Kamis, 04 Juni 2026 | 06:14
COMMUNITY

Kami Manusia, Bukan Sekadar Angka

Kami Manusia, Bukan Sekadar Angka
Warga menunggu untuk menerima bantuan makanan (Mahmoud Zaki/Xinhua)

ASKARA - Setelah hiruk pikuk perang Iran Israel mereda, perhatian dunia kembali diarahkan pada Gaza, sebuah ladang luka yang terus berdarah tanpa jeda. Ribuan nyawa melayang, ratusan ribu terluka, dan gencatan senjata tak ubahnya janji basi. Ironi global: manusia dijadikan statistik, derita ditukar retorika, dan empati disunat demi citra.

Setelah panggung perang 12 hari Iran Israel ditutup dengan tirai asap dan debu, dunia seolah tersadar: ada luka lain yang jauh lebih parah, lebih menganga, dan lebih diabaikan yaitu Gaza.

Setiap kali terdengar suara ledakan, setiap kali terlihat reruntuhan, dunia bergegas mengecam. Kecaman itu lalu jadi kicauan di media sosial, jadi headline satu hari, kemudian lenyap seperti embun pagi. Sementara itu, di jalur Gaza, dentuman bom adalah lagu nina bobo yang dipaksa didengar anak anak sebelum tidur.

Lebih dari 56 ribu orang meregang nyawa. Angka itu terasa seperti statistik di buku laporan, padahal di balik setiap angka ada ibu yang kehilangan anak, ayah yang mendekap jasad bayinya, dan anak anak yang mendadak yatim piatu di usia yang bahkan belum bisa mengeja kata “damai.”

Lucunya atau tepatnya, tragisnya, gencatan senjata selalu diumumkan dengan wajah sumringah para politisi. Tapi entah mengapa, setiap kali dijanjikan, rentetan peluru dan roket justru makin ramai. Seolah kata "gencatan" hanya kamuflase untuk membangun citra seolah "kami sudah berusaha." Dunia pun mengangguk, pura pura puas, kemudian sibuk lagi dengan drakor terbaru, pertandingan bola, atau promo diskon besar besaran.

Perundingan damai? Barangkali hanya panggung sandiwara yang pemainnya dibayar mahal, sementara penonton yaitu rakyat Gaza harus membayar dengan darah. Ironi yang tidak pernah basi.

Ketika kabar pembantaian warga Gaza saat antre bantuan menyebar, Israel tampil bak pahlawan kesiangan membantah dengan gagah. Katanya, "Kami tak menembak siapa pun, mereka hanya berdesak desakan." Katanya lagi, "Itu hoaks, kami justru menyelamatkan." Padahal rekaman drone, foto foto amatir, dan kesaksian para relawan berkata lain. Tapi di era di mana "kebenaran" ditentukan siapa yang punya kamera dan juru bicara lebih licin, siapa peduli?

Lalu ada tudingan narkoba dalam tepung bantuan. Kita harus tepuk tangan untuk kreativitas narasi ini. Ketika rakyat Gaza hanya ingin roti basi demi bertahan sehari lagi, mereka malah dituduh akan mabuk massal. Betapa rendahnya nilai kemanusiaan yang diakui Israel pada warga Gaza seakan mereka tak lebih dari gerombolan serangga yang bisa dibasmi kapan saja.

Sementara itu, para pemimpin dunia beramai ramai mengecam. Retorika demi retorika dilontarkan, namun aksi nyata? Hanya berupa bantuan darurat sesekali, yang kemudian diklaim sebagai pencapaian kemanusiaan besar besaran. Padahal di lapangan, roti satu lembar, air seteguk, dan tenda reyot jadi bukti betapa jauhnya kata "manusiawi" dari kehidupan mereka.

Gaza selalu menunggu. Menunggu keadilan, menunggu pembebasan, menunggu dunia benar benar membuka mata. Tapi nyatanya, yang datang lebih sering kamera wartawan, pejabat yang ingin berfoto sambil membawa air mata palsu, atau selebritas yang ingin menambah followers dengan caption "Pray for Gaza."

Gaza bukan hashtag. Gaza bukan statistik. Gaza bukan konten trending. Gaza adalah manusia.

Seorang anak di Gaza pernah berkata, "Kami manusia, bukan hanya sekadar angka dan gambar." Kalimat itu menampar lebih keras daripada rudal. Tapi entah siapa yang benar benar merasa tertampar.

Sampai kapan kita akan pura pura tuli? Sampai kapan kita akan bangga dengan kutukan palsu? Sampai kapan kita rela menukar rasa kemanusiaan dengan sensasi musiman?

Mungkin, saat dunia sadar bahwa tangisan di Gaza bukan efek suara dalam film action, baru kemudian kita akan belajar kembali mendefinisikan arti manusia.

Atau, barangkali, kita sudah terlalu nyaman jadi penonton di bangku empuk, dengan popcorn di tangan, sambil berkata, "Kasihan sekali," lalu kembali men scroll gawai, mengabaikan ratusan ribu jiwa yang benar benar bernyawa.

Ya, Gaza bukan panggung sirkus. Gaza bukan kolam empati semu yang hanya ramai saat viral.

Jika kita masih percaya bahwa setiap manusia berhak hidup bermartabat, maka Gaza harus diingat bukan sebagai angka, melainkan sebagai seruan keras bahwa dunia sedang sakit, dan kita adalah bagian dari penyakit itu. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar