Cerpen: Sebiji Dzarrāh yang Menentukan Surga
ASKARA - Semua bermula dari sebuah unggahan sederhana berisi kutipan Al-Qur’an dan nasihat singkat tentang kejujuran. Namun siapa sangka, unggahan itu menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup seseorang, bahkan menggugurkan reputasi seorang ustaz ternama. Sebiji kebaikan, walau kecil, bisa menumbangkan kemunafikan yang sudah lama berakar dalam keluarga.
Hujan turun dengan ritme malas di luar jendela kamar Faiz, remaja 16 tahun yang sedang menatap layar ponsel dengan raut sendu. Di layar itu, tampak postingan TikTok berisi potongan nasihat:
“Mereka yang selalu memposting nasihat agama memang belum tentu sempurna akhlaknya. Akan tetapi mereka ingin berbagi benih kebaikan meski hanya sebesar biji dzarrāh...”
Faiz menyimpan postingan itu. Tidak hanya karena kalimatnya menenangkan, tetapi karena ada sesuatu yang diam-diam bergemuruh di hatinya. Ia baru saja menyaksikan ayahnya yang dikenal sebagai Ustaz Anwar di kampung dan media sosial berbohong di depan ibunya, lalu memasang wajah tenang saat menjadi khatib Jumat siangnya.
"Tak perlu bilang ke Ibu kalau Ayah ke rumah Bu Nani. Katakan saja Ayah pergi dakwah ke Cianjur,” katanya malam itu, setelah menaruh ponsel yang berisi foto-foto wanita berjilbab merah muda itu.
Faiz tidak menjawab. Tapi dalam benaknya, ayahnya sedang mencabut akar kejujuran yang dulu ditanam dalam-dalam lewat ceramah, khutbah, dan postingan Instagram.
Dua minggu berlalu.
Faiz menyimpan setiap peristiwa dalam diam. Ia tak pernah benar-benar menentang sang ayah, juga tidak membela dalam hati. Ia hanya menjadi saksi, seperti sebatang pohon kecil yang menyerap air dari tanah busuk. Ia tahu ini salah, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
Hingga suatu malam, Ibunya berkata lirih, “Kalau suatu hari kamu menemukan ayahmu tidak seperti yang dia katakan, jangan benci dia, ya, Nak. Tapi tolong... jangan tiru.”
Faiz tercekat. Ia merasa ibunya tahu. Mungkin dari aroma parfum asing di baju, mungkin dari percakapan WhatsApp yang terbaca tak sengaja.
“Aku tidak akan tiru, Bu,” jawab Faiz pelan.
Ramadan tahun itu datang dengan tenang. Tapi di hati Faiz, badai tak pernah reda. Di satu sisi, ia ingin menjaga nama baik sang ayah. Di sisi lain, ia merasa sedang membantu menutupi kemunafikan yang sangat bertentangan dengan semua nilai yang diajarkan.
Di penghujung Ramadan, Faiz membuat unggahan sederhana. Ia kutip kembali nasihat dari TikTok itu, lalu menambahkan:
“Kadang, yang menasihati belum tentu sempurna. Tapi bukan berarti nasihatnya tak benar. Kebaikan itu seperti biji dzarrāh. Kita tidak tahu benih mana yang tumbuh dan mengubah seseorang. Termasuk saya sendiri.”
Unggahan itu sederhana. Tak ada sindiran. Tak ada nama. Tapi netizen bisa mencium aroma luka di balik hurufnya.
Beberapa hari kemudian, viral.
Banyak yang memuji kedewasaan Faiz. Tapi sebagian mencurigai. Akun gosip mulai menghubungkan unggahan Faiz dengan sosok ayahnya yang selama ini sering tampil sebagai “ustaz viral”. Lalu muncullah cuplikan ceramah sang ayah yang bertolak belakang dengan gaya hidup aslinya.
Seseorang mengunggah rekaman CCTV ayahnya keluar dari sebuah rumah dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Netizen membandingkan tanggalnya dengan jadwal ceramah di masjid yang diunggah ustaz itu sendiri. Kebohongan itu terbuka, dan tak bisa dibantah.
Ustaz Anwar menghilang dari media sosial.
Faiz tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di teras rumah, menatap langit pagi yang tenang. Ibunya sedang menyiram bunga, seolah badai tak pernah datang ke rumah mereka. Tapi bagi Faiz, badai itu nyata dan justru menyapu bersih ilalang kepalsuan yang selama ini menutupi tanah hatinya.
Tiga tahun kemudian.
Faiz berdiri di depan mimbar sederhana, di masjid kecil di pinggiran kota. Suaranya pelan, tapi mantap.
“...kejujuran itu warisan terbaik. Anak-anak tidak belajar dari nasihat, mereka belajar dari apa yang kita lakukan. Maka jangan ajari mereka dusta dengan kata-kata yang ingin menyelamatkan diri, karena itu akan menjadi benih pengkhianatan pertama dalam hidup mereka.”
Seorang anak kecil duduk di shaf depan, menatap Faiz dengan mata tak berkedip. Entah kenapa, Faiz seperti melihat dirinya sendiri dulu, duduk di sebelah ayahnya yang kala itu masih ia anggap seperti pahlawan tanpa cela.
Selesai ceramah, Faiz kembali ke rumah. Di atas meja makan, ibunya telah menyiapkan teh manis dan kue kering. Ia tersenyum.
“Ayahmu menelpon tadi,” kata ibunya.
Faiz menoleh, sedikit kaget.
“Ia ingin pulang. Katanya... ingin belajar jujur dari kamu.”
Hening sejenak.
Faiz hanya tersenyum. “Boleh. Tapi mulai dari minta maaf sama Ibu dulu.”
Malamnya, Faiz menulis di catatannya:
Kadang, Allah izinkan aib terbuka bukan untuk mempermalukan. Tapi untuk menyucikan. Yang tertutup belum tentu suci. Yang terbuka belum tentu hina. Aku hanya menanam sebiji dzarrāh, dan ternyata, ia tumbuh menjadi pohon jujur dalam keluarga kami. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar