Senin, 06 Juli 2026 | 20:55
COMMUNITY

Elpala SMA 68 Jakarta Mulai Ekspedisi Halimun-Cicatih untuk Film Dokumenter

Elpala SMA 68 Jakarta Mulai Ekspedisi Halimun-Cicatih untuk Film Dokumenter
Anggota Ekspedisi Citatih tengah mendapat pengarahan (Dok Hendrata)

ASKARA - Semangat petualangan, konservasi, dan regenerasi kembali menyatu dalam sebuah ekspedisi besar yang digagas Rumah Elpala, wadah alumni Elpala SMA Negeri 68 Jakarta. Bersama anggota aktif Elpala SMA Negeri 68 Jakarta, mereka tengah memproduksi film dokumenter yang merekam perjalanan menyusuri hutan hujan tropis Taman Nasional Gunung Halimun Salak hingga mengarungi Sungai Cicatih menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Ekspedisi yang berlangsung pada 4–11 Juli 2026 itu merupakan hasil kolaborasi Rumah Elpala dengan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kemenhut dan organisasi pencinta alam legendaris WANADRI, serta mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan. 

Selama delapan hari, para peserta menjelajahi rimba, pendakian gunung, rapelling di air terjun dan akan merekam keanekaragaman hayati, keindahan alam sekaligus mendokumentasikan nilai-nilai konservasi, pendidikan karakter, dan semangat kebersamaan yang menjadi napas organisasi pencinta alam. 

Bagi Rumah Elpala, ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan menembus hutan dan sungai. Film dokumenter yang diproduksi diharapkan menjadi warisan pengetahuan bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga kawasan konservasi sebagai sumber kehidupan jutaan masyarakat yang berdiam sekitaran hutan dan sungai, sekaligus memperlihatkan bagaimana alam membentuk karakter, kepemimpinan, disiplin, dan solidaritas.

Perjalanan dimulai dari pembangunan base camp di Cimelati sebelum tim bergerak memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Mereka akan menempuh jalur pendakian menuju Pos 5, melanjutkan perjalanan ke lembahan di kawasan hutan primer, kemudian keluar menuju Leuwi Lalay untuk memasuki etape berikutnya berupa pengarungan Sungai Cicatih bersama tim WANADRI hingga mencapai Pelabuhan Ratu sebagai lokasi akhir pengambilan gambar. Seluruh tahapan ekspedisi telah dirancang secara sistematis, mulai dari trekking, pendirian camp, briefing, hingga proses pengambilan gambar di berbagai titik perjalanan. 

Tim inti ekspedisi diperkuat Muhammad Nabil, Galuh Parto Legawa, Tiffany Sheena, dan Muhamad Sabil. Mereka didukung tim lapangan yang terdiri atas Ahmad Farel, A. Wirara Jagatraya, Gibran Ramadhan, Muhammad Rasha Arda Pratama, Joko Purnomo Aji, dan Habibie Teguh Zaelani.

Di Base Camp, operasional kegiatan dikendalikan oleh Raihana Hayatunufus, Syahira Putria Adantie, dan Akmal Kurniawan yang memastikan seluruh kebutuhan logistik, komunikasi, dan koordinasi selama ekspedisi berjalan lancar.

Sementara itu, Rumah Elpala juga menurunkan tim pendukung yang terdiri atas Eka Bama Putra, Wina Maria, Mohammad Farish, Surya Pagi Asa, Hendrata Yudha, Aletha, Milo Sebastian, Susan Indahwati, Hizkia Mandagie, dan Tomi Budiarto. Kehadiran para alumni menjadi bukti bahwa ikatan antargenerasi di Elpala tetap terjaga dan terus memberikan ruang belajar bagi anggota muda.

Melalui film dokumenter ini, Rumah Elpala ingin menghadirkan kisah yang lebih dari sekadar petualangan. Setiap langkah di jalur pendakian, setiap jeram yang diarungi, dan setiap momen kebersamaan menjadi cerita tentang kecintaan terhadap alam Indonesia serta pentingnya menjaga hutan dan sungai sebagai warisan yang harus terus dilestarikan.

Ekspedisi ini juga menjadi simbol bahwa regenerasi organisasi pencinta alam tidak hanya dilakukan melalui pendidikan di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di alam bebas, tempat nilai tanggung jawab, keberanian, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan tumbuh secara nyata.

 

Komentar