Dari Jalanan ke Singgasana, Lalu Jatuh
ASKARA - Di negeri yang tak pernah kehabisan drama kekuasaan, kita kembali menyaksikan sebuah kisah ironis. Sosok yang dulu dielu-elukan sebagai pejuang rakyat, kini menjadi tokoh utama dalam sandiwara busuk bernama korupsi. Dia pernah berteriak soal reformasi, tapi akhirnya terperosok ke jurang yang dulu ia sumpahi.
Hujan rintik mengguyur halaman gedung pengadilan pagi itu. Di antara sorotan kamera dan tatapan wartawan, seorang pria berjas abu-abu melangkah gontai dengan borgol di tangan. Wajahnya yang dulu dipuja mahasiswa kini tampak layu. Dialah Bima Satriya, mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, kini menjadi pesakitan dalam kasus pemerasan proyek.
Kamera menyorotnya tanpa ampun. Flashes menyilaukan, seakan memaku setiap langkahnya. Dari kejauhan, terdengar jerit kecil seorang perempuan mungkin istrinya yang tak kuasa menahan air mata. Bima hanya menunduk, menatap genangan air hujan di aspal, seolah mencari jawaban atas semua kebodohannya.
Dua puluh tahun silam, di sebuah kampus di Jakarta, nama Bima harum di telinga mahasiswa. Ia orator ulung, selalu berdiri di atas mobil pick-up sambil menggenggam megafon.
"Reformasi atau mati!" teriaknya kala itu, membuat massa bertepuk tangan dan polisi siaga.
Ia bukan sekadar tukang teriak. Ia pemimpin gerakan. Ia pernah dikejar gas air mata, pernah merasakan dinginnya sel tahanan karena aksi demonstrasi. Bima muda adalah simbol perlawanan. Teman-temannya percaya, suatu saat ia akan jadi pemimpin yang bersih, teguh, dan jujur.
Tapi siapa sangka, jalan panjang reformasi malah mengantarnya ke jalan buntu moralitas.
Ketika rezim baru lahir, Bima masuk lingkaran politik. Awalnya, ia jadi staf ahli. Kemudian, berkat keberaniannya bersuara, ia digandeng partai besar. Dari sana, kariernya melesat bak roket. Ia menjadi juru bicara, lalu anggota DPR. Ujungnya, kursi Wakil Menteri Ketenagakerjaan menantinya.
Hari pelantikannya disiarkan langsung di televisi. Bima, dengan senyum lebar, mengucap sumpah jabatan di hadapan Presiden.
"Demi Allah, saya akan menjunjung tinggi integritas..." suaranya bergetar penuh percaya diri.
Tapi entah sejak kapan integritasnya mulai retak. Godaan datang begitu ia duduk di kursi empuk kementerian. Telepon genggamnya tak pernah sepi. Ada pengusaha yang menawarkan proyek, ada kontraktor yang menjanjikan fee besar.
Awalnya, ia menolak. Tapi, seperti permen yang lama-lama meleleh di mulut, prinsipnya pun lumer oleh manisnya kekuasaan.
"Mas Bima, ini peluang besar. Cuma tanda tangan, nggak akan ada yang tahu..." bisik seorang pejabat bawahannya suatu malam di sebuah kafe mewah.
Bima diam. Tatapannya menerawang, mengingat masa lalu ketika ia berteriak di jalan: "Ganyang korupsi! Hancurkan mafia proyek!" Tapi ia juga teringat tagihan sekolah anaknya di luar negeri, istrinya yang mulai terbiasa belanja barang branded, dan gaya hidup barunya.
Ia tersenyum tipis. "Berapa nominalnya?" tanyanya datar.
"Seratus miliar, Mas," jawab sang bawahan.
Diam sejenak. Lalu Bima mengangguk. "Pastikan rapi."
Setelah itu, semuanya mengalir seperti sungai deras: proyek pelatihan tenaga kerja, pengadaan barang, perjalanan dinas fiktif. Dalam hitungan bulan, rekening Bima membengkak. Mobil barunya berderet di garasi. Rumahnya berubah bagai istana kecil.
Namun, seperti pepatah lama, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.
Pagi itu, Komisi Pemberantasan Korupsi bergerak cepat. Operasi Tangkap Tangan (OTT) berlangsung di sebuah hotel bintang lima. Bima yang tengah menerima koper berisi uang kontan tak sempat kabur. Ia dicokok bersama dua pengusaha. Berita itu langsung meledak di media: "Wakil Menteri Terciduk KPK!"
Ironis. Bima, yang dulu berdiri gagah melawan korupsi, kini menjadi wajah korupsi itu sendiri.
Hari sidang pertama. Ruang sidang Pengadilan Tipikor penuh sesak. Wartawan menjejali setiap sudut, mikrofon berderet di meja jaksa. Lampu kamera menyala, panas. Semua mata tertuju pada satu sosok: Bima Satriya.
Ketua majelis hakim membuka sidang dengan suara tegas:
"Saudara Bima Satriya, apakah Saudara siap memberikan keterangan?"
Bima menegakkan punggungnya, menarik napas panjang. "Siap, Yang Mulia."
Jaksa mulai membacakan dakwaan. Suaranya kaku, monoton, tapi setiap kata seperti pisau yang menusuk: pemerasan, gratifikasi, suap, kerugian negara.
Bima diam. Sesekali ia menatap sekeliling. Ada raut puas di wajah beberapa pejabat yang duduk di kursi pengunjung. Orang-orang yang dulu memujanya kini menatap dengan sinis. Beberapa mantan koleganya bahkan tersenyum miring, seolah berkata: "Habis sudah kau."
Namun, Bima bukan orang bodoh. Ia punya kartu truf.
Ketika hakim memberi kesempatan untuk pembelaan, Bima berdiri. Semua kamera menyorot. Suaranya tenang, tapi matanya tajam menusuk setiap orang yang hadir.
"Yang Mulia, izinkan saya berbicara bukan hanya untuk membela diri, tapi untuk membuka kebenaran. Selama ini saya dianggap serigala. Baiklah. Tapi serigala ini tidak sendirian di hutan. Ada kawanan yang jauh lebih buas."
Ruang sidang mendadak riuh. Hakim mengetuk palu, meminta tenang.
Bima melanjutkan, nadanya semakin menusuk.
"Saya bukan satu-satunya yang menikmati uang ini. Ada nama-nama besar. Ada pejabat yang duduk di kursi kekuasaan sekarang. Ada politisi yang kalian cintai. Saya punya semua bukti. Rekaman. Transfer. Semua."
Seorang pejabat yang duduk di barisan belakang tampak pucat. Jaksa melirik cemas. Wartawan mulai mengetik gila-gilaan.
Hakim mencondongkan tubuh. "Saudara Bima, apakah Anda sedang mengancam pengadilan?"
Bima tersenyum tipis. "Tidak, Yang Mulia. Saya hanya ingin semua tahu, bahwa hutan ini penuh serigala. Dan jika saya harus jatuh, saya akan menarik banyak yang ikut jatuh."
Tatapannya berkeliling. Sebentar menatap pejabat yang kini menelan ludah, sebentar menatap kamera televisi. Senyumnya melebar, seakan ia masih punya panggung terakhir.
"Kalian kira aku jatuh sendirian?" bisiknya, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk banyak orang berdiri.
Di luar gedung, berita pun pecah:
"Bima Satriya Siap Bongkar Jaringan Rente Politik Nasional."
Drama ini belum berakhir. Bahkan, baru saja dimulai. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar