Cerpen: Pulang dengan Sesal, Rahasia Tersimpan Rapi
ASKARA - Lima tahun merantau, lelaki itu kembali dengan wajah penuh penyesalan. Ransel hitam di punggungnya bukan hanya membawa pakaian usang, tapi juga luka kegagalan yang membekas. Ia menunduk dalam, menahan rasa malu ketika berdiri di depan rumah sederhana itu. Dalam hatinya, ia berharap waktu bisa diputar ulang, agar tak perlu pergi sejauh itu.
Ransel hitam itu jatuh di lantai ruang tamu, berdebu dan lusuh. Lelaki bernama Raka itu menatap lantai, tak berani mengangkat wajah. Di hadapannya berdiri Sinta, istrinya yang tengah hamil besar. Usia kandungan itu mungkin tujuh bulan. Perutnya menonjol jelas di balik daster biru muda yang sederhana.
“Maafkan aku dek... aku gagal di tanah rantau. Lima tahun aku pergi, hanya sia-sia,” ucap Raka dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, napasnya tercekat.
Sinta tersenyum tipis, meski ada sembilu yang tak terlihat di balik tatapan itu. Tangannya perlahan mengelus perutnya yang besar. “Gapapa mas... mau gimana lagi. Yang penting kamu pulang dengan selamat dan sehat.”
Kata-kata itu seperti obat sekaligus racun. Obat bagi Raka yang terhimpit rasa bersalah, tapi racun bagi Sinta yang berusaha menyembunyikan sesuatu. Di dalam dirinya, ada pergulatan batin yang tak pernah ia bayangkan lima tahun lalu ketika suaminya memutuskan pergi merantau.
Hening menguasai ruang tamu. Hanya suara ayam dari halaman dan tawa bocah tetangga yang bermain di kejauhan terdengar, seakan dunia luar tak peduli dengan badai yang ada di dalam rumah itu.
Raka hampir menangis. Ia menyadari betapa rumah ini, sekecil apapun, adalah harta yang paling berharga. Betapa pelukan istrinya lebih bernilai daripada gaji besar di rantau. Namun ia terlalu lama mengejar mimpi yang runtuh di tengah jalan.
“Dek...” Raka memberanikan diri angkat wajah. “Aku janji, aku akan menebus semuanya. Aku akan cari kerja di sini. Apa saja. Yang penting kamu dan anak kita tidak kekurangan.”
Sinta menunduk, bibirnya bergetar. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tertahan. Ia tahu setiap kata akan menjadi luka baru bagi Raka. Maka ia hanya mengangguk kecil, meski hatinya terasa perih.
Malam itu, Raka duduk di beranda. Rokoknya tinggal setengah, tangannya gemetar. Ia menatap langit gelap, mencari bintang yang tak terlihat. Lima tahun di tanah rantau hanya memberinya utang, luka, dan penyesalan.
Namun satu hal yang aneh merasukinya: kehamilan Sinta. Sebelum ia pergi, mereka memang mengharapkan momongan. Tapi selama bertahun-tahun, tak pernah ada kabar baik. Lalu kini, setelah lima tahun ia kembali dengan tangan hampa, Sinta sudah mengandung besar.
Logikanya berdesir. Tapi hatinya menepis. “Tidak mungkin Sinta mengkhianatiku. Tidak mungkin,” bisiknya pada diri sendiri.
Tetangga yang lewat menyapa. “Wah, Raka, akhirnya pulang juga ya? Selamat pulang, semoga bisa membangun keluarga lagi.” Senyum mereka ramah, tapi telinga Raka menangkap bisik-bisik lirih yang bersembunyi di balik sapaan hangat itu.
Malam semakin larut. Raka masuk ke kamar. Sinta sudah tertidur dengan napas teratur. Raka menatap wajah istrinya lama sekali, mencari jawaban yang tak pernah terucap.
Hari-hari berikutnya, Raka mulai bekerja serabutan. Ia ikut membantu di sawah tetangga, jadi kuli bangunan, apa saja. Peluhnya menetes, tubuhnya kembali terbakar matahari. Meski lelah, ia merasa hidupnya lebih berarti daripada lima tahun lalu ketika ia mengejar mimpi kosong.
Namun bisikan itu semakin keras: kandungan Sinta.
Kadang saat melihat perut istrinya yang makin besar, Raka ingin bertanya langsung. Tapi ia takut jawaban itu akan menghancurkan dirinya. Maka ia memilih diam, menelan rasa curiga dengan pahit.
Sinta pun merasakan kegelisahan yang sama. Ia tahu mata suaminya sering menatap aneh, penuh tanya. Tapi ia tak pernah ditanya langsung. Seolah keduanya sedang bermain sandiwara, menutupi luka masing-masing agar rumah itu tetap tegak berdiri.
Sampai akhirnya, hari kelahiran itu datang. Sinta dibawa ke bidan desa dengan terburu-buru. Raka menemaninya dengan hati campur aduk. Tangannya menggenggam tangan Sinta erat-erat, seolah ingin memegang sesuatu yang hampir lepas.
Jeritan Sinta pecah. Tangis bayi menyusul, nyaring menembus malam. Raka menunduk, air matanya jatuh deras. “Alhamdulillah...” bisiknya.
Namun ketika bidan menyerahkan bayi mungil itu kepadanya, Raka terpaku. Bayi itu berkulit putih pucat, matanya sipit, dan rambutnya cokelat terang. Tidak ada satu pun garis wajahnya yang menyerupai dirinya.
Hening membeku. Raka menatap bayi itu dengan wajah pucat. Sinta menangis, bukan karena sakit melahirkan, melainkan karena rahasia yang akhirnya terbuka.
“Mas... maafkan aku...” suara Sinta pecah.
Raka menatap istrinya. Dunia seakan runtuh sekali lagi. Semua kerja kerasnya, semua penyesalannya, semua harapan yang ia bawa pulang hancur seketika.
Bayi itu bukan darah dagingnya.
Di beranda rumah, malam itu Raka duduk sendirian. Rokok di tangannya padam tak tersulut. Ia menatap kosong ke arah sawah gelap. Dalam hatinya, ia berteriak keras, tapi bibirnya tetap diam.
Cerita yang ia ciptakan untuk dirinya runtuh total. Ia pulang dengan membawa sesal, tapi sesal itu ternyata bukan hanya tentang kegagalan di rantau. Ia pulang untuk menemukan rahasia yang disembunyikan rapat-rapat.
Dan kini, rumah yang ia anggap sebagai anugerah tak lagi sama. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar