Rabu, 22 Juli 2026 | 04:19
Ruang Menulis

Cerpen: Lomba 17 Agustus Paling Absurd Sepanjang Sejarah

Cerpen: Lomba 17 Agustus Paling Absurd Sepanjang Sejarah
Ilustrasi

ASKARA - Setiap tahun 17 Agustus, kampung kami selalu mengadakan lomba. Biasanya lomba makan kerupuk, balap karung, atau tarik tambang. Tapi tahun 2025 ini, entah siapa yang jadi panitia, daftar lombanya bikin semua warga antara ngakak, nyesek, dan curiga ini bukan lomba merdeka, tapi lomba menguji mental rakyat.

Pagi itu lapangan kampung sudah penuh. Spanduk besar bertuliskan “Daftar Lomba 17 Agustus 2025” terpasang megah, tapi isinya bikin orang garuk kepala sambil ketawa getir. Lomba pertama: Lari Dari Kenyataan. Pesertanya para jomblo, mantan pejuang cinta, sampai bapak-bapak yang tiap bulan kaget lihat tagihan listrik. Start dimulai, mereka semua lari sekencang mungkin ke arah mana saja syaratnya: jangan ada yang balik ke rumah dulu, biar benar-benar lepas dari kenyataan. Ada yang langsung nyemplung sungai, ada yang masuk warung es teh dan nggak keluar-keluar.

Lomba kedua: Tarik Ulur Perasaan. Ini agak unik. Dua orang dipasangkan, biasanya mantan atau gebetan gagal. Mereka disuruh tarik tambang, tapi setiap kali tambangnya maju mundur, MC wajib memberi narasi seperti sinetron: “Kamu dulu bilang sayang, kok sekarang ghosting?” atau “Jangan pergi, aku masih cinta!”. Penonton malah baper berjamaah.

Lomba ketiga: Banyak-banyakan Hutang. Ini sebenarnya cuma lomba nyebutin semua hutang yang pernah dipunya. Ada yang nyebut cicilan motor, ada yang nyebut pinjaman ke tetangga, ada yang curhat utang ke mantan yang sudah menikah. Pemenangnya? Pak RT, karena hutangnya bukan cuma ke koperasi, tapi juga ke semua warung di kampung.

Lomba keempat: Boros-borosan Uang. Setiap peserta dikasih uang seratus ribu, lalu disuruh habiskan secepat mungkin. Ada yang beli gorengan buat satu RT, ada yang beli token listrik cuma 10 ribu tapi beli kopi kekinian 90 ribu. Ada juga yang beli sendal kanan saja, katanya biar nanti beli kirinya bulan depan.

Lomba kelima: Adu Pusing dan Stres. Ini diadakan di pos ronda. Peserta duduk melingkar sambil mendengarkan MC baca berita kenaikan harga sembako, biaya sekolah, dan tarif listrik. Yang paling cepat pegang kepala sambil bilang “Astaghfirullah” dianggap menang. Banyak yang langsung ikut lomba ini tanpa daftar karena otomatis stres.

Lomba keenam: Lari Dari Pinjol. Pesertanya diwajibkan membawa HP masing-masing. Begitu MC bilang mulai, nomor mereka dihubungi oleh nomor tak dikenal. Yang paling cepat lari keluar lapangan sambil mematikan HP, dialah pemenangnya. Ada satu orang yang malah teriak, “Tenang, ini nomor saya sudah ganti!”

Lomba ketujuh: Kecil-kecilan Gaji. Peserta cuma disuruh buka slip gaji masing-masing. Yang paling kecil angkanya, dialah pemenang. Panitia sempat bingung karena ada yang mengaku gajinya minus gara-gara potongan utang kantor. Itu langsung auto juara satu tanpa protes.

Lomba kedelapan: Bertahan Hidup Sampai Akhir Tahun. Ini lomba paling berat. Peserta duduk di kursi, lalu diberi dompet isi 50 ribu. Panitia bilang, “Ini modal kalian sampai Desember.” Reaksi peserta bervariasi: ada yang ketawa, ada yang nangis, ada yang langsung pamit jual ginjal online.

Sepanjang acara, tawa dan komentar nyeleneh warga nggak berhenti. Ibu-ibu PKK sibuk live di Facebook sambil komentar, “Bener banget ini lombanya sesuai kehidupan nyata!” Anak-anak bingung, mereka pikir lomba kemerdekaan itu selalu seru, bukan bikin orang curhat.

Saya sendiri awalnya cuma mau jadi penonton. Tapi saat MC teriak, “Kita butuh satu peserta lagi untuk lomba terakhir!” semua orang menatap saya. Mau nolak nggak enak, akhirnya saya duduk di kursi peserta lomba Bertahan Hidup. Panitia kasih dompet isi 50 ribu.

Hari itu acara selesai, semua pulang dengan perasaan campur aduk antara senang dan teringat masalah masing-masing. Saya pulang bawa dompet lomba tadi. Pas sampai rumah, iseng buka dompetnya lagi. Isinya bukan cuma uang, tapi ada secarik kertas bertuliskan: “Selamat, kamu terpilih sebagai ketua panitia lomba 17 Agustus tahun depan. Semua ide lomba wajib kamu buat.”

Di bawahnya ada tulisan kecil: “P.S: Semua hutang panitia sebelumnya otomatis diwariskan ke kamu.”

Dan di situ saya sadar… lomba paling sulit ternyata belum dimulai. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar