Kamis, 04 Juni 2026 | 06:51
NEWS

Geger Paru Sapi Kurban Bertuliskan Nama Manusia di Tangsel

DKM: Bukan Rekayasa, Tak Akan Dikonsumsi

Geger Paru Sapi Kurban Bertuliskan Nama Manusia di Tangsel
Geger paru sapi kurban bertuliskan nama manusia di Tangsel (Dok Ist)

ASKARA – Warga Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel), dihebohkan dengan penemuan tidak biasa saat proses penyembelihan hewan kurban, Minggu (9/6). Sebuah potongan paru sapi kurban tiba-tiba menunjukkan tulisan menyerupai nama seseorang: "Muhamad Musofa bin Jalal Sayuti."

Peristiwa tak biasa itu terekam dalam video yang beredar luas di media sosial. Dalam rekaman, sejumlah panitia kurban terlihat memegang potongan paru yang di permukaannya tertera nama lengkap seseorang dengan huruf kapital berwarna hitam.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat, Suhada, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut nama itu pertama kali terlihat saat panitia tengah melakukan proses penyesetan bagian dalam sapi kurban. 

"Ketika penyesetan dilakukan oleh Bapak Warman, ada keajaiban. Tiba-tiba terlihat tulisan 'Muhamad Musofa bin Jalal Sayuti', semuanya dalam huruf kapital," ujar Suhada kepada wartawan, Senin (9/6).

Warman, yang menjadi saksi pertama penemuan itu, sempat mencoba menghapus tulisan tersebut, namun tidak berhasil.

"Naluri saya, saya gesek pakai jari. Tapi nggak berubah, nggak hilang," kata Warman. "Langsung saya lapor ke Ketua."

Menurut Suhada, tulisan itu bukan buatan manusia dan diyakini bukan hasil rekayasa dari pihak manapun, baik pemilik hewan maupun panitia.

"Saya yakini ini bukan rekayasa, bukan buatan manusia. Apalagi sengaja dibuat oleh yang berkurban. Nauzubillah," tegasnya.

Yang lebih mengejutkan, nama yang tertera di paru tersebut bukan pemilik sapi kurban, melainkan seseorang yang hanya menyumbang satu ekor kambing pada Idul Adha tahun ini, yaitu Muhamad Musofa. 

"Setelah saya sampaikan kronologi kepada beliau, Musofa langsung menangis. Saya juga tidak tahu ini pertanda apa," kata Suhada.

Pihak masjid memutuskan paru tersebut tidak akan dikonsumsi dan sedang mempertimbangkan langkah lebih lanjut agar temuan itu dapat dijadikan catatan bersejarah. 

"Ini harus dilegendariskan. Kami akan diskusikan lebih lanjut bersama para pengurus dan mungkin para ahli. Tapi yang jelas, tidak akan kami konsumsi," pungkas Suhada.

Penemuan ini sontak menuai beragam reaksi warganet. Ada yang menganggapnya sebagai pertanda spiritual, tak sedikit pula yang berspekulasi soal kemungkinan ilmiah di balik fenomena tersebut.

 

 

Komentar