Membangun Vokasi Ekspor Lewat Sinergi TEFA
ASKARA - Dalam rangka memperkuat konektivitas antara pendidikan vokasi, industri, dan pemerintah, Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP) menyelenggarakan forum bertajuk “Optimalisasi Sinergi Pendidikan, Industri dan Pemerintah melalui Pengembangan TEFA untuk Penguatan Ekosistem Logistik, Daya Saing Global dan Akselerasi Menuju World Class Vocational School.” Acara ini menandai langkah konkret menuju sistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan pasar global dan rantai pasok internasional.
Pendidikan vokasi kini tidak lagi bisa berjalan sendiri. Ia harus menjadi pusat inovasi, produktivitas, dan penggerak ekonomi yang terhubung langsung dengan denyut kebutuhan industri dan dinamika pasar global. Hal inilah yang menjadi benang merah dalam acara yang digelar oleh Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP) pada Kamis pagi, 5 Juni 2025 bertajuk:
> “Optimalisasi Sinergi Pendidikan, Industri dan Pemerintah melalui Pengembangan TEFA untuk Penguatan Ekosistem Logistik, Daya Saing Global dan Akselerasi Menuju World Class Vocational School.”
Acara ini bukan sekadar seremoni akademik biasa. Di dalamnya terkandung semangat besar untuk merancang ulang arah pendidikan vokasi Indonesia. TEFA (Teaching Factory) menjadi kata kunci dalam diskusi ini bukan sekadar jargon, melainkan bentuk nyata dari model pembelajaran berbasis produksi, yang menghadirkan pengalaman kerja dan kewirausahaan langsung di lingkungan pendidikan.
Dalam pidatonya, Ade Siti Muksodah, Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah, memberikan perspektif yang sangat relevan dan menggugah. Menurutnya, sinergi antara pendidikan vokasi dan dunia industri adalah keharusan, bukan pilihan. Lulusan vokasi masa kini tidak boleh hanya siap kerja, tetapi harus siap menciptakan lapangan kerja dan mengambil peran dalam rantai pasok global.
> “Saya ingin menekankan bahwa lulusan pendidikan vokasi hari ini harus mulai memposisikan diri sebagai wirausahawan. Bukan hanya gigih dan adaptif, tetapi juga memiliki visi untuk menembus pasar ekspor,” tegas Ade.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tidak pula kekurangan kreativitas. Yang sering kali menjadi hambatan justru keberanian dan ketekunan. Pemahaman terhadap ekosistem logistik dan prosedur ekspor masih menjadi tantangan besar bagi generasi muda. Di sinilah peran TEFA menjadi sangat penting menghubungkan teori dengan praktik produksi dan ekspor yang sesungguhnya.
> “Melalui program TEFA dan sinergi dengan dunia usaha dan dunia industri, saya yakin generasi muda kita bisa menjadi pionir dalam menciptakan produk berkualitas global, membangun merek lokal yang kuat, dan menjadi bagian dari rantai pasok internasional,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Sebagai Ketua GPEI, Ade juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Sekolah Vokasi UNDIP yang telah memfasilitasi ruang dialog dan integrasi ini. Ia menilai kegiatan seperti ini merupakan pemantik penting yang dapat melahirkan wirausahawan vokasi yang tidak hanya tangguh, tetapi juga relevan secara global.
Dalam diskusi panel dan forum terbuka yang berlangsung setelahnya, para peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pelaku industri, pengusaha ekspor, dan perwakilan pemerintah, sepakat bahwa penguatan TEFA adalah fondasi untuk menciptakan world class vocational school. Sekolah vokasi tidak cukup hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga harus menyemai semangat kepemimpinan, inovasi, dan jejaring global.
Pendidikan vokasi juga harus memiliki akses pada teknologi terbaru, data pasar ekspor, serta pelatihan kewirausahaan berbasis pengalaman nyata. Hal ini bisa dicapai jika dunia pendidikan mampu membuka diri terhadap kolaborasi lintas sektor secara strategis dan konsisten.
Beberapa rekomendasi penting yang muncul dari forum ini antara lain:
1. Integrasi kurikulum vokasi dengan kebutuhan riil industri dan pasar ekspor, termasuk pelatihan logistik, sertifikasi ekspor, dan manajemen supply chain.
2. Penguatan kapasitas teaching factory sebagai tempat pembelajaran berbasis produksi nyata, dari proses hingga distribusi.
3. Pembentukan ekosistem pendukung seperti inkubator bisnis, akses pendanaan UMKM vokasi, dan jaringan mentoring dari pengusaha sukses.
4. Kolaborasi tiga pihak (triple helix) antara pemerintah, industri, dan akademisi untuk memastikan keberlanjutan inovasi dan relevansi vokasi dengan kebutuhan pasar.
Kepala Sekolah Vokasi UNDIP, dalam sambutannya, menyatakan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari roadmap transformasi pendidikan vokasi nasional. Vokasi tak boleh tertinggal dalam percepatan industri 4.0 dan 5.0, terlebih di tengah tuntutan pasar yang semakin global dan kompetitif.
> “Kami ingin Sekolah Vokasi menjadi jembatan antara anak muda dan dunia profesional global. Tidak hanya menghasilkan pekerja, tetapi pelopor industri dan pengusaha masa depan,” ujarnya.
Acara ini ditutup dengan harapan besar: bahwa pendidikan vokasi Indonesia akan semakin relevan, adaptif, dan berani menembus batas-batas tradisionalnya. Sinergi antara TEFA, industri, dan pemerintah adalah langkah awal untuk memastikan generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi peserta ekonomi global, tetapi pemiliknya. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar