Titek Sirih, Tradisi Kejawen Simbol Restu Leluhur dalam Pernikahan Jawa
ASKARA — Tradisi adat Jawa selalu menyimpan makna simbolik yang dalam, termasuk Titek Sirih, sebuah prosesi unik dalam pernikahan yang sarat nilai-nilai kearifan lokal. Menurut praktisi budaya Kejawen-Tionghoa, Tjen Vivien Clarin, Titek Sirih merupakan salah satu tahapan penting dalam prosesi pernikahan adat campuran Kejawen-Tionghia yang kini mulai dihidupkan kembali oleh generasi muda.
Titek Sirih adalah ritual membawa kotak nyirih (sirih lengkap) yang diserahkan khusus untuk nenek dari pihak pengantin pria. Prosesi ini dilakukan saat pengantin wanita pertama kali menginjakkan kaki ke rumah pengantin pria pada hari H pernikahan.
“Ini adalah langkah awal sebelum pengantin wanita benar-benar masuk rumah. Sirih yang dibawa memiliki filosofi penyatuan, penghormatan, dan penerimaan dari keluarga besar, khususnya leluhur melalui perwakilan tertua, yakni nenek,” jelas Tjen Vivien, Minggu (1/6).
Kotak nyirih yang dibawa biasanya berisi daun sirih, pinang, kapur, dan perlengkapan nyirih lainnya. Selain sebagai lambang penghormatan, benda ini juga mencerminkan niat baik dan kesungguhan pihak perempuan untuk diterima dalam keluarga besar pengantin pria.
Tradisi ini sekaligus menjadi bentuk permohonan restu dan ikatan batin antargenerasi. Dengan menyerahkan kotak nyirih kepada sang nenek, prosesi ini menjadi simbol bahwa pernikahan tidak hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga besar — termasuk jiwa-jiwa yang lebih tua yang dihormati dalam budaya Jawa.
Meski tak selalu dijumpai dalam setiap pernikahan modern, Titek Sirih mulai banyak dihidupkan kembali sebagai bagian dari pelestarian budaya leluhur, sekaligus bentuk penghormatan terhadap akar tradisi yang sarat nilai spiritual dan sosial.

Komentar