Kamis, 04 Juni 2026 | 06:48
COMMUNITY

Jabatan Yang Menggoda dan Menjerumuskan

Jabatan Yang Menggoda dan Menjerumuskan
Ilustrasi

ASKARA - Ambisi terhadap pangkat, jabatan, dan kekuasaan sering kali melenakan manusia. Banyak yang rela mengorbankan nilai agama, melanggar batas moral, hingga merusak ukhuwah demi sebuah kursi. Padahal, pada akhirnya semua kedudukan itu akan hilang dan hanya menyisakan penyesalan. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar yang akan ditanya di hadapan Allah.

Pangkat, jabatan, dan kekuasaan adalah tiga kata yang kerap mengisi ruang hati manusia. Sejak dahulu, ia menjadi simbol kehormatan, prestise, dan sarana meraih kekuasaan atas orang lain. Namun betapa seringnya manusia lupa, bahwa apa yang dibanggakan itu hanyalah titipan sementara, bukan tujuan hakiki. Firman Allah ﷻ mengingatkan dalam Al-Qur’an:

﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Ayat ini menegaskan bahwa ambisi kekuasaan yang dilandasi kesombongan hanya akan membawa pada kerusakan. Sejarah memperlihatkan betapa banyak penguasa yang jatuh karena keserakahan, meski sebelumnya mereka dielu-elukan oleh rakyatnya. Semua kekuasaan itu pada akhirnya hanyalah fatamorgana yang menghilang ketika maut menjemput.

Rasulullah ﷺ juga memberi peringatan tegas tentang betapa beratnya tanggung jawab jabatan. Dalam hadis sahih, beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, ujungnya hanya penyesalan pada hari kiamat. Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita.” (HR. Bukhari no. 7148)

Hadis ini menggambarkan dua sisi kepemimpinan. Di satu sisi, ia tampak manis dan menggiurkan layaknya susu yang menyenangkan bayi. Tetapi di sisi lain, setelahnya terasa pahit, menyakitkan, bahkan bisa menyeret pada kehinaan di hadapan Allah.

Kekuasaan sering kali menjadi ujian besar. Betapa banyak orang yang semula shalih, namun ketika berada di kursi kekuasaan berubah menjadi lalai, tamak, bahkan menindas. Padahal Nabi ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»
“Tidaklah seorang hamba yang Allah jadikan pemimpin atas rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no. 142)

Betapa mengerikannya ancaman ini. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan untuk dibanggakan, tetapi amanah yang harus dijaga dengan penuh ketakwaan. Seorang pemimpin yang lalai, apalagi menipu rakyat, bukan hanya gagal di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

Sayangnya, banyak orang yang justru mengejar jabatan dengan segala cara. Mereka menghalalkan kecurangan, memupuk ambisi, bahkan tidak segan mengorbankan agama dan persaudaraan demi sebuah kursi. Padahal Rasulullah ﷺ melarang meminta jabatan. Ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah memohon agar diberi posisi kepemimpinan, Nabi menolak dengan sabda beliau:

«يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah. Sesungguhnya ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban di dalamnya.” (HR. Muslim no. 1825)

Hadis ini semakin menegaskan bahwa jabatan bukanlah lahan kemuliaan, tetapi medan ujian yang amat berat. Hanya orang yang benar-benar mampu menunaikan amanahnya dengan adil yang akan selamat. Itulah sebabnya para sahabat mulia sering kali menghindar dari jabatan, bukan malah mengejarnya.

Kita juga diingatkan bahwa setiap kekuasaan pasti berakhir. Tidak ada satu pun jabatan yang abadi. Fir’aun yang dulu begitu ditakuti, akhirnya binasa di lautan. Raja-raja besar berguguran dari tahtanya, sementara nama mereka hanya tinggal catatan sejarah. Maka renungkanlah firman Allah ﷻ:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Artinya, jabatan hanyalah salah satu bentuk ujian. Ketika ia membawa kebaikan dan dijalani dengan amanah, ia menjadi pahala. Tetapi bila ia dijalani dengan kezhaliman, ia akan menjadi sumber penyesalan.

Karena itu, bagi setiap orang yang diberi amanah kepemimpinan hendaknya merenung dalam-dalam. Apakah jabatan itu benar-benar dijadikan sebagai sarana ibadah dan pelayanan, atau sekadar alat memuaskan ambisi pribadi. Seorang pemimpin sejati bukanlah yang dielu-elukan karena pangkatnya, tetapi yang dicintai rakyatnya karena keadilan dan ketulusannya.

Nabi ﷺ menegaskan:

«إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا»
“Sesungguhnya orang-orang yang adil berada di sisi Allah di atas mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman, dan kedua tangan-Nya adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam segala yang mereka pimpin.” (HR. Muslim no. 1827)

Inilah janji kemuliaan bagi pemimpin yang adil. Sebaliknya, bagi yang berbuat dzalim, Rasulullah ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Hati-hatilah terhadap kezaliman, karena kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2578)

Maka jelaslah, pangkat dan jabatan hanyalah sarana ujian, bukan tujuan. Dunia ini fana, sedangkan akhirat abadi. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menyesal karena menjadikan kekuasaan sebagai berhala baru.

Semoga Allah ﷻ memberi hidayah kepada para pemimpin kita agar senantiasa berlaku adil dan amanah. Dan semoga kita semua pun senantiasa sadar bahwa setiap amanah, sekecil apapun, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar