Rabu, 08 Juli 2026 | 00:21
COMMUNITY

Merantau Memperkaya Diri Pulang Membangun Negeri

Merantau Memperkaya Diri Pulang Membangun Negeri
Abdullah Muzakir Walad (ai)

ASKARA - Suatu hari, seorang manajer perusahaan di Jakarta menerima panggilan yang mengubah arah hidupnya. Ia diminta pulang ke Aceh, bukan untuk mengembangkan usaha, melainkan mengemban amanah yang jauh lebih besar. Di balik keputusan itu tersimpan perjalanan panjang seorang guru, pejuang, perwira, dan profesional yang ditempa oleh pendidikan, pengalaman, serta pengabdian tanpa henti. Itulah kisah Abdullah Muzakir Walad.

Banyak pemimpin lahir dari lingkungan birokrasi atau dunia politik. Namun, sejarah Indonesia juga mencatat sosok-sosok yang tumbuh melalui lintasan pengabdian yang jauh lebih beragam. Abdullah Muzakir Walad merupakan salah satu di antaranya. Sebelum dipercaya memimpin Aceh, ia telah menjalani kehidupan sebagai pendidik, pejuang kemerdekaan, perwira militer, hingga manajer perusahaan. Setiap fase membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan, pelayanan publik, dan pembangunan masyarakat.

Abdullah Muzakir Walad lahir di Lubok Sukon, Aceh, pada 20 Agustus 1920, ketika Hindia Belanda masih berkuasa. Pada masa itu, kesempatan memperoleh pendidikan menengah hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat. Karena itu, keberhasilannya menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) hingga lulus pada 1939 menjadi capaian yang penting. Pendidikan modern membuka ruang bagi lahirnya generasi yang kelak memainkan peran dalam perjalanan bangsa.

Sesudah menamatkan MULO, ia memilih melanjutkan pendidikan ke Kweekschool Muhammadiyah Yogyakarta dan menyelesaikannya pada 1941. Pilihan itu mencerminkan minatnya terhadap dunia pendidikan sekaligus memperlihatkan kedekatannya dengan tradisi pembaruan Islam yang dikembangkan Muhammadiyah. Pada masa tersebut, sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan agama, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, semangat berkemajuan, tanggung jawab sosial, serta kecintaan kepada tanah air.

Yogyakarta pada awal dekade 1940-an merupakan salah satu pusat perkembangan intelektual pribumi. Di kota inilah berbagai gagasan tentang pendidikan, kebangsaan, dan pembaruan sosial berkembang dinamis. Lingkungan akademik yang terbuka memungkinkan para pelajar berinteraksi dengan beragam pemikiran yang kelak memperkaya perspektif mereka ketika kembali mengabdi di daerah masing-masing. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal berharga bagi Abdullah Muzakir Walad.

Setelah menyelesaikan pendidikan keguruan, ia kembali mengabdikan diri melalui profesi yang pada masa itu sangat dihormati masyarakat. Sejak 1942 hingga 1946, Abdullah Muzakir Walad mengajar sekaligus memimpin Sekolah Rakyat VI. Masa pengabdiannya berlangsung pada periode yang penuh gejolak, mulai dari pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan Indonesia. Di tengah keterbatasan sarana pendidikan dan situasi politik yang berubah cepat, tugas seorang guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menumbuhkan harapan serta membangun karakter generasi muda.

Pengalaman sebagai pendidik memberikan bekal yang kelak tampak dalam gaya kepemimpinannya. Seorang guru terbiasa mendengarkan, menjelaskan persoalan secara runtut, mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, serta menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal kepemimpinan, tetapi tumbuh dari praktik pengabdian sehari-hari.

Ketika situasi keamanan semakin dinamis menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, banyak kalangan terdidik memilih terlibat dalam berbagai bentuk persiapan pertahanan. Abdullah Muzakir Walad termasuk di antaranya. Ia mengikuti pendidikan kemiliteran yang berkembang pada masa itu, baik melalui lembaga yang pernah dibentuk pemerintah kolonial maupun pendidikan semi militer pada masa pendudukan Jepang. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada disiplin organisasi, kepemimpinan lapangan, serta pentingnya koordinasi dalam menghadapi situasi krisis.

Sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945, prioritas pengabdiannya berubah. Indonesia yang baru merdeka menghadapi ancaman untuk mempertahankan kedaulatan. Dalam situasi itu, Abdullah Muzakir Walad memilih meninggalkan dunia pendidikan dan bergabung bersama Lasykar Rakyat. Pilihan tersebut mencerminkan semangat banyak anak bangsa pada masa revolusi, ketika mempertahankan kemerdekaan dipandang sebagai tanggung jawab bersama yang melampaui kepentingan profesi maupun kehidupan pribadi.

Kemampuan, disiplin, dan ketekunannya kemudian memperoleh pengakuan ketika mengikuti Latihan Opsir Polisi Tentara Sumatera di Bukittinggi. Pada 1946, ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik dan menyandang pangkat Kapten. Prestasi tersebut bukan sekadar catatan akademik, tetapi juga menunjukkan kemampuannya dalam memahami strategi, kepemimpinan, dan organisasi pada masa revolusi. Bukittinggi sendiri ketika itu menjadi salah satu pusat penting pembinaan aparat keamanan di Sumatera yang berperan besar dalam mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri.

Kelulusan sebagai lulusan terbaik menjadi titik balik yang menentukan arah pengabdian Abdullah Muzakir Walad. Dari ruang kelas tempat ia mendidik generasi muda, ia melangkah menuju medan pengabdian yang lebih luas sebagai bagian dari aparat pertahanan negara. Perjalanan itu tidak berlangsung karena ambisi mengejar jabatan, melainkan karena tuntutan zaman yang meminta setiap orang memberikan kemampuan terbaiknya bagi republik yang baru lahir. Babak berikutnya memperlihatkan bagaimana pengalaman tersebut mengantarkannya pada tanggung jawab yang semakin besar, baik di lingkungan militer, dunia usaha, maupun pemerintahan.

Keberhasilan sebagai lulusan terbaik Latihan Opsir Polisi Tentara Sumatera membuka babak baru dalam perjalanan Abdullah Muzakir Walad. Di tengah situasi revolusi yang masih berlangsung, kebutuhan akan perwira yang memiliki disiplin, kemampuan organisasi, dan kecakapan memimpin menjadi sangat mendesak. Pengalaman sebagai pendidik berpadu dengan pendidikan militer yang telah ditempuh, membentuk bekal yang memungkinkannya memikul tanggung jawab lebih besar dalam menjaga keamanan pada masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia.

Karier militernya berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan penataan organisasi pertahanan di Aceh. Abdullah Muzakir Walad dipercaya menjadi Komandan Polisi Tentara Divisi X Kutaraja, sebuah satuan yang dibentuk di bawah kepemimpinan Daud Beureueh. Penugasan tersebut berlangsung pada periode ketika Aceh memainkan peranan penting sebagai salah satu daerah penyangga Republik. Menjaga disiplin pasukan dan ketertiban internal merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan stabilitas di tengah ancaman yang masih membayangi Indonesia.

Kepercayaan itu kemudian berlanjut ketika ia ditugaskan sebagai Komandan Batalion IV Corps Polisi Militer Sumatera. Jabatan tersebut menuntut kemampuan mengelola organisasi yang lebih besar sekaligus memastikan penegakan disiplin di lingkungan militer. Pada masa revolusi, Polisi Militer tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga berperan menjaga ketertiban di belakang garis depan sehingga roda pemerintahan dan perjuangan dapat berjalan secara lebih teratur.

Pengalaman memimpin dalam suasana yang penuh dinamika membentuk karakter kepemimpinannya. Keputusan sering kali harus diambil dalam waktu singkat dengan mempertimbangkan berbagai risiko. Situasi demikian menuntut ketegasan sekaligus kemampuan membaca persoalan secara menyeluruh. Pengalaman tersebut kelak menjadi modal penting ketika ia memasuki bidang pengabdian yang sama sekali berbeda.

Tahun 1952 menjadi penanda berakhirnya karier militernya. Abdullah Muzakir Walad diberhentikan secara hormat dari dinas militer dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Berakhirnya masa dinas bukan berarti berakhir pula semangat pengabdian. Sebaliknya, ia memilih membuka lembaran baru melalui jalur profesional di bidang usaha. Keputusan itu memperlihatkan kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan, sebuah kualitas yang tidak dimiliki setiap orang.

Pilihan berikutnya cukup menarik. Alih-alih tetap berada di lingkungan yang dekat dengan dunia militer atau pemerintahan, ia memutuskan merantau ke Jakarta. Pada awal dekade 1950-an, ibu kota berkembang menjadi pusat perdagangan, industri, dan kegiatan ekonomi nasional. Banyak perusahaan swasta mulai tumbuh seiring meningkatnya aktivitas pembangunan. Lingkungan yang kompetitif tersebut menjadi tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan manajerial sekaligus memahami dinamika ekonomi Indonesia yang sedang bertumbuh.

Di Jakarta, Abdullah Muzakir Walad dipercaya menjabat sebagai Manajer NV Permai selama kurang lebih tujuh tahun. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman kepemimpinan yang diperolehnya di dunia pendidikan dan militer dapat diterapkan dalam pengelolaan perusahaan. Dunia usaha menuntut pendekatan yang berbeda. Keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh kedisiplinan, tetapi juga kemampuan menyusun strategi, mengelola sumber daya, membangun kepercayaan, serta membaca peluang ekonomi.

