Rabu, 17 Juni 2026 | 22:42
Ruang Menulis

Dibalik Tembok Istana: Tuhan Maha Tahu, Tapi Presiden Harus Diberitahu

Dibalik Tembok Istana: Tuhan Maha Tahu, Tapi Presiden Harus Diberitahu
Paspampres mengawal Presiden (IG Paspampres)

ASKARA - 14 tahun lalu, Istana Kepresiden bukan sekadar simbol kekuasaan. Di dalam tembok putihnya yang tebal, ada disiplin tanpa jeda. ada doa-doa yang dipanjatkan dalam hening, dan ada cerita-cerita kecil yang tak pernah sampai keluar pagar.

Bagi mereka yang bekerja di dalamnya menjaga Presiden adalah tugas suci - amanah yang menuntut kesetiaan tanpa syarat dan kewaspadaan tanpa putus. 

Tapi bagaimana jika tugas menjaga kepala negara bersinggungan dengan panggilan Tuhan.

Sore itu, hujan baru saja reda di Jakarta. Udara, lembab menyelinap di antara lorong-lorong istana yang lengang.  Waktu Maghrib hampir masuk.

Di sebuah sudut istana, di ruang kecil yang biasa digunakan untuk shalat, beberapa anggota Paspampres bersiap menunaikan ibadah. 

Barusan terbentuk rapi. Di depan, komandan Paspampres sendiri berdiri sebagai Imam. Wajahnya tegas, suaranya datar. 

Di pundaknya terselip sebuah radio komunikasi kecil - hitam legam dengan antena melengkung. 

Frekuensi itu adalah nadi yang menghubungkan dirinya dengan pusat komando pengamanan Presiden.

Tidak ada yang berani mematikan radio itu. Di Istana, bahkan dalam ibadah, kewaspadaan tidak pernah turun.

Rakaat pertama berjalan tenang. Bacaan Al-fatihah mengalun pelan, menyatu dengan desir angin sore yang merayap di lantai marmer. 

Tapi di sela-sela ayat suci itu, suara gesekan halus terdengar dari radio di pundak sang komandan. Hanya suara kecil. Hampir tidak ada yang memperhatikan.

Ketika rakaat kedua dimulai, suara itu datang lagi - kali ini lebih tegas. "Bromo...Bromo Keris Panggil."

Barisan tetap kokoh. Mungkin hanya beberapa orang yang tahu arti panggilan itu. Bromo adalah kode panggilan untuk Danpaspampres. Keris adalah kode untuk ADC Presiden.

Dalam protokol pengamanan jika ADC memanggil, itu berarti ada situasi yang perlu perhatian. Tapi jika tidak ada jawaban, panggilan itu hanya akan diulang... dan diulang...sampai diterima.

Radio masih berderak pela. "Bromo, Bromo... Kresna Panggil." Kresna itu kode panggilan tertinggi. Itu berarti presiden sendiri yang memanggil.

Di depan,  bacaan Al-fatihah seketika terputus. Danpaspampres menahan nafas. 

Dalam hitungan detik, ia harus memilih menyelesaikan rakaat atau menjawab panggilan?

Tanpa ragu, ia melangkah ke belakang. Barisan shalat sedikit goyah. Namun seorang makmum di belakangnya sigap menggantikan posisi imam. Shalat tetap harus dilanjutkan.

Di ruang kerja Istana, Presiden sedang memegang koran sore. Beliau menunggu laporan kecil, mungkin soal jadwal besok atau perkembangan politik terkini.

Ketika Danpaspampres masuk, wajahnya masih menyimpan sisa tegang.

Presiden menatap sejenak. "Kamu tadi sedang shalat ya?"

Pertanyaan itu seperti sengaja ditekan dengan nada rendah. 

"Siap benar, pak." Presiden tersenyum tipis. Jawaban itu sudah ia juga.

Sambil melipat koran.l, beliau berkata pelan: "Tuhan Maha Tahu, tapi Presiden harus diberitahu."

Kalimat itu meluncur ringan, tapi menyimpan pemahaman mendalam tentang keseimbangan antara spiritualitas dan tugas negara.

Tidak ada teguran. Tidak ada rasa bersalah. Hanya pengertian bahwa ibadah tidak selalu tentang menyelesaikan rakaat, tapi tentang menjaga amanah dengan setia.

Malam itu, cerita kecil ini menyebar di kalangan staf istana. Kami semua mentertawakan - tawa yang ringan tapi penuh hormat.

Ada pelajaran diam-diam yang kami pahami malam itu.

Di istana, ibadah bisa berarti banyak hal. Kadang ibadah adalah meluruskan shaf. Kadang ibadah adalah menjawab panggilan frekuensi.

Keesokan harinya saat makan siang bersama, salah satu staf pribadi kembali menceritakan kita ini di hadapan presiden dan ibu negara presiden.

Presiden tertawa kecil sambil meneguk teh hangat.

Namun sebelum cerita selesai, beliau menambahkan satu kalimat yang langsung menjadi pegangan lingkungan istana:

"Selalu siaga dalam bertugas, itu juga bagian dari ibadah. Yang penting setelah menghadap Presiden, shalat jangan ditinggalkan. Dan kali ini,  jika ada anggota Paspampres yang dipanggil sedang shalat, petugas piket agar memberitahu saya di radio."

Kalimat itu menjadi semacam fatwa tidak tertulis di Istana.

Sejak saat itu, setiap anggota Paspampres yang sedang beribadah selalu menjadi dua frekuensi: satu untuk Tuhan, satu lagi untuk negara.

Sebagai renungan, di balik segala protokol dan pengamanan, Istana adalah tempat dimana nilai-nilai spiritual tetap hidup.

Kesetiaan kepada negara tidak pernah berarti meninggalkan ibadah, dan kewaspadaan dalam tugas tidak pernah berarti melupakan Tuhan.

Di antara rakaat yang telah selesai, ada pengorbanan kecil yang tak pernah terlihat. Di antara frekuensi yang tak pernah mati, ada doa-doa yang tetap diam-diam mengalun.

Itulah ibadah yang paling sunyi. Dan barangkali yang paling mulia.

(Dikutip dari akun TikTok @Iftitahsulaiman)

Komentar