Renungan 50 Tahun TRAMP: Dari Kawah Candradimuka ke Atap Dunia
5 Juni 1970 – 5 Juni 2020
ASKARA - Ada jejak yang tak lekang oleh waktu, bukan karena langkahnya panjang, tapi karena jejak itu ditorehkan dengan perjuangan, kesetiaan, dan cinta. Bagi saya, jejak itu bernama TRAMP (Top Ranger And Mountain Pathfinder).
Saya masuk TRAMP sebagai remaja biasa. Tak tahu arah, belum tahu makna hidup. Tapi kemudian saya masuk ke dalam kawah candradimuka bernama Pendidikan Dasar TRAMP selama tiga minggu yang mengubah seluruh hidup saya. Saya meninggalkan rumah, keluarga, dan kesenangan masa muda. Yang saya temui: kerasnya pelatihan, dinginnya malam, rasa lapar, haus, letih yang panjang, dan mental diuji tanpa henti.
Tapi dari situlah saya ditempa menjadi pribadi tangguh. Saya belajar bahwa setiap cobaan bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menguatkan, membentuk kita agar kelak menjadi manusia yang tidak mudah menyerah.
Saya pulang membawa sebuah sertifikat bertanda tangan Panglima Kodam Jaya saat itu, Mayor Jenderal TNI Try Sutrisno, bukti bahwa saya telah lulus dari medan didik paling berat yang pernah saya alami. Tapi lebih dari sekadar kertas, saya membawa nilai hidup, Tabah Sampai Akhir.
Bermodal semangat TRAMP, saya kemudian mendirikan klub pencinta alam di SMA 68 Jakarta pada tahun 1986, yang hingga hari ini masih terus eksis, 40 angkatan, menjadi rumah bagi generasi muda yang ingin mengenal alam dan mengenali dirinya sendiri.
Tak berhenti di sana, bersama para pendaki TRAMP, kami mengibarkan bendera kebanggaan di empat puncak tertinggi dunia: Carstensz Pyramid di Papua, Atap Indonesia; Aconcagua di Argentina, Atap Amerika Selatan; Elbrus di Rusia, Atap Eropa; dan Kilimanjaro di Tanzania, Atap Afrika.
Kami bukan menaklukkan puncak-puncak gunung, tapi puncak-puncak keraguan dan rasa takut dalam diri kami sendiri.
TRAMP mengajarkan saya:
Menjadi tinggi bukan soal berdiri di atas,
tapi soal seberapa dalam kaki kita berpijak,
dan seberapa tulus kita merangkul mereka yang berjalan bersama.
Di ulang tahun ke-50 ini, saya ingin mengucapkan terima kasih terdalam kepada para pendiri dan sesepuh TRAMP, seperti Rolando Edmond T 001 P dan Alm. Iskandar Akbar T 002 P, serta seluruh senior beserta keluarga besar TRAMP yang telah menyalakan pelita jalan kami hingga hari ini.
Kita mungkin datang dari latar belakang yang berbeda. Tapi kita dipersatukan oleh tenda yang sama: tenda semangat, persaudaraan, dan kesetiaan.
Selamat ulang tahun ke-50 TRAMP.
Engkau bukan hanya organisasi pencinta alam, engkau adalah tempat kami mengenal makna hidup yang sebenarnya.
Dan selama aku hidup,
jejak TRAMP akan selalu aku bawa dalam setiap langkahku,
dalam setiap pendakian, dan dalam setiap nilai yang kutanamkan
kepada generasi selanjutnya.
Salam hormat,
Salam rimba,
Salam juang,
TRAMP tetap satu.
Tabah Sampai akhir
T 160 SB

Komentar