Paus Leo XIV Resmi Duduki Takhta Uskup Roma di Basilika Lateran
ASKARA – Dalam sebuah upacara khidmat di Basilika Santo Yohanes Lateran, Paus Leo XIV secara resmi mengambil alih Takhta Uskup Roma, sesuai tradisi yang dilakukan pada awal masa kepausan. Duduk di Takhta tersebut, Paus menegaskan perannya sebagai saksi Kristus dan simbol "potestas docendi" wewenang untuk mengajar dalam ketaatan kepada iman.
"Paus bukanlah seorang penguasa absolut," tegas Leo XIV dalam homilinya. "Sebaliknya, pelayanan kepausan adalah jaminan ketaatan kepada Kristus dan Firman-Nya."
Mengawali homilinya, Paus Leo XIV mengenang Paus Fransiskus, yang kerap mengajak umat untuk merenungkan sisi keibuan Gereja, kelembutan, kesiapan untuk berkorban, serta kemampuan mendengarkan dan merespons kebutuhan bahkan sebelum disampaikan.
"Ciri-ciri ini adalah kualitas yang ingin kita tumbuhkan dalam seluruh umat Allah, termasuk di keluarga besar keuskupan ini: di antara umat dan para gembala, dimulai dari diri saya sendiri," ungkapnya, Minggu (25/5).
Paus juga menekankan pentingnya menghadapi tantangan pewartaan Injil dengan mendengarkan suara Allah dan menjalin dialog. Komuni dalam Gereja, lanjutnya, dibangun pertama-tama lewat doa dan komitmen untuk terus bertobat.
"Kita tidak pernah sendirian dalam pilihan-pilihan hidup," kata Leo XIV. "Roh Kudus menyertai kita, menunjukkan jalan, hingga kita menjadi ‘surat Kristus’ bagi satu sama lain."
Paus menyampaikan apresiasinya terhadap perjalanan berat Keuskupan Roma dalam menghadapi berbagai tantangan, dan menyatakan niatnya untuk turut serta secara aktif. "Saya ingin terlibat langsung, mendengarkan semua pihak, belajar, memahami, dan mengambil keputusan bersama," ujarnya, mengutip Santo Agustinus: "Untuk kalian aku adalah uskup, bersama kalian aku adalah seorang Kristen."
Mengakhiri homilinya, Paus Leo XIV menyatakan kasih sayangnya kepada keluarga keuskupan barunya dan keinginannya untuk berbagi suka dan duka, lelah dan harapan bersama umat. "Saya juga mempersembahkan apa pun yang saya miliki dan saya miliki," ucapnya, mengutip Beato Yohanes Paulus I dalam momen serupa tahun 1978.

Komentar