Tradisi Pecat Menteri
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Selamat Datang di Negeri Paradoks dengan sebuah ekosistem harmonis tempat hukum dan etika bahkan moral bertekuk lutut di hadapan kehendak serta selera penguasa yang memiliki hak prerogativ secara absolut. Untuk ke sekian kalinya dalam sejarah kepemerintahan Negara Paradoks, sebuah tragedi kosmik menimpa kabinet : seorang menteri terpaksa didepak karena terbukti mengidap cacat mental bawaan bernama "kejujuran kronis.". Sebelumnya pada masa bos terdahulu sudah minimal empat menteri jujur dipecat secara sepihak tanpa teguran lisan disusul tertulis sesuai aturan ketenagakerjaan, akibat dianggap berbahaya membongkar keaiban di lingkaran teratas. Kejujuran dianggap amoral ! Jujur Kujur !
Pemecatan ini bukan bentuk kebencian, melainkan tindakan penyelamatan kepentingan penguasa . Mari kita bedah secara objektif mengapa menteri berbahaya memang sangat tidak kondusif jika dibiarkan berkeliaran di lingkungan pemerintahan:
- Bakat Alami Menghancurkan Suasana (Mood Ruangan). Di saat semua orang sedang asyik menikmati ilusi "semua baik-baik saja," menteri ini tiba-tiba datang membawa data realita tanpa filter. Ini sangat tidak sopan. Membawa data kemiskinan yang akurat ke ruang rapat mewah itu ibarat menyetel lagu pemakaman di pesta pernikahan atau sebaliknya. Merusak vibe dan bikin selera makan siang para pembesar lenyap seketika.
- Gagal Paham Fungsi Kertas "Kwitansi". Bagi menteri konvensional, anggaran adalah kanvas seni tempat mereka bebas melukis angka sesuka hati. Namun, menteri jujur ini punya obsesi aneh untuk mencocokkan apa yang tertulis dengan apa yang dibangun. Sikap kaku ini jelas menghambat kreativitas vendor, kontraktor, dan sepupu-sepupu jauh maupun dekat yang butuh modal usaha.
- Terlalu Miskin Kosmetik Politik. Penguasa sudah lelah mencitrakan kabinet ini sebagai "tim impian," tapi menteri satu ini malah hobi tampil apa adanya tanpa bedak retorika. Jika ditanya media tentang program yang gagal, dia langsung mengaku bersalah. Padahal, SOP dasar birokrasi sudah jelas: jika ada yang salah, salahkan cuaca, salahkan sistem lama, atau salahkan miskomunikasi. Jangan pernah mengakunya!
Akhir kata, mari kita ucapkan selamat kepada para menteri terpecat atas pembebasan tugas mereka. Tugas memimpin negeri ini terlalu berat jika harus ditambah beban moral bernama nurani. Lebih baik kursi empuk itu diserahkan kepada mereka yang punya keahlian khusus : ahli memijat ego alias menjilat atasan, ahli menyulap angka minus menjadi surplus, ahli tersenyum lebar di depan kamera sambil menyembunyikan bangkai gajah di dalam ruangan. Lagipula, buat apa memelihara menteri yang tegak lurus, jika yang labil goyang patah-patah jauh lebih tahu cara menyenangkan bahkan menyelamatkan tahta singgasana penguasa?

Komentar