Modus Penipuan Mengatasnamakan TASPEN Masih Berlangsung
Keluarga Nasabah Curiga Ada Kebocoran Data
ASKARA — Meski Kepolisian Daerah Metro Jaya telah menggulung sindikat penipuan berkedok pegawai PT TASPEN (Persero), modus serupa ternyata masih terus terjadi. Salah satu keluarga pensiunan mengaku hari ini dihubungi oleh pihak yang mengaku dari TASPEN.
Yayuk, warga yang menjadi keluarga dari seorang nasabah pensiun, mengungkapkan kegelisahannya setelah menerima telepon mencurigakan.
"Saya ditelepon seseorang yang mengaku dari TASPEN dan meminta data pribadi. Yang jadi pertanyaan, dari mana mereka tahu nomor saya? Apakah ada kebocoran data?" ujar Yayuk, Kamis (12/6).
Sebelumnya, Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya telah membongkar sindikat penipuan daring yang menyasar para pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan mengatasnamakan PT TASPEN. Sedikitnya 100 korban dilaporkan tertipu, sebagian besar adalah lansia berusia di atas 60 tahun.
Kepala Subdirektorat IV Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon, menjelaskan bahwa pelaku memanfaatkan kelemahan literasi digital para pensiunan untuk mengakses data pribadi mereka.
"Korban mayoritas adalah pensiunan PNS. Pelaku mengaku sebagai pegawai TASPEN, lalu menghubungi lewat WhatsApp dengan dalih pembaruan data pensiun," kata Herman dalam konferensi pers, Sabtu (7/6).
Modus operandi pelaku mencakup permintaan pengisian data rekening, pengunduhan aplikasi palsu yang menyerupai aplikasi resmi TASPEN, hingga permintaan video call sebagai syarat verifikasi.
Meski jaringan utama telah ditindak, laporan dari masyarakat seperti Yayuk menunjukkan bahwa ancaman belum benar-benar usai. Kasus ini kembali memunculkan dugaan adanya kebocoran data pribadi yang memungkinkan para pelaku mengakses kontak keluarga korban.
Pihak TASPEN sendiri sebelumnya telah mengimbau para pensiunan agar tidak memberikan informasi pribadi kepada pihak yang mengaku petugas melalui jalur tidak resmi. PT TASPEN hanya melakukan pembaruan data melalui kanal resmi dan aplikasi milik perusahaan.

Komentar