Kamis, 11 Juni 2026 | 14:29
COMMUNITY

Ketika Penjahat Duduk di Tahta, Nelson Mandela: Penjahat Tak Pernah Bangun Negara

Ketika Penjahat Duduk di Tahta, Nelson Mandela: Penjahat Tak Pernah Bangun Negara
Nelson Mandela (int)

ASKARA - Negara bukan hancur karena gempa, bukan roboh karena perang. Ia hancur perlahan ketika orang baik memilih diam dan membiarkan para penjahat naik ke puncak kekuasaan. Mereka bukan membangun, melainkan menggali. Bukan merawat, tapi merusak. Dan sayangnya, kita sering sadar setelah semuanya jadi puing. Terlambat, seperti biasanya.

Nelson Mandela pernah berkata, penjahat tidak pernah membangun negara. Mereka hanya memperkaya diri sambil merusak negara. Dan kini, kita bisa menyaksikan sendiri betapa benarnya kalimat itu.

Bangsa ini sedang sakit. Bukan karena virus. Bukan pula karena cuaca ekstrem. Tapi karena penyakit dalam bernama kekuasaan yang dikuasai oleh penjahat.

Hancurnya negara dimulai dari satu keputusan kecil yang membiarkan orang buruk naik ke panggung. Satu toleransi terhadap kebohongan. Satu tepuk tangan untuk manipulasi. Satu senyuman pada korupsi kecil. Lalu semuanya menjelma jadi sistem.

Hari ini, banyak dari mereka yang duduk di singgasana kekuasaan bukan karena integritas, tapi karena kelicikan. Bukan karena prestasi, tapi karena koneksi. Mereka tak mengenal konsep pelayanan publik. Yang mereka tahu hanya laba, lobi, dan loyalitas buta.

Kekuasaan digunakan bukan untuk melayani rakyat, melainkan untuk memperkaya diri dan kelompok. Lahan negara dijual, tambang dikeruk, hutan ditebang, semua demi satu hal: pundi-pundi pribadi. Tak ada mimpi besar tentang masa depan. Yang ada hanya strategi bertahan agar terus berkuasa, seburuk apa pun caranya.

Dan masyarakat? Dibiarkan hidup dengan potongan-potongan janji. Dengan propaganda murahan. Dengan upaya membungkam yang dibungkus sebagai "penertiban."

Lembaga hukum dipelintir. Pendidikan jadi komoditas. Kesehatan dijadikan ladang bisnis. Lalu mereka dengan senyum lebar berkata: ini demi pembangunan. Ironisnya, sebagian dari kita percaya. Karena kita dibiasakan hidup dalam ilusi prestasi dan simbolisme.

Mereka tidak membangun yang berkelanjutan. Tidak pendidikan. Tidak kesehatan. Tidak keadilan. Yang mereka bangun adalah sistem loyalitas semu dan ketergantungan. Institusi yang seharusnya jadi penopang demokrasi dihancurkan dari dalam, diganti dengan organ-organ penuh nepotisme dan politik balas jasa.

Yang paling menyedihkan, kerusakan ini tidak terlihat secara langsung. Ia seperti racun. Tidak menimbulkan pingsan tiba-tiba, tapi merusak lambat-lambat. Mengganti idealisme dengan apatisme. Menghapus harapan, menyuntikkan sinisme.

Dan ketika masyarakat sadar, semuanya sudah berubah jadi puing. Kepercayaan publik rusak. Semangat gotong-royong tergantikan oleh survival individu. Generasi muda mulai percaya bahwa satu-satunya jalan sukses adalah dengan “bermain cantik” sebuah eufemisme untuk korupsi.

Dan mungkin, semua ini bermula dari satu hal: hilangnya kesempatan. PHK merajalela. Lapangan kerja mengering. Pendidikan mahal. Harga kebutuhan pokok melonjak. Dan sementara rakyat susah makan, para penjahat kekuasaan membeli kapal pesiar.

Apa jadinya bila orang lapar melihat orang kenyang makan di atas bangkai keadilan? Yang terjadi adalah kemarahan. Tapi sayangnya, yang marah sering tak berdaya. Dan yang berdaya tak pernah marah. Inilah simfoni kejatuhan sebuah bangsa.

Kita menyaksikan kebobrokan di depan mata, tapi terlalu sibuk dengan layar ponsel. Kita tahu siapa yang korup, siapa yang culas, siapa yang menjual negara. Tapi kita lebih sibuk mempertahankan "netralitas" yang sebenarnya hanya nama lain dari kepengecutan.

Orang baik diam. Dan para penjahat berpesta. Itulah awal keruntuhan sebuah negara.

Maka jangan heran bila suatu hari nanti, anak-anak kita bertanya, "Mengapa negeri ini hancur?" Dan kita tak punya jawaban, karena kita adalah bagian dari diam massal itu.

Hari ini, negara tak runtuh karena invasi. Ia runtuh karena pembiaran. Karena kita, rakyat, lebih takut kehilangan kenyamanan sesaat ketimbang kehilangan masa depan.

Kalau kita membiarkan ini terus terjadi, kita tidak sedang menjaga warisan untuk anak-cucu. Kita sedang menyusun reruntuhan yang akan mereka tangisi.

Karena sejatinya, membiarkan penjahat berkuasa, sama saja dengan membakar rumah kita sendiri dari dalam. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar