Refleksi dari Saitama: Saatnya Indonesia Bangun Sistem, Bukan Sekadar Tim
ASKARA – Kekalahan telak Timnas Indonesia 0-6 dari Jepang di Saitama Stadium, Selasa (10/6), menjadi lebih dari sekadar skor di papan hasil. Ini adalah cermin besar yang memantulkan persoalan mendasar dalam dunia olahraga Indonesia, terutama lemahnya sistem pembinaan usia dini yang tak kunjung dibenahi secara nasional.
Jepang, lawan yang tampil dominan sejak menit awal, tak sekadar unggul teknik. Mereka adalah hasil dari sistem yang dibangun konsisten sejak era 1990-an. Saat ini, Negeri Matahari Terbit memiliki lebih dari 6.000 sekolah sepak bola aktif, dengan kompetisi berjenjang dari level U-8 hingga U-23. Sebaliknya, Indonesia masih mengandalkan bakat-bakat alamiah yang tersebar, tanpa fondasi sistem yang kokoh dan merata dari Sabang sampai Merauke.
Fakta lain yang patut direnungkan: Indeks Kebugaran Nasional Indonesia masih berada di angka 69,5 dari skala 100, menurut survei Kemenkes 2023. Angka ini terpaut jauh dari Jepang yang telah melampaui 85 poin, menjadi salah satu pondasi kekuatan fisik atlet mereka di berbagai cabang olahraga.
Namun, di tengah sorotan dan kekecewaan, muncul suara yang menyerukan harapan dan arah pembenahan.
"Capaian Timnas hingga putaran keempat ini adalah sejarah. Ini bukan kegagalan, ini pijakan awal menuju kebangkitan sepak bola nasional," tegas Gema Sasmita, Wakomtap Bidang Pemuda dan Olahraga KADIN Indonesia.
Asa Masih Menyala di Klasemen
Secara klasemen, Indonesia berada di posisi ketiga grup, di bawah Jepang dan Arab Saudi. Peluang lolos langsung ke ronde final kualifikasi memang mengecil, tapi jalur play-off masih terbuka. Pencapaian ini sendiri belum pernah diraih sebelumnya oleh tim Merah Putih.
Di sisi lain, PSSI sudah memulai sejumlah inisiatif pembinaan, mulai dari program Garuda Select, kolaborasi luar negeri, hingga pelibatan figur penting seperti Simon Tahamata, legenda Belanda keturunan Maluku yang kini melatih teknik dasar dan mentalitas pemain muda Indonesia.
Namun Gema menyebut langkah-langkah tersebut masih bersifat terpisah-pisah.
"Kita belum punya Pusat Pembinaan Nasional Atlet Usia Dini yang terintegrasi. Harus ada kurikulum olahraga sejak SD, dengan dukungan anggaran dan kebijakan lintas kementerian," ujarnya.
Sistem, Bukan Sekadar Talenta
Di bawah Erick Thohir, PSSI memang menunjukkan percepatan reformasi. Liga dibenahi, wasit dilatih, diplomasi digalakkan, hingga naturalisasi pemain dipercepat. Tapi, Gema mengingatkan: strategi jangka pendek seperti naturalisasi jangan sampai menutupi tanggung jawab besar: membina manusia Indonesia yang unggul, sehat, dan bermental juara sejak kecil.
Sebagai pengurus KADIN, Gema juga mendorong kemitraan nasional antara sektor swasta, pemerintah, dan komunitas akar rumput untuk membangun ekosistem olahraga dari bawah.
"Sudah saatnya kita membangun industri olahraga nasional. Kita tidak bisa terus mengandalkan bakat alam tanpa sistem. Kalau Jepang bisa mulai 30 tahun lalu, kenapa kita tidak mulai hari ini?"
Momentum Sadar dan Bergerak
Kekalahan dari Jepang bukan akhir. Justru, ini bisa menjadi awal jika bangsa ini mau jujur bercermin dan berani berubah.
Sudah waktunya kita berhenti mencari jalan pintas. Yang dibutuhkan kini bukan keajaiban, tapi sistem. Bukan slogan, tapi aksi nyata. Masa depan sepak bola, dan olahraga nasional secara umum, berada di tangan keputusan hari ini.

Komentar