Senin, 08 Juni 2026 | 12:40
Ruang Menulis

Seburuk-Buruk Landasan

Seburuk-Buruk Landasan
Ilustrasi

ASKARA - Dalam kehidupan beragama, kita kerap kali menemui saudara-saudara kita yang memiliki kebiasaan ibadah berbeda. Ada yang menambah, ada yang mengurangi. Ada yang berpegang pada dalil, ada pula yang sekadar mengikuti “kata orang”, “dari kecil memang begitu”, atau “ustaz saya bilang begitu”.

Sayangnya, tidak jarang justru yang paling lantang membela keyakinannya adalah mereka yang paling minim ilmu. Dan ketika ditanya dasar dari amalannya, jawabannya mengejutkan: “Katanya begitu.”

Maka di sinilah persoalan bermula. Ketika ucapan manusia didahulukan dari wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya, agama berubah dari petunjuk menjadi tradisi, dari cahaya menjadi kabut.

Islam datang bukan hanya mengajarkan apa yang dilakukan, tapi juga mengapa kita melakukannya dan dari mana asalnya.

Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya diutus untuk mengajak manusia menyembah Allah, tapi juga untuk menunjukkan bagaimana cara menyembah-Nya dengan benar. Maka setiap ibadah yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah harus ditimbang ulang, bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk mencari kebenaran.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿قُلْ هَاتُوا۟ بُرْهَـٰنَكُمْ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ﴾
"Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang-orang yang benar.'"
(QS. Al-Baqarah: 111)

Ayat ini mengajarkan bahwa segala bentuk keyakinan, ucapan, dan amalan dalam agama harus memiliki dasar. Landasannya bukan perkataan tokoh, bukan kebiasaan turun-temurun, bukan pula suara mayoritas. Tapi Al-Qur’an dan sunnah yang shahih.

Bahkan dalam satu kesempatan, Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan keras:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
"Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak."
(HR. Muslim no. 1718)

Lihatlah betapa tegasnya Rasulullah ﷺ. Beliau tidak mengatakan “boleh kalau niatnya baik”, atau “tidak apa-apa kalau untuk memperindah ibadah”. Justru beliau mengingatkan bahwa setiap amalan yang tidak bersumber dari ajaran beliau adalah tertolak. Ini bukan sekadar anjuran, tapi batas tegas antara sunnah dan bid‘ah.

Sayangnya, di tengah masyarakat kita, banyak yang menjadikan “katanya” sebagai dalil. “Katanya bagus.” “Katanya ini lebih afdal.” “Katanya ustaz fulan begini.” Padahal kebenaran dalam Islam tidak diukur dari siapa yang bicara, tapi dari apa yang dikatakannya. Ulama salaf berkata:

الحق لا يُعرف بالرجال، ولكن الرجال يُعرفون بالحق
"Kebenaran itu tidak dikenal melalui sosok manusia, tetapi manusia dikenal melalui kebenaran."

Ini bukan berarti kita menolak nasihat ulama atau guru. Justru kita menghormati mereka dengan cara mengecek dan menyaring setiap ucapan mereka dengan Al-Qur’an dan sunnah. Sebab tidak ada manusia yang ma‘shum (terpelihara dari kesalahan) kecuali Nabi Muhammad ﷺ. Jika kita lebih percaya pada kata orang daripada dalil, maka agama kita sedang dibangun di atas landasan yang rapuh.

Allah ﷻ mengingatkan kita:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari (ajaran) nenek moyang kami.’ Apakah mereka (akan tetap mengikuti) sekalipun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?"(QS. Al-Baqarah: 170)

Inilah bentuk dari seburuk-buruk landasan: mengikuti sesuatu hanya karena warisan budaya atau kebiasaan, tanpa memeriksa apakah itu benar di mata syariat. Agama bukan soal “sudah terbiasa”, tapi soal “apakah itu benar”.

Bayangkan jika dalam urusan dunia, kita begitu cermat mencari referensi, membandingkan sumber, menyaring informasi, bahkan mencatat literatur. Tapi ketika menyangkut urusan ibadah, surga dan neraka, kita justru mengandalkan “katanya”? Adakah kesalahan yang lebih fatal dari ini?

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
"Ikutilah (sunnah), dan jangan berbuat bid‘ah. Karena sesungguhnya (sunnah) itu sudah mencukupi kalian."

Maka mari kita kembalikan agama ini kepada pondasi yang kokoh. Mari kita jadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai petunjuk utama, bukan kata orang, bukan sekadar ikut-ikutan. Bukan karena mayoritas melakukannya, tapi karena Allah dan Rasul-Nya yang mengajarkannya.

Bila ada perbedaan, mari kita buka mushaf, mari kita buka kitab-kitab hadis. Tanyakan pada para ulama yang jujur, amanah, dan bersandar pada dalil. Jangan cepat puas dengan jawaban, “sudah dari dulu begitu”, karena dulu tidak selalu benar, dan yang banyak belum tentu tepat.

Agama ini bukan milik tokoh, bukan milik kelompok, bukan pula milik mayoritas. Agama ini milik Allah ﷻ, dan jalan untuk memahaminya hanyalah dengan mengikuti Rasul-Nya. Maka jangan biarkan “katanya” merampas kemurnian agama kita. Sebab “katanya” bukan dalil, dan ia adalah seburuk-buruk landasan dalam beragama. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar