyaannya:
Bagaimana membangun generasi yang unggul, sukses, dan bahagia, agar Indonesia benar-benar menjadi bangsa besar?
"Anak-anakku sekalian, dari Cirebon — kota yang kaya sejarah dan budaya — mari kita bangun peradaban baru yang berakar pada nilai Islam, keilmuan, dan kemanusiaan. Kalian adalah pemimpin masa depan, calon guru bangsa, calon inovator, dan calon pembangun
Indonesia Emas 2045. Try to be the best, do good to others, and stay close to Allah SWT," kata anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas dari Bremen, Jerman itu.
Tiga Pilar Generasi Unggul
Untuk menjadi generasi unggul, Prof. Rokhmin Dahuri menekankan tiga pilar utama:
1. Kecerdasan Intelektual dan Kompetensi (Ilmu & Keterampilan). Dunia saat ini sedang mengalami revolusi industri 4.0 menuju 5.0. Maka mahasiswa
tidak cukup hanya “pintar di kampus”, tetapi harus adaptif, kritis, dan inovatif.
• Kuasai teknologi digital, bahasa asing, dan literasi sains.
• Jadilah problem solver — bukan hanya penghafal teori.
• Belajarlah lintas disiplin, karena masa depan menuntut kolaborasi, bukan sekadar spesialisasi.
2. Akhlak Mulia dan Spiritualitas.
Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah, kalian beruntung memiliki dasar nilai Islam yang kuat.
• Kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kepedulian sosial harus menjadi
karakter utama.
• Kesuksesan sejati tidak diukur dari materi, tapi dari manfaat dan keberkahan
hidup.
• Ingat, orang cerdas tanpa akhlak bisa menghancurkan bangsa, tapi orang
berakhlak dengan kecerdasan akan membangun peradaban.
3. Kemandirian dan Ketangguhan.
Dunia kerja dan kehidupan tidak selalu mudah. Oleh karena itu, bangunlah mental tangguh, resilience, dan semangat pantang menyerah.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Maka jangan takut gagal — jadikan kegagalan sebagai guru, dan teruslah berjuang dengan niat
baik.
Mahasiswa Muhammadiyah: Pelopor Peradaban
Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah, mahasiswa UMC, tegasnya, memikul warisan besar dari pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, yang menegaskan pentingnya ilmu untuk memajukan umat.
"Tugas kalian bukan sekadar belajar, tetapi menjadi pelopor perubahan sosial yang
berkeadaban," imbuh Duta Besar Kehormatan (Goodwill Ambassador) untuk Provinsi Jeju dan Kota Busan itu.
Wujudkan Islam yang berkemajuan (Islam berkemajuan) melalui karya nyata:
• Kembangkan inovasi untuk UMKM, pertanian, perikanan, dan lingkungan.
• Gunakan media digital untuk berdakwah dan menginspirasi.
• Jadilah teladan dalam disiplin, toleransi, dan gotong royong.
5. Penutup: Ajakan untuk Generasi Cirebon yang Menginspirasi.
“UMC harus jadi pusat kolaborasi: menghasilkan lulusan unggul, riset yang berdampak, dan pengabdian masyarakat yang nyata,” tambahnya.
Ia menyebut, indikator keberhasilan alumni tidak sekadar ijazah atau gelar, tetapi kemampuan menjadi insan sukses dan bahagia.
“Mahasiswa harus punya hard skill, intellectual quotient, emotional quotient, dan spiritual quotient. Jangan hanya cerdas, tapi juga punya empati dan spiritualitas tinggi,” ujar Ketum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini.
Lebih jauh, Prof Rokhmin mengingatkan agar mahasiswa berani menjadi yang terbaik tanpa kehilangan nilai kemanusiaan. “Berusahalah jadi yang terbaik, tapi jangan jadi pelit. Orang unggul itu memberi manfaat. Khairunnas anfa’uhum linnas sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya mengutip hadis Rasulullah SAW.
Prof. Rokhmin mendorong mereka untuk:
- Mengembangkan inovasi di sektor UMKM, pertanian, dan lingkungan.
- Berdakwah melalui media digital.
- Menjadi teladan dalam disiplin, toleransi, dan gotong royong.
Dalam suasana penuh kehangatan, ia juga menyentil budaya akademik yang stagnan. “Jangan hanya kuliah untuk menggugurkan kewajiban. Dosen dan mahasiswa harus jadi insan yang baik di dunia dan akhirat. Jadilah generasi pembaharu yang membumikan nilai Islam dan ilmu,” pesannya.
“Berusahalah jadi yang terbaik, tapi jangan jadi pelit. Khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Sukses dan Bahagia: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Banyak orang sukses tapi tidak bahagia, dan banyak orang bahagia tapi belum sukses. Padahal, dalam pandangan Islam, kesuksesan sejati adalah keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Rumus sederhananya adalah:
Sukses = Kinerja + Integritas + Spiritualitas. Bahagia = Syukur + Sabar + Ikhlas.
Kalian boleh bercita-cita menjadi pejabat, pengusaha, dosen, atau ilmuwan besar. Tapi jagalah niat: bukan untuk kesombongan, melainkan untuk berkontribusi bagi umat, bangsa, dan
kemanusiaan. Itulah makna kebahagiaan sejati — khairunnas anfa’uhum linnas.
Dengan ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan semangat pengabdian, insya Allah kalian akan menjadi generasi unggul yang sukses dan bahagia, serta menjadi penentu arah masa depan bangsa.
Prof Rokhmin menutup kuliah umumnya dengan kalimat meneduhkan, “Jangan kecil hati, dunia ini tidak apa-apa. Bukan berarti kita pasrah, tapi jadikan dunia ini ladang amal untuk akhirat.”
Pesan sederhana namun sarat makna itu menjadi penutup reflektif bagi sivitas akademika UMC untuk memulai semester baru dengan energi baru unggul dalam iman, ilmu, dan akhlak.

Komentar