Pengalaman di dunia bisnis memperluas cakrawala berpikirnya. Ia tidak hanya memahami bagaimana sebuah organisasi dijalankan, tetapi juga melihat hubungan antara investasi, perdagangan, lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat. Perspektif semacam ini menjadi bekal penting bagi seorang calon pemimpin daerah, karena pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan administratif, melainkan juga memerlukan pemahaman terhadap dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi.

Rekam jejaknya sebagai manajer akhirnya menarik perhatian berbagai kalangan di Aceh. Daerah yang sedang membangun membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki pengalaman birokrasi atau militer, tetapi juga memahami tata kelola organisasi modern. Abdullah Muzakir Walad kemudian diminta kembali ke tanah kelahirannya untuk memimpin sejumlah perusahaan daerah. Kepulangannya bukan sekadar perpindahan tempat bekerja, melainkan awal dari fase pengabdian baru yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat Aceh.

Setelah kembali ke Aceh, ia dipercaya memimpin beberapa perusahaan lokal dan ikut mendorong penguatan sektor ekonomi daerah. Pengalaman yang diperoleh selama merantau di Jakarta menjadi modal berharga dalam memperbaiki tata kelola organisasi serta meningkatkan profesionalisme dunia usaha. Kemampuan menghubungkan kepentingan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi salah satu kelebihan yang semakin menonjol dalam perjalanan kariernya.

Kepercayaan terhadap kapasitasnya juga terlihat ketika ia dipercaya sebagai Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Sementara di Aceh. Amanah tersebut menempatkannya pada posisi strategis untuk membangun komunikasi antara pelaku usaha dan pemerintah sekaligus mendorong pengembangan perdagangan daerah. Pengalaman tersebut semakin memperkaya pemahamannya mengenai tantangan pembangunan ekonomi yang dihadapi Aceh pada masa itu.

Perjalanan Abdullah Muzakir Walad memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak dibentuk oleh satu pengalaman tunggal. Dunia pendidikan memberinya kemampuan membina manusia, dunia militer mengajarkan disiplin dan ketegasan, sedangkan dunia usaha memperluas pemahamannya mengenai efisiensi, manajemen, dan pembangunan ekonomi. Perpaduan ketiga pengalaman tersebut melahirkan perspektif yang utuh dalam melihat persoalan masyarakat dari berbagai sudut pandang.

Ketika berbagai pengalaman itu bertemu dengan kebutuhan Aceh akan sosok pemimpin yang berintegritas dan memiliki kemampuan manajerial, jalan pengabdian Abdullah Muzakir Walad memasuki babak yang paling menentukan. Negara kemudian memanggilnya untuk mengemban amanah yang jauh lebih besar. Dari seorang guru di sekolah rakyat, perwira yang ditempa revolusi, hingga manajer perusahaan di ibu kota, seluruh perjalanan itu bermuara pada satu kepercayaan: memimpin Aceh sebagai kepala daerah di tengah era pembangunan nasional.

Pada 23 Maret 1968, perjalanan panjang Abdullah Muzakir Walad memasuki babak baru. Presiden Soeharto mengangkatnya sebagai Gubernur Aceh. Penunjukan itu lahir di tengah upaya pemerintah mempercepat pembangunan nasional sekaligus memperkuat stabilitas daerah. Bagi Abdullah Muzakir Walad, amanah tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian pengabdian yang telah ditempuh selama puluhan tahun melalui dunia pendidikan, perjuangan kemerdekaan, kemiliteran, dan dunia usaha.

Ketika mulai memimpin Aceh, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana. Infrastruktur masih terbatas, roda pemerintahan memerlukan pembenahan, sementara pembangunan ekonomi harus terus didorong agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam situasi seperti itu, seorang kepala daerah dituntut tidak hanya mampu menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga menyusun prioritas pembangunan yang realistis dan berkelanjutan.

Salah satu kebijakan penting pada masa kepemimpinannya adalah penyederhanaan struktur pemerintahan melalui penghapusan sistem kewedanan di Aceh. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penataan birokrasi agar rentang kendali pemerintahan lebih efektif dan pelayanan kepada masyarakat berlangsung lebih cepat. Langkah ini menunjukkan bahwa pembaruan kelembagaan menjadi salah satu perhatian penting dalam masa kepemimpinannya.

Reformasi birokrasi pada dasarnya bukan sekadar mengubah struktur organisasi, melainkan juga memperbaiki cara kerja pemerintahan. Penyederhanaan jenjang administrasi diharapkan mampu mempercepat proses pengambilan keputusan, meningkatkan koordinasi antarinstansi, serta mengurangi hambatan pelayanan publik. Kebijakan seperti ini menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan daerah yang berorientasi pada efektivitas.

