Rabu, 22 Juli 2026 | 03:06
NEWS

Nanoteknologi Dorong Nelayan Indonesia Masuki Era Baru Perikanan Modern

Nanoteknologi Dorong Nelayan Indonesia Masuki Era Baru Perikanan Modern
Suasana diskusi Nanoteknologi Indonesia (Dok Askara)

ASKARA - Potensi kelautan Indonesia yang begitu besar belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi nelayan. Persoalan klasik yang terus berulang dari Sabang hingga Merauke adalah bagaimana menjaga kesegaran ikan hasil tangkap agar tetap bernilai tinggi saat sampai ke konsumen.

Masalah inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam diskusi bersama PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NIG) dan PT Mitra Nelayan Sejahtera (MNS), Selasa (3/9). Diskusi tersebut menghadirkan Chairman PT Nanotech Indonesia Global Tbk Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman M.Eng, VP NIG Sunendar, Komisaris Utama MNS M. Faisal Badroen, dan Komisaris MNS Erhanantyo. Hadir pula S. Christmas P (CEO El Rose Brothers), Iwan Suprayogi (CEO Parama Bhumi Nusantara), Henggar Trilaksono (Direktur PT Techno Mesin Indonesia), serta Saldy Kurniawan (Direktur Marketing PT Techno Mesin Indonesia).

Direktur Utama PT Mitra Nelayan Sejahtera, M. Faisal Badroen, menegaskan pentingnya peran nelayan sebagai tulang punggung ekosistem maritim. “Kami ingin nelayan tidak lagi terjebak menjual hasil tangkapan dengan harga murah hanya karena takut kualitas ikan turun. Melalui program kemitraan, kami membuka akses logistik, distribusi, hingga pendanaan yang lebih adil bagi nelayan,” ujarnya.

Namun, jaringan distribusi yang baik saja tidak cukup jika kualitas ikan cepat menurun. Untuk itu, Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, Chairman NIG, memaparkan terobosan teknologi nano yang dikembangkan perusahaannya. “Nanoteknologi memungkinkan kadar oksigen terlarut dalam air penyimpanan menurun, proses oksidasi melambat, dan kesegaran ikan terjaga hingga beberapa kali lipat lebih lama. Ini sederhana dalam penerapan, tapi revolusioner dampaknya bagi industri perikanan,” jelasnya.

Senada, Sunendar, VP NIG, menambahkan bahwa teknologi ini juga mendukung penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk sektor perikanan. “Kalau kesegaran ikan bisa terjaga hingga sepuluh hari, maka produk perikanan dapat dijadikan jaminan yang diakui lembaga keuangan maupun perusahaan asuransi. Ini membuka pintu pembiayaan lebih luas bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan,” katanya.

Sementara itu, Erhanantyo, Komisaris MNS, menekankan pentingnya ekosistem yang terintegrasi. “Nelayan harus merasakan harga yang lebih adil, pengusaha mendapat kepastian pasokan, lembaga keuangan punya dasar kuat untuk menyalurkan pembiayaan, dan logistik bisa berperan strategis. Semua pihak terhubung dalam satu rantai pasok yang sehat,” ujarnya.

Diskusi juga diwarnai dukungan dari para pelaku industri yang hadir. S. Christmas P, CEO El Rose Brothers, menilai langkah ini akan memperkuat daya saing ekspor. “Pasar internasional semakin ketat soal standar mutu dan traceability. Dengan teknologi ini, produk perikanan Indonesia bisa lebih kompetitif di mata dunia,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan Iwan Suprayogi, CEO Parama Bhumi Nusantara. Ia menilai sinergi teknologi, bisnis, dan keuangan ini sebagai lompatan strategis. “Ini bukan hanya soal nelayan, tapi juga kemandirian ekonomi maritim Indonesia,” ucapnya.

Dari sisi dukungan industri, Henggar Trilaksono, Direktur PT Techno Mesin Indonesia, menegaskan kesiapan perusahaannya menyediakan perangkat pendukung. “Kami siap memperkuat rantai pasok dengan mesin dan teknologi penyimpanan yang sesuai standar internasional,” katanya.

Sedangkan Saldy Kurniawan, Direktur Marketing PT Techno Mesin Indonesia, menyoroti peluang pasar yang terbuka. “Teknologi ini akan menciptakan ekosistem baru, di mana logistik bukan lagi sekadar gudang penyimpanan, tapi instrumen finansial strategis,” ujarnya.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa dengan sinergi nanoteknologi, kemitraan bisnis, serta dukungan keuangan dan logistik, industri perikanan Indonesia siap memasuki era baru. Nelayan mendapatkan kesejahteraan lebih baik, pengusaha lebih efisien, konsumen menikmati produk lebih segar, dan Indonesia semakin diperhitungkan di pasar global.

 

 

Komentar