Rabu, 17 Juni 2026 | 22:08
COMMUNITY

Mapala UI Tuntaskan Ekspedisi Satria Hutan Indonesia 2025 di Gunung Patah

Mapala UI Tuntaskan Ekspedisi Satria Hutan Indonesia 2025 di Gunung Patah
Ekspedisi Satria Hutan Indonesia 2025 di Gunung Patah (Dok Mapala UI)

ASKARA - Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) sukses menuntaskan Program Satria Hutan Indonesia (SHI) 2025 dengan pendakian selama 13 hari di Hutan Lindung Raja Mendara, kawasan Gunung Patah, Bengkulu, Sumatra Selatan. Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga riset ekologis dan penghayatan budaya lokal yang kental.

Gunung Patah, gunung berapi nonaktif setinggi 2.853 mdpl, menjadi lokasi ekspedisi karena kekayaan vegetasinya yang rapat dan alami. Berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), lebih dari 100 jenis tumbuhan hidup di kawasan ini. “Gunung Patah menyimpan kekayaan ekologi sekaligus lanskap geologis yang luar biasa, inilah alasan kami memilihnya,” kata Aldes Alfarizi, Ketua Mapala UI. Sebanyak 24 calon anggota dan 18 anggota Mapala UI berpartisipasi dalam ekspedisi dengan rute dari Desa Manau Sembilan II (Bengkulu) hingga jalur Kance Diwe (Sumatra Selatan).

Perjalanan dimulai 5 Agustus 2025 dengan tema “Kenali Hutan, Jaga Kehidupan”. Sebelum memasuki jalur pendakian, tim mengikuti ritual adat di makam puyang, leluhur yang dihormati warga Desa Manau Sembilan. Ritual yang dipimpin tetua desa, Haji Dul Samat, menjadi simbol penghormatan sekaligus doa keselamatan. “Setiap pendaki wajib meminta restu kepada puyang agar perjalanan diberkahi,” ujarnya.

Ekspedisi menghadirkan beragam tantangan: jalur sepanjang 45 kilometer yang basah, akar-akar liar, hujan lebat, hingga gangguan pacet dan lebah. Namun, keindahan alam membayar segala rintangan. Tim beruntung melihat Burung Rangkong, satwa langka yang menjadi indikator hutan sehat. Mereka juga menemukan susunan tulang besar di ketinggian 2.000 mdpl yang diduga tulang gajah, meski perlu verifikasi lebih lanjut karena habitat gajah umumnya di dataran rendah.

Keindahan lain terungkap di ketinggian 2.550 mdpl, di mana tim menemukan Danau Tumutan Tujuh, sumber mata air tujuh sungai yang dikelilingi hutan lumut. Tak jauh dari sana, mereka juga mengunjungi Kawah Purba, cekungan besar berkabut hijau yang menambah pesona Gunung Patah. Puncak sejati akhirnya dicapai pada 16 Agustus 2025, diwarnai upacara pengibaran Bendera Merah Putih menyambut HUT ke-80 RI. “Meski sederhana, upacara ini terasa sangat sakral setelah 12 hari pendakian,” ungkap Willy, salah satu anggota tim.

Awalnya tim berencana turun melalui jalur awal, namun keterbatasan logistik memaksa mereka memilih jalur alternatif Kance Diwe di Pagar Alam. Keputusan itu terbukti tepat meski jalur licin dan jarang dilalui pendaki. Tim akhirnya keluar hutan tepat 17 Agustus 2025, menutup perjalanan panjang yang meninggalkan kesan mendalam.

Program SHI 2025 menegaskan misi Mapala UI menjaga kelestarian alam dan budaya lokal. “Gunung Patah bukan hanya puncak, tetapi guru yang mengajarkan keberanian, penghormatan, dan kebijaksanaan,” tutur Aldes. Bagi Mapala UI, jejak 13 hari di rimba Bengkulu menjadi pengingat bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan.

 

 

Komentar