Kamis, 23 Juli 2026 | 04:06
Ruang Menulis

Cerpen: Ketika Kuasa Menjadi Virus Mematikan

Cerpen: Ketika Kuasa Menjadi Virus Mematikan
Ilustrasi

ASKARA - Di sebuah warung kopi sederhana, percakapan ringan berubah menjadi refleksi mendalam tentang penyakit kekuasaan. Virus enjoy the power kerap melumpuhkan jiwa seorang pemimpin, mengaburkan kepekaan, dan menyesatkannya dari amanah. Obrolan yang tampak sepele itu justru membuka tabir kelam tentang bagaimana kekuasaan bisa mengubah manusia hingga kehilangan dirinya sendiri.

Warung kopi di sudut jalan kecil itu tidak pernah sepi. Asap rokok menari di udara, bercampur dengan aroma kopi tubruk yang kental. Bangku kayu reyot dan meja dengan noda hitam bekas cangkir seolah menjadi saksi dari setiap percakapan yang lahir di sana. Malam itu, tiga orang lelaki duduk melingkar: Jaya, Rendra, dan seorang lelaki paruh baya bernama Damar.

“Pernah kau dengar istilah virus enjoy the power?” tanya Damar sembari menyeruput kopi panasnya. Tatapannya menerawang, seolah ia sedang mengingat sesuatu yang berat.

Jaya mengernyit. “Virus? Maksudmu penyakit, Pak?”

“Lebih mematikan dari penyakit jasmani,” jawab Damar tenang. “Ia merusak hati, menumpulkan rasa, dan menutup telinga dari suara rakyat.”

Rendra tertawa kecil, “Ah, itu cuma teori politik. Mana ada pemimpin yang rela tuli terhadap rakyatnya? Bukankah mereka dipilih untuk melayani?”

Damar tersenyum getir. “Kalian terlalu muda. Aku sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saat seseorang terlalu menikmati kursi kekuasaan, ia lupa bahwa itu hanya titipan. Ia jadi tuli, buta, bahkan mudah marah bila sedikit saja terusik.”

Malam semakin larut. Suara motor lalu-lalang di jalanan sepi menambah keheningan percakapan mereka. Damar mulai bercerita, bukan lagi dengan nada mengajar, melainkan seakan menumpahkan rahasia lama.

Dulu, bertahun-tahun lalu, ada seorang pemimpin yang sangat dicintai rakyat. Namanya harum karena perjuangannya yang panjang. Ia datang dari kalangan sederhana, berjanji membawa perubahan. Orang-orang menaruh harapan besar padanya. Ia naik dengan darah, keringat, bahkan air mata. Namun, ketika tahta itu sudah dalam genggamannya, perlahan ia berubah.

Ia mulai sulit ditemui, jarang mendengar keluhan rakyat. Aspirasi masyarakat hanya dianggap angin lalu. Ia seakan berada di dunia sendiri, sibuk dengan mimpi-mimpi besarnya yang jauh dari kenyataan. Rakyat berteriak, tapi ia tuli. Rakyat mengulurkan tangan, tapi ia buta. Sedikit kritik membuatnya murka, dan setiap kegagalan selalu ditimpakan pada bawahan.

Orang-orang di sekitarnya pun tak kalah berbahaya. Mereka tampak setia, militan di depan, namun pragmatis di belakang. Ketika sang pemimpin berada di puncak, mereka mengangkatnya setinggi langit. Tapi ketika kekuasaannya mulai goyah, mereka yang sama-lah yang lebih dulu berkhianat. Bermain dua kaki, mengamankan posisi, dan berpaling pada siapa pun yang lebih berkuasa.

“Begitulah,” lanjut Damar, menatap kosong ke arah cangkir. “Amanah berubah jadi pengkhianatan. Kepemimpinan jadi otoritarianisme. Dan rakyat yang dulu menaruh harapan, kini menanggung beban.”

Jaya terdiam. Kata-kata itu menusuk pikirannya. Rendra, yang tadinya skeptis, kini hanya bisa menghela napas panjang.

“Jadi, menurutmu penyakit itu bisa disembuhkan?” tanya Jaya akhirnya.

Damar menatapnya tajam. “Hanya dengan satu cara: kesadaran diri. Pemimpin harus selalu ingat bahwa kuasa bukan warisan, bukan pula hak milik. Ia rahmat Tuhan, titipan yang kelak akan ditanya.”

Waktu berjalan. Warung kopi itu semakin sepi. Lampu kuning meredup. Namun, percakapan malam itu terus terngiang di kepala Jaya. Ia pulang dengan hati yang resah. Kata-kata Damar tentang ‘virus kekuasaan’ seakan menempel di telinganya.

Keesokan harinya, berita besar meledak. Seorang pejabat tinggi negara ditangkap karena dugaan penyalahgunaan wewenang. Wajahnya memenuhi layar televisi, senyum lebar ketika digiring aparat. Rakyat heboh, media gempar. Dan Jaya terpaku. Ia mengenali wajah itu.

Wajah itu adalah Damar.

Bingkai cerita pun runtuh dalam sekejap. Obrolan di warung kopi bukan sekadar refleksi seorang bijak yang menasihati anak muda. Ternyata, Damar sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Ia adalah sang pemimpin yang pernah jatuh dalam jeratan virus enjoy the power. Malam itu, ia bukan sedang memberi nasihat, melainkan mengaku dengan cara terselubung.

Dan lebih mengejutkan lagi, ketika aparat mengumumkan bahwa Damar bukan sekadar pejabat yang terlena oleh kuasa, tetapi juga otak di balik lingkaran pengkhianat yang selama ini ia kritik. Ia bukan hanya korban virus, melainkan juga penyebarnya.

Jaya duduk terdiam di depan televisi, mengingat kembali tatapan mata Damar yang malam itu terasa dalam. Kini ia sadar, tatapan itu bukan sekadar renungan, melainkan sisa rasa bersalah yang belum sempat ditebus.

Virus enjoy the power ternyata tidak hanya cerita. Ia nyata, menular, dan bisa mengubah seorang pemimpin dari harapan menjadi bencana.

Dan ironinya, Damar-lah bukti paling nyata. +Dwi Taufan Hidayat)

Komentar