Kamis, 04 Juni 2026 | 12:00
NEWS

Misteri Kematian Diplomat Muda: Jejak Hilang di Rooftop dan Ponsel yang Tak Pernah Ditemukan

Misteri Kematian Diplomat Muda: Jejak Hilang di Rooftop dan Ponsel yang Tak Pernah Ditemukan
Ilustrasi diplomat (Dok Anrico)

ASKARA - Kasus kematian seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri RI berinisial ADP (39) menguak misteri baru yang belum terpecahkan. Sudah lebih dari dua minggu berlalu sejak jasadnya ditemukan pada Selasa, 8 Juli 2025, namun sejumlah fakta penting justru menimbulkan pertanyaan besar ketimbang memberi jawaban.

ADP ditemukan tak bernyawa di kamar indekosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ia ditemukan dalam kondisi mengenaskan: wajahnya tertutup plastik dan dililit lakban kuning, tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan hanya mengenakan kaus dan celana pendek, serta berselimutkan kain.

Namun, bukan hanya kondisi jenazah yang mengejutkan. Ponsel korban—sumber utama jejak komunikasi dan digital—hingga kini tak ditemukan.

"(Ponsel korban) belum ditemukan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi saat dikonfirmasi, Jumat (25/7/2025).

Penyataan serupa disampaikan Komisioner Kompolnas Choirul Anam. Ia menilai absennya ponsel menjadi hambatan besar dalam mengungkap jejak digital korban.

"Masih ada PR soal jejak digital itu. Penting untuk peristiwanya, tapi apakah ini menentukan penyebab kematian, saya kira penyebab kematiannya tidak di situ,” kata Anam.

Rooftop, CCTV, dan Tas yang Hilang

Investigasi berkembang ketika polisi memeriksa rekaman CCTV dari Gedung Kemlu, tempat korban sempat berada sebelum tewas. Pada malam 7 Juli, sekitar pukul 21.43 hingga 23.09 WIB, ADP terekam naik ke rooftop lantai 12 Gedung Kemlu, membawa tas ransel dan tas belanja.

Namun, saat turun dari rooftop, tas-tas tersebut tidak lagi bersamanya. Hingga kini, keberadaan dua tas itu belum diketahui.

"Kami menduga korban berada di rooftop selama 1 jam 26 menit. Fakta ini masih kami dalami, termasuk isi tas dan kenapa tas tidak dibawa turun,” jelas Ade Ary.

Prosedur Forensik dan Pemeriksaan Ahli

Pihak kepolisian menyatakan telah menerima hasil laboratorium forensik (labfor), namun belum dapat diumumkan karena masih dilakukan proses sinkronisasi dengan alat bukti lainnya. Pemeriksaan juga mencakup autopsi toksikologi dan histopatologi, untuk memastikan ada tidaknya kandungan zat kimia, racun, atau penyakit dalam tubuh korban.

"Kami periksa racun, toksin, hingga kondisi organ tubuh korban. Semua dilibatkan, dari forensik hingga ahli eksternal,” terang AKBP Reonald Simanjuntak.

20 CCTV dan 15 Saksi

Sebanyak 20 rekaman CCTV telah disita. Polisi juga telah memeriksa 15 saksi, termasuk istri korban, rekan kerja, penjaga kos, serta pihak lingkungan sekitar. Bahkan Kompolnas, Komnas HAM, dan Kemenko Polhukam telah dilibatkan untuk mengawasi proses penyelidikan yang disebut berbasis scientific crime investigation.

Respons Kemlu: Netral dan Menyerahkan ke Polisi

Kementerian Luar Negeri memilih untuk tidak memberikan interpretasi atau penilaian atas kasus tersebut. Melalui juru bicaranya, Roy Soemirat, Kemlu menyatakan telah menyerahkan seluruh data termasuk rekaman CCTV, dan akan terus mendukung penyidikan.

"Kami sepenuhnya menyerahkan kepada Kepolisian RI yang merupakan satu-satunya pihak berwenang menangani kasus ini,” ujar Roy kepada wartawan.

Apakah Ini Pembunuhan? Atau Bunuh Diri yang Disamarkan?

Spekulasi publik pun mencuat. Apakah kematian ini hasil kejahatan yang direncanakan? Atau adakah motif pribadi yang membuat ADP mengakhiri hidup dengan cara tak lazim? Polisi belum menyimpulkan apapun. Namun, absennya ponsel dan tas, jejak korban di rooftop, serta kondisi jenazah yang tak biasa, membuat kasus ini lebih dari sekadar "kematian biasa".

Polda Metro Jaya menyatakan akan mengumumkan hasil penyelidikan lengkap pada Senin, 28 Juli 2025.

Satu-satunya saksi bisu yang belum ditemukan adalah ponsel korban. Di era digital, data bisa lebih jujur dari kata-kata manusia. Tetapi tanpa ponsel itu, banyak pintu kebenaran tetap terkunci.

 

 

Komentar