Di luar pembangunan pemerintahan, Abdullah Muzakir Walad juga memberikan perhatian terhadap pelestarian sejarah. Salah satu langkah yang banyak dikenang adalah usul pemindahan makam Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler ke Kompleks Kerkhoff Banda Aceh. Pemindahan tersebut dilakukan untuk menyelamatkan makam dari rencana penggusuran di Jakarta sekaligus menjaga keberadaan salah satu situs sejarah yang berkaitan dengan perjalanan panjang Aceh pada masa kolonial.

Kebijakan itu memperlihatkan bahwa pelestarian sejarah tidak selalu berkaitan dengan penghormatan terhadap tokoh tertentu, melainkan merupakan bagian dari upaya menjaga jejak masa lalu sebagai sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya. Sejarah, betapapun kompleksnya, tetap memiliki nilai sebagai bahan refleksi untuk memahami perjalanan bangsa secara lebih utuh.

Perhatian terhadap pembangunan intelektual juga tampak melalui berdirinya Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh pada tahun 1977. Kehadiran lembaga tersebut menjadi langkah penting dalam menghimpun arsip, naskah, dokumen, dan berbagai bahan pustaka mengenai Aceh. Pada masa ketika dokumentasi masih dilakukan secara konvensional, keberadaan pusat informasi seperti ini merupakan investasi jangka panjang bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian identitas daerah.

Dokumen sejarah bukan sekadar kumpulan arsip, tetapi merupakan memori kolektif suatu masyarakat. Melalui dokumentasi yang baik, pengalaman pembangunan, kebudayaan, dan perjalanan pemerintahan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Gagasan inilah yang menjadikan pendirian pusat dokumentasi memiliki arti strategis bagi perkembangan Aceh hingga sekarang.

Kepercayaan terhadap kepemimpinan Abdullah Muzakir Walad juga tercermin ketika ia dipercaya menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Amanah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman dan pemikirannya tidak hanya dibutuhkan di tingkat daerah, tetapi juga memperoleh ruang dalam kehidupan ketatanegaraan di tingkat nasional. Pengalaman memimpin Aceh memberinya perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara kebijakan pusat dan kebutuhan daerah.

Setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur, Abdullah Muzakir Walad tidak sepenuhnya meninggalkan aktivitas profesional. Pengalaman panjang dalam pemerintahan dan dunia usaha membuatnya tetap dipercaya memberikan kontribusi sebagai Penasihat Mobil Oil Indonesia dan Konsultan PT Arun LNG. Kedua amanah tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi kepemimpinan, kemampuan manajerial, dan pengalamannya tetap memperoleh penghargaan dari berbagai kalangan.

Perjalanan setelah tidak lagi menjabat menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu identik dengan jabatan publik. Pengetahuan, pengalaman, dan integritas tetap dapat memberikan manfaat melalui berbagai peran lain. Banyak tokoh yang tetap berkontribusi bagi pembangunan bangsa setelah menyelesaikan tugas pemerintahan, baik sebagai penasihat, konsultan, akademisi, maupun pembina organisasi.

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Abdullah Muzakir Walad membentuk sebuah rangkaian yang utuh. Ia memulai pengabdian sebagai guru, kemudian menjadi pejuang mempertahankan kemerdekaan, berkembang sebagai perwira militer, memperluas pengalaman melalui dunia usaha di Jakarta, kembali membangun Aceh melalui sektor ekonomi, lalu dipercaya memimpin provinsi sebagai gubernur. Setiap fase bukanlah jalan yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam membentuk kapasitas kepemimpinan.

Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa pengalaman merantau tidak harus menjauhkan seseorang dari tanah kelahirannya. Justru pengalaman yang diperoleh di berbagai tempat dapat menjadi bekal untuk kembali membangun daerah asal dengan wawasan yang lebih luas, kemampuan yang lebih matang, dan jaringan yang lebih kuat. Dalam banyak hal, merantau menjadi proses belajar, sedangkan pulang merupakan wujud tanggung jawab kepada masyarakat yang telah membesarkan seseorang.

Warisan Abdullah Muzakir Walad tidak hanya tercermin pada jabatan yang pernah diemban atau kebijakan yang pernah diambil. Yang lebih penting adalah teladan mengenai arti konsistensi dalam mengabdi. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan dibangun melalui proses panjang, kesediaan belajar dari berbagai pengalaman, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta komitmen menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Karena itulah, namanya tetap dikenang sebagai salah seorang tokoh penting dalam sejarah Aceh yang mengabdikan seluruh perjalanan hidupnya bagi daerah, bangsa, dan negara.

Komentar