OKK PWI Jaya: Tempat "Cuci Otak" Wartawan Biar Nggak Asal Ngetik
ASKARA - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya lagi-lagi "mencetak" generasi wartawan yang bukan cuma jago ngetik, tapi juga paham etika dan organisasi. Lewat Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) Angkatan ke-21 yang digelar di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Rabu (2/7), sebanyak 30 peserta siap "dicuci otaknya" biar nggak asal tulis berita.
Ketua PWI Jaya, Kesit B Handoyo, membuka acara sambil melempar pesan serius tapi santai. "Wartawan itu harus profesional, tapi jangan lupa etika. Jangan sampai berita kita bikin orang senewen gara-gara nggak akurat atau asal comot informasi," ujarnya, yang langsung disambut anggukan peserta—atau mungkin cuma ngantuk, nggak tahu juga.
Sesi pertama, Sekretaris PWI Jaya, Arman Suparman, ngajarin tentang PD/PRT PWI—alias aturan main di organisasi wartawan ini. Biar wartawan nggak cuma jago bikin berita, tapi ngerti juga peraturan rumah tangganya.
Lanjut ke materi yang lebih 'berat', Irdawati dari Dewan Kehormatan PWI Jaya, ngulik soal Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, sampai pedoman pemberitaan ramah anak dan penyandang disabilitas. Intinya, nulis berita itu bukan asal kejar tayang, tapi harus mikirin dampak dan perasaan orang.
Terakhir, sesi yang paling ditunggu: teknik menulis berita dan esai langsung dari Ketua PWI Jaya. Di sini, para peserta diajarin gimana caranya bikin berita yang enak dibaca, nggak typo, dan tentu saja, nggak bikin orang misuh-misuh.
Dengan OKK ini, PWI Jaya berharap lahir wartawan yang bukan cuma bisa nulis, tapi juga ngerti etika, punya integritas, dan pastinya nggak bikin malu profesi.
Karena jadi wartawan itu bukan cuma soal 'tinta' di kertas, tapi juga harga diri di setiap kalimat.

Komentar