Rabu, 12 Agustus 2026 | 02:00
Editorial

Agustus Bulan Ketakutan atau Bulan Kemerdekaan?

Agustus Bulan Ketakutan atau Bulan Kemerdekaan?
Ilustrasi kerusuhan (Dok Pixabay)

ASKARA - Isu potensi kerusuhan pada Agustus kembali ramai di ruang digital. Video lama, foto tanpa konteks, narasi anonim, hingga informasi yang belum terverifikasi beredar cepat melalui media sosial dan grup percakapan.

Yang berbahaya bukan hanya kemungkinan terjadinya kerusuhan, tetapi ketika informasi yang belum terbukti justru menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.

Karena itu, negara harus hadir dengan informasi yang cepat, jelas, dan dapat dipercaya. Pemerintah dan aparat keamanan tidak boleh membiarkan ruang kosong informasi dipenuhi rumor. Jika ada ancaman nyata, jelaskan secara proporsional. Jika tidak ada, katakan dengan tegas.

Namun kewaspadaan negara juga harus tetap berada dalam koridor demokrasi. Demonstrasi damai bukan kerusuhan. Kritik bukan ancaman. Perbedaan pendapat bukan tindakan kriminal. Aparat harus mampu membedakan kebebasan berekspresi dengan tindakan kekerasan, provokasi, penjarahan, perusakan, maupun ancaman terhadap keselamatan publik.

Di sisi lain, masyarakat juga harus dewasa menghadapi arus informasi. Jangan setiap pesan WhatsApp dianggap berita, jangan setiap video dianggap kejadian terbaru. Sebelum membagikan informasi, cukup tanyakan: benarkah, siapa sumbernya, dan sudah diverifikasi atau belum? Jika jawabannya tidak jelas, berhenti di kita.

Media massa pun memiliki tanggung jawab besar. Dalam situasi yang sensitif, pers seharusnya menjadi penjernih, bukan pengeras suara kepanikan. Kecepatan memang penting, tetapi akurasi jauh lebih penting. Judul yang provokatif mungkin mendatangkan klik, tetapi informasi yang keliru dapat memproduksi ketakutan.

Aparat keamanan perlu memperkuat deteksi dini dan mencegah potensi kekerasan. Tetapi pendekatan tersebut harus terukur, berbasis hukum, serta menghormati hak-hak warga. Yang harus dicegah adalah kekerasan, bukan pikiran yang berbeda.

Komunikasi lintas kelompok juga harus diperkuat. Pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, kampus, media dan komunitas perlu membangun komunikasi sebelum masalah membesar. Konflik sering kali bukan hanya lahir dari persoalan besar, tetapi dari kesalahpahaman yang dibiarkan menjadi bara.

Indonesia memiliki pengalaman pahit ketika hoaks, ketidakpercayaan dan emosi massa bertemu. Jangan sampai pengalaman itu terulang hanya karena kita gagal mengendalikan informasi.

Maka menghadapi Agustus, negara jangan panik, masyarakat jangan panik, media jangan panik. Tetapi semuanya harus waspada.

Jika ada demonstrasi, kawal agar tetap damai. Jika ada kritik, dengarkan. Jika ada hoaks, bantah dengan data. Jika ada provokasi menuju kekerasan, tindak sesuai hukum. Jika ada tindakan aparat yang berlebihan, awasi.

Sebab negara yang kuat bukan negara yang tidak pernah dikritik. Negara yang kuat adalah negara yang mampu menjaga keamanan tanpa kehilangan demokrasi, dan mampu menghadapi perbedaan tanpa menjadikan rakyatnya saling bermusuhan.

Agustus adalah bulan kemerdekaan, bukan bulan ketakutan.

Jangan biarkan rumor menentukan suasana bangsa. Apa pun yang terjadi, Indonesia harus tetap berdiri dengan hukum, akal sehat, persatuan dan persaudaraan.

 

Komentar