Senin, 15 Juni 2026 | 21:57
NEWS

YKL Indonesia dan Bonebula Luncurkan Rehabilitasi Mangrove di Enam Desa Pesisir Donggala

YKL Indonesia dan Bonebula Luncurkan Rehabilitasi Mangrove di Enam Desa Pesisir Donggala
Rehabilitasi mangrove (Dok YKL)

ASKARA - Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2025, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula meluncurkan program rehabilitasi mangrove berbasis inisiatif lokal di enam desa pesisir Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini resmi dimulai di Pantai Baturuko, Desa Lalombi, pada Minggu (27/7), dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas pemuda, jurnalis, hingga masyarakat lokal.

Rehabilitasi mangrove ini merupakan bagian dari Program SOLUSI (Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia), yang didukung oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), sebagai bagian dari konsorsium SOLUSI. Program ini merupakan kemitraan antara BAPPENAS dan pemerintah Jerman melalui Inisiatif Iklim Internasional (IKI), yang bertujuan menangani degradasi lahan dan laut serta meningkatkan ketahanan ekosistem dan mata pencaharian berbasis adaptasi perubahan iklim.

“Melalui aksi ini, kami ingin menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem mangrove bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis dan sosial kawasan pesisir,” ujar Andi Anwar, Direktur Eksekutif Yayasan Bonebula. Ia menambahkan bahwa seluruh proses, mulai dari pemetaan hingga pemantauan, dirancang secara partisipatif untuk memastikan masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap inisiatif ini.

Adapun desa yang menjadi lokasi rehabilitasi yakni Lalombi, Tolongano, Tompe, Lompio, serta Kelurahan Labuan Bajo dan Tanjung Batu. Luasan total kawasan yang akan direhabilitasi mencapai 25 hektar, dengan metode gabungan antara Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), Assisted Natural Regeneration (ANR), penanaman langsung, dan penyebaran benih.

Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, menekankan pentingnya kekuatan aksi lokal. “Enam desa ini sudah melalui proses panjang, dari studi pustaka, pemetaan partisipatif, hingga rencana rehabilitasi yang clear and clean. Ini bukan sekadar teknik, tapi membangun rasa kepemilikan,” ungkapnya.

Selain penanaman, kegiatan ini mencakup monitoring, evaluasi, dan perawatan hingga dua tahun ke depan. Data pertumbuhan mangrove akan dikumpulkan secara berkala untuk mengukur keberhasilan rehabilitasi sekaligus menjadi rujukan pembelajaran untuk daerah lain.

Ketua kelompok masyarakat SALAMA (Sahabat Laut dan Mangrove), Firda, menyampaikan apresiasinya atas pendekatan yang melibatkan masyarakat sejak awal. “Kami jadi tahu cara menanam mangrove yang benar, bukan hanya sekadar tanam. Penting memahami lokasi dan tindakan yang dibutuhkan agar tanaman bisa tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model kolaboratif yang menginspirasi daerah pesisir lainnya dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng alami menghadapi abrasi dan perubahan iklim serta penopang ekonomi pesisir yang berkelanjutan.

 

 

Komentar