Kamis, 04 Juni 2026 | 06:37
NEWS

Tanggul Laut Raksasa Dimulai: Darimana Dana Proyek Rp 1.300 Triliun Prabowo?

Tanggul Laut Raksasa Dimulai: Darimana Dana Proyek Rp 1.300 Triliun Prabowo?
Tanggul laut raksasa (Dok Ist)

ASKARA - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi menyatakan komitmennya untuk segera memulai pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau Tanggul Laut Raksasa di pesisir utara Pulau Jawa. Proyek ambisius ini ditujukan untuk melindungi kawasan pantai utara (Pantura) dari ancaman banjir rob dan dampak perubahan iklim, namun menghadapi tantangan besar dari sisi pendanaan.

Dalam acara International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (12/6/2025), Presiden Prabowo menjelaskan bahwa proyek ini akan membentang sejauh 500 kilometer, dari Tangerang, Banten hingga Gresik, Jawa Timur, dengan estimasi anggaran mencapai US$ 80 miliar atau sekitar Rp 1.300 triliun (kurs Rp 16.250).

“Perjalanan seribu kilometer dimulai dari satu langkah. Kita akan segera mulai,” tegas Prabowo.

Proyek GSW ini, lanjut Prabowo, bukan hal baru. Rencana pembangunan tanggul laut sudah ada sejak tahun 1995, namun selama tiga dekade hanya menjadi wacana. Kini, pemerintah menegaskan tidak akan lagi menunda proyek yang sangat vital ini.

Teluk Jakarta dan Wilayah Rawan Rob

Pembangunan tahap awal akan difokuskan di wilayah paling rawan, seperti DKI Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Brebes. Khusus untuk Teluk Jakarta, Prabowo memperkirakan kebutuhan anggaran sebesar US$ 8-10 miliar dengan waktu pengerjaan 8-10 tahun.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung diminta mendukung dari sisi pembiayaan. “Pemerintah daerah harus ikut serta. Ini proyek penyelamatan rakyat,” ujar Prabowo.

Bentuk Badan Otorita, Jaring Investor Global

Untuk menjamin kelangsungan proyek jangka panjang yang diperkirakan memakan waktu 15–20 tahun, pemerintah tengah menyiapkan Badan Otorita Tanggul Laut Pantai Utara Jawa. Langkah ini dinilai penting agar pembangunan berjalan terkoordinasi dan tidak berhenti di tengah jalan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dody Hanggodo menambahkan bahwa meski anggaran negara terbatas, pemerintah tetap berkomitmen menyelesaikan proyek ini.

“Insyaallah ini akan terlaksana. Kami terus berjuang mencari solusi pendanaan dan mengundang investor,” kata Dody, Senin (16/6/2025).

Beberapa negara telah menyatakan minat untuk berpartisipasi, seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Belanda, dan sejumlah negara Eropa. Dody juga menyebut banyak perusahaan properti dalam negeri yang siap mendukung pembangunan GSW.

Antisipasi Dampak Perubahan Iklim dan Penurunan Tanah

Dody menjelaskan bahwa proyek ini dirancang bukan hanya untuk infrastruktur ekonomi, melainkan sebagai perlindungan menyeluruh terhadap jutaan warga yang tinggal di pesisir utara Jawa, yang kini terancam banjir rob akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.

“Ini masalah jangka panjang yang tak bisa lagi ditunda. Perubahan iklim nyata, dan Giant Sea Wall adalah solusi konkret,” katanya.

Prabowo: Kita Tak Akan Tunggu!

Presiden Prabowo menutup dengan penegasan bahwa meskipun ada tawaran kerja sama internasional, Indonesia tidak akan bergantung sepenuhnya kepada asing.

“Kita terbuka, silakan dari Tiongkok, Jepang, Eropa ikut. Tapi kita tidak menunggu. Kalau perlu, kita kerjakan dengan kekuatan kita sendiri,” ujarnya.

Fakta Singkat:

Panjang proyek: 500 km (Tangerang – Gresik)

Nilai proyek total: US$ 80 miliar (Rp 1.300 triliun)

Target rampung: 15–20 tahun

Tahap awal: Teluk Jakarta (US$ 8-10 miliar, 8–10 tahun)

Investor potensial: Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Belanda

Manfaat: Perlindungan dari banjir rob, adaptasi perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan di Pantura

Komentar