Rabu, 17 Juni 2026 | 16:51
Editorial

Logika Beku Dalam Membekukan Rekening

Logika Beku Dalam Membekukan Rekening
Ilustrasi rekening diblokir (freepik)

ASKARA - Lucu sekaligus miris ketika mendengar kabar ada rekening bank dibekukan karena dianggap “menganggur” lalu disebut disalahgunakan untuk judi online. Kalau memang benar dipakai untuk judi online, berarti rekening itu justru aktif bahkan mungkin hiperaktif. Ini seperti menuduh sepeda motor mogok karena terlalu rajin dipakai ojek online.

Alasan ini bukan sekadar janggal, tapi sudah masuk level membengkokkan akal sehat. Kita bicara soal lembaga seperti PPATK dan pihak perbankan, yang konon punya teknologi mutakhir untuk mendeteksi transaksi mencurigakan. Tapi ketika memberi penjelasan, logikanya tersandung batu kecil. Bagaimana mungkin sebuah rekening “menganggur” tapi dalam waktu yang sama “aktif” dipakai untuk transaksi? Itu ibarat mengklaim seseorang sedang tidur nyenyak sambil sprint 100 meter.

Kalau memang rekening itu dipakai untuk judol, jelas ada aliran dana masuk dan keluar, ada aktivitas rutin, bahkan bisa jadi lebih sering berdenyut daripada mesin ATM di pusat perbelanjaan. Menganggur? Maaf, itu istilah yang tidak pantas untuk rekening yang sibuk melayani transfer ke sana-sini.

Analogi sederhananya: ada warung yang katanya tutup permanen, tapi tiap malam lampunya nyala, antrean pembeli sampai ke gang sebelah, dan kasirnya kewalahan mencetak struk. Lalu tiba-tiba ada pengumuman, “Warung ini kami tutup karena menganggur.” Apakah publik diharapkan pura-pura buta terhadap antrean dan struk yang berserakan?

Masalahnya bukan hanya di bahasa, tapi di niat “membungkus” alasan supaya terdengar enteng. Padahal, publik lebih bisa menerima kalimat lugas: “Rekening dibekukan karena dipakai untuk transaksi ilegal.” Selesai. Tidak perlu meminjam kata “menganggur” yang maknanya berlawanan total dengan fakta di lapangan.

Dan yang lebih lucu lagi, kalau bicara soal praktik judol di level pemain, hampir semua transaksinya memakai e-wallet atau bahkan pulsa. Rekening bank jarang sekali dipakai kecuali di level bandar. Jadi ketika ada berita rekening pemain dibekukan dengan alasan menganggur tapi dipakai untuk judol, logika publik langsung bertanya: “Lho, bukannya pemain jarang pakai rekening? Kalau ada rekening yang dipakai untuk judol, besar kemungkinan itu rekening bandar. Beranikah PPATK membekukan rekening bandar yang dibekingi aparat berbintang?”

Pertanyaan ini penting, karena publik sering melihat fenomena “tebang pilih” dalam penegakan hukum. Pemain receh dikejar sampai ke ujung kampung, sementara aktor besar entah menguap ke mana. Sama seperti menilang sepeda yang melawan arus tapi membiarkan truk tronton melaju di jalur pejalan kaki.

Dan mari jujur, publik itu tidak bodoh. Mereka tahu membedakan mesin mati dan mesin hidup, warung sepi dan warung ramai, rekening tidur dan rekening yang sibuk. Mereka tahu, kalau saldo rekening bergerak tiap hari, apalagi untuk transfer ke banyak tujuan, itu bukan menganggur itu lembur. Bahkan mungkin kerja shift siang dan malam.

Kenapa alasan “menganggur” masih dipakai? Ada dua kemungkinan: pertama, miskomunikasi fatal antara tim teknis dan tim humas. Kedua, ini sekadar bahasa halus untuk menghindari menyebut “judol” secara terang-terangan. Sayangnya, bahasa halus yang salah tempat justru mengundang tawa. Seperti mengumumkan “jembatan ditutup karena sepi” padahal orang baru saja terjebak macet di atasnya.

Padahal publik tidak minta banyak. Mereka cuma ingin alasan yang jujur, konsisten, dan tidak menodai akal sehat. Karena ketika bahasa dipelintir untuk membungkus realitas, yang rusak bukan hanya kredibilitas lembaga, tapi juga kepercayaan masyarakat.

Di era media sosial, satu alasan yang terdengar konyol bisa berubah jadi bahan meme dalam hitungan jam. Dan sekali sudah jadi bahan tertawaan, mengembalikan wibawa jauh lebih sulit. Itulah mengapa komunikasi publik butuh uji logika sebelum dilontarkan. Kalau logika tidak lulus, lebih baik diam dulu daripada memancing komentar: “Lho, kok alasannya kayak gini?”

Kalau mau memberantas judol, fokuslah ke jantung masalahnya. Jangan cuma memotong ranting dan membiarkan batangnya berdiri tegak. Dan kalau memang ada rekening bandar yang sibuk bekerja 24 jam, dibanjiri dana, dan dibekingi oleh “tembok” bintang-bintang, ya beranikan diri membekukannya. Kalau tidak, jangan heran kalau publik melihat pembekuan rekening pemain receh sebagai sekadar formalitas pencitraan.

Karena ujung-ujungnya, publik akan membuat kesimpulan sendiri. Dan percayalah, kesimpulan publik jauh lebih sulit dibekukan daripada rekening bank. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar