Senin, 03 Agustus 2026 | 01:28
OPINI

Menggali Makna Produktivitas Hidup Dari Al-insyirah 7–8

Menggali Makna Produktivitas Hidup Dari Al-insyirah 7–8
Wakil Rektor Universitas UMMI Bogor, Dr. Rahmat Mulyana (dok.askara)

Oleh : Dr. Rahmat Mulyana, Wakil Rektor Universitas UMMI Bogor 

ASKARA - Tahukah anda bahwa kini telah ditemukan bahwa kita bisa menggali inti produktivitas hidup dari dua ayat pendek dalam Surah Al-Insyirah ayat 7–8. Pesan yang terkandung di dalamnya telah mendahului penemuan psikologis modern yang baru diungkap sekitar seratus tahun kemudian oleh Bluma Zeigarnik, seorang psikolog Rusia. Ia menemukan fenomena yang kini dikenal sebagai Zeigarnik Effect — bahwa manusia cenderung lebih mudah mengingat dan terdorong menyelesaikan tugas yang belum selesai dibandingkan dengan tugas yang telah rampung.

Penelitian Zeigarnik muncul dari pengamatan sederhana: para pelayan restoran mampu mengingat pesanan pelanggan yang belum dibayar dengan sangat akurat, tetapi segera melupakannya setelah pesanan itu diselesaikan. Dari sini, Zeigarnik menyimpulkan bahwa pikiran kita menyimpan “tegangan kognitif” (cognitive tension) terhadap urusan yang belum tuntas, yang membuat kita terus terdorong untuk menyelesaikannya. Namun, ketika seseorang terlalu banyak meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, tegangan ini berubah menjadi gangguan mental yang melelahkan—pikiran terus “terbelah” antara tugas lama dan tugas baru, menyebabkan sulit fokus, meningkatnya stres, serta penurunan kualitas keputusan. Secara neuropsikologis, kondisi ini menciptakan penumpukan loop terbuka di otak, sehingga energi kognitif tersedot untuk mengingat hal-hal yang belum tuntas, bukan untuk mengeksekusi hal yang sedang dihadapi. Akibatnya, produktivitas menurun dan setiap pekerjaan berikutnya menjadi lebih berat karena sebagian kapasitas mental telah “terkunci” oleh beban yang belum terselesaikan.

﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ﴾

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), bersungguh-sungguhlah (dalam urusan lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (QS. Al-Insyirah [94]:7–8)

Dua ayat singkat ini sering dibaca sebagai seruan spiritual, tetapi jika ditelaah dari sudut kinerja personal, ia sekaligus merumuskan mekanisme produktivitas yang presisi. Tiga poros maknanya jelas: faraghta (menutup urusan dengan tuntas), fanshab (mengalihkan energi secara intens ke urusan berikutnya), dan farghab (meluruskan orientasi dan harap kepada Allah sebagai kompas nilai). Dengan kata lain, Islam mengajarkan ritme kerja berkesinambungan: selesai–lanjut, namun bukan sekadar berpindah, melainkan berpindah dengan kesungguhan yang bernilai.

Menariknya, pola Qur’ani ini beresonansi dengan temuan psikologi kognitif tentang Efek Zeigarnik—yakni kecenderungan pikiran untuk lebih mudah mengingat dan memikirkan tugas yang belum selesai dibanding yang sudah tuntas. Dalam kerangka ini, tugas yang “terbuka” menimbulkan tegangan kognitif (cognitive tension) yang membuatnya tetap berada di garis depan kesadaran, mendorong kita untuk kembali dan menyelesaikannya. Tegangan inilah yang, jika dikelola benar, menjadi bahan bakar fokus.

Bagaimana ayat dan efek psikologis ini saling memperkaya? Pertama, “fa idzā faraghta” mengajarkan disiplin menutup lingkaran. Menyelesaikan satu segmen kerja—bukan sekadar “merasa selesai”—menurunkan kebocoran perhatian yang disebabkan oleh banyaknya loop terbuka. Dengan penutupan yang jelas (apa yang dicapai, pelajaran inti, sisa risiko), tegangan kognitif yang tidak perlu menyusut sehingga kapasitas fokus untuk urusan berikutnya meningkat.

Kedua, “fanshab” menuntut intensitas terarah. Efek Zeigarnik kerap membuat kita terdorong “menyentuh semuanya” karena setiap loop memanggil perhatian. Di sinilah ayat menegaskan prioritas: bukan semua loop ditanggapi sekaligus, melainkan memusatkan energi pada satu urusan penting, menyelaminya sampai segmen kritisnya tuntas. Secara kognitif, ini menekan biaya pindah-tugas (switching cost) dan memaksimalkan daya dorong tegangan: ketegangan dari satu tugas dipakai memperdalam fokus, bukan menyebarkan diri.
Ketiga, “wa ilā rabbika farghab” merapikan motif dan standar. Tegangan kognitif dari tugas yang belum selesai bisa berubah menjadi kegelisahan dan ruminasi jika tidak ditopang makna. Orientasi ilahiah menstabilkan batin: kerja bukan sekadar meredakan tegangan, tetapi menghadirkan kualitas, kebermanfaatan, dan keadilan. Dalam praktik, ini menggeser motivasi dari “menutup loop demi ketenangan sesaat” menjadi “menuntaskan amanah demi nilai”—yang secara empiris cenderung meningkatkan ketekunan dan ketahanan.

Ada sisi gelap Efek Zeigarnik: terlalu banyak loop terbuka dapat menguras energi mental dan mengganggu pemulihan. Justru di sini kebijaksanaan ayat tampil: penutupan yang sadar pada tiap siklus, fokus yang disiplin pada urusan berikut, dan penyandaran niat kepada Allah. Kombinasi ini menata tegangan: sebagian ditekan melalui penutupan yang rapi, sebagian disalurkan menjadi dorongan fokus, dan sisanya diredam oleh makna serta tawakal yang menyejukkan.

Hasilnya adalah pola kerja yang elegan: tuntaslah dengan jelas, pusatkan energi pada berikutnya, dan jaga kompas nilai. Efek Zeigarnik memberi kita mesin dorong—tegangan yang mengingatkan. Al-Insyirah 7–8 memberi sistem transmisi—bagaimana dorongan itu diubah menjadi gerak maju yang berkesinambungan, terukur, dan bermakna. Ketika ritme ini menjadi kebiasaan, performa naik bukan karena kita bekerja lebih lama, melainkan karena kita mengelola perhatian lebih cerdas: setiap penyelesaian menjadi landasan fokus baru, dan setiap fokus ditautkan ke orientasi yang benar. Itulah mengapa dua ayat ini, selain menenangkan dada, juga merupakan tips produktivitas yang sangat efektif.

Komentar