Kamis, 18 Juni 2026 | 00:57
Editorial

Kwik Kian Gie Berpulang: Pejuang Ekonomi yang Tak Pernah Berpaling dari Rakyat

Kwik Kian Gie Berpulang: Pejuang Ekonomi yang Tak Pernah Berpaling dari Rakyat
Kwik Kian Gie (Dok AI-Anrico)

ASKARA - Dunia ekonomi dan politik Indonesia kehilangan salah satu sosok terpentingnya. Kwik Kian Gie, ekonom kritis dan negarawan senior, berpulang pada Senin malam, 28 Juli 2025 pukul 22.00 WIB, dalam usia 90 tahun. Ia menghembuskan napas terakhirnya di RS Medistra, Jakarta, setelah dua bulan menjalani perawatan intensif akibat gangguan pencernaan yang lama ia keluhkan.

Kabar duka ini disampaikan pertama kali oleh politikus senior PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, dan dikonfirmasi oleh sahabat sekaligus kolega kabinetnya, Hatta Rajasa.

"Turut berduka yang dalam atas wafatnya Pak Kwik Kian Gie, sahabat saya sesama di kabinet Bu Mega," ujar Hatta kepada wartawan, Selasa (29/7).

Ia mengenang Kwik sebagai sosok nasionalis sejati. "Beliau sangat mencintai Indonesia, tokoh yang kritis namun memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa," imbuhnya.

Dari Juwana ke Pusat Kebijakan Ekonomi Nasional

Kwik Kian Gie lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935. Meski berlatar etnis Tionghoa, Kwik dikenal sebagai pribadi yang gigih memperjuangkan keadilan sosial dan kemandirian ekonomi Indonesia. Pendidikan ekonominya ditempuh di Belanda, di Nederlands Economische Hogeschool (kini Erasmus University Rotterdam), tempat ia mengasah pemikiran kritis dan integritas intelektual.

Sepulang ke tanah air, ia aktif sebagai profesional dan pengusaha. Di antara jabatan awalnya, Kwik pernah menjadi Direktur NV Handelsonderneming "IPILO" di Amsterdam, serta Direktur PT Indonesian Financing & Investment Company di Jakarta. Namun idealismenya tak tertahan di dunia bisnis. Ia mulai dikenal luas sebagai penulis dan kolumnis ekonomi yang tajam.

Melalui LP3ES dan Institut Bisnis Indonesia, Kwik mencetak banyak intelektual kritis, hingga akhirnya masuk dalam lingkaran politik. Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Litbang PDI, lalu menjadi Wakil Ketua MPR RI pada 1999. Tak lama kemudian, ia duduk di kursi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, sebelum kemudian menjadi Kepala Bappenas di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri (2001–2004).

Kritik, Konsistensi, dan Kejujuran

Berbeda dari banyak pejabat lain, Kwik dikenal vokal dalam menyuarakan penolakan terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi neoliberal, terutama dominasi IMF dan liberalisasi pasar yang mengorbankan kepentingan rakyat kecil. Ia menentang privatisasi BUMN dan menjadi suara keras terhadap kebijakan utang luar negeri yang dinilainya menggerus kedaulatan bangsa.

Tak jarang, sikap kritis itu membuatnya berseberangan dengan elite kekuasaan, bahkan dari partainya sendiri. Tapi Kwik tak bergeming. Ia kerap berkata, "Saya tidak akan menandatangani sesuatu yang saya tahu itu salah, hanya demi kenyamanan jabatan."

Karya dan Warisan

Selama hidupnya, Kwik juga aktif menulis buku yang kini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa dan pengamat ekonomi. Di antaranya:

Saya Bermimpi Jadi Konglomerat (1993)

Analisa Ekonomi Politik Indonesia (1994)

Pandangan dan pemikirannya tetap relevan bahkan puluhan tahun setelah ia tidak lagi menjabat. Ia tetap menjadi rujukan publik yang mendambakan suara jujur dan independen dalam percaturan kebijakan ekonomi nasional.

Penghormatan Negara

Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana pada 9 Agustus 2005—tanda kehormatan negara yang diberikan kepada tokoh-tokoh berpengaruh dalam bidang pemerintahan dan kebijakan.

Selamat Jalan, Guru Bangsa

Kwik Kian Gie bukan hanya ekonom, bukan hanya pejabat. Ia adalah simbol integritas dalam dunia yang mudah tergoda. Ia adalah cermin keberanian di tengah ketakutan akan kekuasaan. Ia adalah pengingat bahwa menjadi pejabat tak berarti harus meninggalkan prinsip.

Kita kehilangan, tetapi warisan pemikiran dan keberaniannya akan tetap hidup.

Selamat jalan, Pak Kwik. Rest in peace.

"Ekonomi bukan sekadar angka, tapi tentang bagaimana kita menjaga martabat rakyat.” — Kwik Kian Gie.

 

Komentar