Senin, 08 Juni 2026 | 08:07
NEWS

Kunjungan ke Pecatu dan Tabanan Bali: Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Transformasi Garam Nasional

Kunjungan ke Pecatu dan Tabanan Bali: Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Transformasi Garam Nasional
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, (no 5) I Nyoman Adi Wiryatama dan Ketut Suwendra (dok RD)

ASKARA - Anggota Komite IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS,  I Nyoman Adi Wiryatama dan Ketut Suwendra melakukan kunjungan kerja ke pabrik pengolahan garam industri di Pecatu dan Kabupaten Tabanan, Bali, Minggu (3/8/2025). Kunjungan ini menjadi bagian dari upayanya memperkuat kemandirian garam nasional yang selama ini masih bergantung pada impor.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri mengapresiasi potensi produksi garam industri di Bali yang dinilai mampu memenuhi standar kebutuhan garam nasional, terutama untuk sektor industri pangan, farmasi, dan kimia. Ia menyoroti pentingnya modernisasi teknologi produksi, peningkatan kualitas garam industri, serta integrasi antara petani lokal dan sektor industri. Ia 

“Kita harus segera keluar dari ketergantungan impor. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, tapi masih mengimpor lebih dari 2 juta ton garam per tahun. Ini ironi,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor itu.

Selain itu, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan perlunya modernisasi teknologi produksi, jaminan harga, dan kepastian pasar bagi petambak garam. Menurutnya, bila dikelola secara terpadu dan berbasis teknologi, Indonesia dapat menjadi eksportir garam industri dalam waktu dekat. 


Ketua bidang Kelautan dan Perikanan DPP PDI Perjuangan itu juga menekankan pentingnya pendampingan riset dan inovasi dari perguruan tinggi serta lembaga penelitian untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing garam lokal.

"Dengan potensi geografis dan dukungan teknologi, Indonesia seharusnya mampu menjadi negara swasembada garam industri," tambahnya.

Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mendorong kemandirian garam nasional, sekaligus membuka peluang ekspor garam industri dari Bali ke pasar internasional. Prof. Rokhmin Dahuri mendorong pemerintah daerah dan pusat memberikan insentif serta pendampingan riset untuk mendukung transformasi sektor garam nasional menjadi bagian dari kekuatan ekonomi biru Indonesia.


Dari Garam hingga Penyu Hijau

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri tidak hanya meninjau pabrik pengolahan garam industri di Pecatu dan Tabanan, tetapi juga menyempatkan diri untuk berinteraksi langsung dengan para pengumpul lobster dan nelayan lokal di pesisir Tabanan. Kegiatan ini menjadi simbol nyata komitmen Prof. Rokhmin terhadap pembangunan kelautan yang berkelanjutan. “Laut bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga warisan ekologi yang harus dijaga. Kita harus bangun ekonomi biru yang selaras dengan konservasi,” tegasnya.

Salah satu momen penting dalam kunjungan tersebut adalah pelepasliaran benih penyu hijau (Chelonia mydas) ke perairan Samudera Hindia. Aksi simbolis ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap konservasi spesies laut yang terancam punah dan sebagai edukasi publik tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.


"Kesejahteraan nelayan harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Kita tidak bisa bicara pembangunan tanpa menjaga laut sebagai sumber kehidupan," tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.

Ia mengapresiasi dedikasi nelayan dan masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem laut sambil mencari nafkah. Pada kesempatan itu, Prof. Rokhmin menyerukan perlunya dukungan teknologi, modal, serta regulasi yang berpihak kepada nelayan kecil dan pelestari lingkungan.


“Ekosistem pesisir kita ibarat tambang emas biologis. Kalau dikelola cerdas, bisa sejahterakan rakyat tanpa merusak alam,” kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari komunitas lokal dan aktivis lingkungan, yang menilai pendekatan Prof. Rokhmin sebagai contoh sinergi antara ekonomi biru dan konservasi. Dengan mengangkat isu keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat, kunjungan ini menjadi inspirasi bagi pengelolaan sumber daya laut yang lebih adil dan berkelanjutan.

Komentar