Jumat, 24 Juli 2026 | 01:41
Ruang Menulis

Cerpen: Dua Detik Terakhir di Ruang Operasi

Cerpen: Dua Detik Terakhir di Ruang Operasi
Ilustrasi

ASKARA - Langit Sinarjati sore itu memerah. Awan menggumpal bagai luka yang belum dijahit, menggantung murung di atas atap atap rumah yang berderet bagai pasien menunggu giliran.

Di lantai dua Rumah Sakit Ibu Anak Murni Sejahtera, tempat yang mestinya senyap oleh doa dan detak monitor, dua perempuan berseragam hijau toska sibuk bercakap pada layar ponsel, seperti sepasang remaja yang menanti likes dari dunia.

“Mas Riza lagi kerja itu di belakang, guys. Bayinya udah lahir, cowok. Tinggal jahit luka, guys,” ucap Nesa, mata berbinar ke kamera depan, suara nyaring membelah ruang operasi.

Tangannya menari, menggeser komentar netizen yang masuk deras seperti peluru, seakan dunia luar lebih penting dari tubuh perempuan di ranjang itu, yang masih basah oleh darah, peluh, dan harap.

Di belakangnya, Rani menjahit luka di perut pasien. Tangan kirinya menahan kulit yang terbuka, tangan kanan memegang jarum, keningnya berkilat oleh keringat dan lampu bedah. Tapi satu sudut bibirnya terangkat, seolah turut tertawa dengan komentar yang dibacakan Nesa.

“Ada yang bilang, Mas Riza mirip dokter Korea,” kata Nesa, tertawa renyah.

Namun tubuh yang terbaring diam itu tidak ikut tertawa. Mata pasien tertutup, kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Di sisi kirinya, ada tirai hijau pembatas, tapi dunia virtual telah menembusnya. Privasi telah diretas hanya oleh koneksi internet dan sejumput rasa ingin populer.

Kabar itu pecah dua jam kemudian. Seorang netizen merekam siaran langsung, lalu mengunggah ulang dengan caption menggelegak: “Operasi atau Komedi?” Dalam dua jam, video itu telah ditonton puluhan ribu kali, disebar ke grup grup WhatsApp, masuk ke meja redaksi, dan akhirnya sampai ke telinga direktur rumah sakit.

Namanya dr. Samira Pramudita. Seorang perempuan lima puluh tahun, dengan mata setajam sepi di ruang jenazah. Begitu video itu diputarnya, wajahnya tidak berubah. Tapi jari jarinya mengetuk meja tiga kali, sebuah sinyal.

“Nesa. Rani. Ke ruang saya sekarang."

“Dok… itu cuma buat seru seruan. Gak ada niat jahat,” kata Nesa, suaranya melengking. Di sisi lain, Rani menunduk. Jari jarinya meremas tisu di pangkuan.

“Seru seruan di ruang operasi? Di atas tubuh pasien yang belum sadar? Di ruang yang harusnya steril dan sakral?” Suara Samira bagai jarum masuk ke daging tanpa anestesi.

“Tapi gak ada yang dirugikan…”

“Tidak ada yang dirugikan?” Samira menyandarkan tubuh, menghela napas seperti hendak menahan kemarahan yang mendidih. “Privasi pasien kalian tayangkan ke publik. Integritas profesi kalian koyakkan hanya demi komentar. Dan kalian bilang tidak ada yang dirugikan?”

Sunyi. Hanya terdengar detik jam yang melambat, seperti jantung pasien yang mulai kehilangan denyut.

“Saya tidak akan menunggu Komite Etik. Saya sebagai direktur langsung mengambil keputusan,” kata Samira, suaranya tajam namun bergetar di ujung. “Kalian berdua, mulai detik ini, saya berhentikan secara tidak hormat.”

“Bu, mohon... tolong beri kami kesempatan. Kami menyesal…”

“Penyesalan kalian datang setelah dunia melihat,” ucap Samira. “Tapi yang lebih penting, bagaimana jika pasien itu adalah adik kalian? Ibu kalian? Apa kalian masih sanggup tertawa saat lukanya kalian jadikan tontonan?

Malam itu, langit Sinarjati seperti tahu ada dua hati yang remuk. Nesa duduk di teras kosnya, menatap ponsel yang kini sepi. Tidak ada komentar, tidak ada siaran ulang. Yang ada hanya notifikasi pemecatan, hujatan, dan tagar #NakesTanpaEtika.

Rani belum bicara sepatah kata pun sejak siang. Ia menatap langit, mengingat suara tangis bayi yang lahir siang itu, suara pertama yang disambut suara tawa mereka, bukan doa.

“Apakah kita benar benar sekejam itu?” bisik Rani.

Nesa terdiam. Di benaknya, terngiang suara komentar netizen yang dulu membuatnya senang: “Kalian gokil! Room tour ruang operasi dong!”

Dulu ia pikir itu pujian. Kini, itu cambuk.

Beberapa minggu kemudian, Samira duduk di bangku taman rumah sakit. Di depannya, duduk seorang pria dengan rambut mulai memutih. Wartawan. Ia sedang menulis laporan tentang etika dalam dunia medis.

“Saya ingin bertanya satu hal, Dok,” katanya.

“Silakan.”

“Kenapa Ibu memecat mereka secepat itu, tanpa pembinaan dulu?”

Samira menatap bunga kamboja yang gugur di tanah. “Karena luka yang mereka timbulkan tidak kasat mata. Tapi dalam. Teramat dalam. Untuk pasien, untuk profesi kami, untuk rumah sakit ini.”

Wartawan itu mengangguk pelan.

“Dan satu hal lagi,” ucap Samira.

“Apa itu?”

“Ruang operasi bukan hanya tempat menyembuhkan. Ia adalah altar. Tempat hidup dan mati berdiri bersebelahan. Jika di situ kita bercanda, kita bukan penyelamat. Kita badut berdarah.”

Nesa kini bekerja sebagai penjaga toko alat kesehatan. Saban hari ia melihat jarum, benang, dan gaun operasi, tapi tak lagi boleh menyentuhnya. Kadang ia berpikir, apakah satu video sepadan dengan hilangnya karier?

Rani memilih pulang ke kampung. Ia mengajar di sekolah keperawatan swasta. Ia memulai dari awal, berjanji tidak akan membiarkan satu pun muridnya lupa bahwa etika lebih penting dari eksistensi.

Sementara pasien itu? Ia sudah pulih. Sudah menggendong anaknya, sudah melupakan banyak hal, kecuali satu: rasa tak nyaman ketika membuka ponsel dan mendapati tubuhnya ditayangkan ke dunia saat ia tak berdaya.

Di langit Sinarjati, mentari kembali menyala. Tapi bagi mereka yang pernah mengkhianati sumpah profesi, cahaya itu akan selalu mengingatkan: tidak semua terang berasal dari layar. Ada yang datang dari dalam diri, dan pantang dijual demi sorotan sesaat. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar