OPM Umumkan Perang, ini Perintah Konyol dari Pasukan Imajinasi
ASKARA — Dalam siaran pers yang lebih mirip naskah sinetron kolosal daripada dokumen militer resmi, kelompok bersenjata TPNPB Kodap III Ndugama Derakma kembali unjuk gigi... atau tepatnya unjuk gaya. Mereka mengumumkan "perang besar" dengan struktur pasukan tiga Kowip (yang entah singkatan apa) dan 13 Batalion, lengkap dengan jargon keras dan perintah aneh yang bikin warga sipil bingung: "Ini ancaman atau lawakan?"
Berikut cuplikan Perintah Ajaib dari Kodap III:
1. Evakuasi Mayat TNI, Deadline Senin. Jika Gereja dan HAM tidak gerak cepat, Wamena akan "ditutup." TPNPB seolah berpikir Wamena seperti warung bakso yang bisa ditutup seenaknya.
2. Mobil Wajib Turun Kaca. Mungkin biar pasukan bisa lihat siapa yang ganteng dan siapa yang layak dicurigai. Terpal juga dilarang. Kenapa? Karena spionase paling menakutkan itu ada di bawah terpal, mungkin.
3. Dilarang Gaya Ganteng Naik Motor. Warga dilarang pakai helm dan bergaya ala aparat. Artinya, harus tampil lusuh dan bingung agar tidak dianggap musuh. Kriteria baru, penampilan seperti "orang baru bangun tidur."
4. HP Bakal Disita. Karena jelas, senjata paling berbahaya bagi mereka bukan M-16, tapi Instagram dan TikTok.
5. Kami Sudah Jadi Korban, Maka Wamena Akan Kami Buat Neraka. Sebuah logika klasik dari kaum tukang ngamuk, kalau aku susah, semua harus susah.
6. Pilot Asli Papua Dilarang Terbang. Ini entah bentuk nasionalisme atau diskriminasi terbalik. Intinya, semua orang salah kecuali mereka.
7. Senjata Sudah Ada di Wamena. Sebuah kalimat pamer yang tak jelas, apakah ini ancaman atau status galau di Facebook.
Pernyataan ditutup dengan parade gelar: dari Jenderal Goliath sampai Mayor Telenggen. Sebuah deretan nama yang lebih cocok jadi karakter Game of Thrones, Papua Edition.
Catatan: TPNPB atau akrab disebut OPM semakin kehilangan arah. Di saat warga Papua membutuhkan pendidikan, rumah sakit, dan akses internet, mereka malah sibuk membuat larangan gaya rambut dan membuka kaca mobil.
Perjuangan? Ini bukan perjuangan. Ini ego bersenjata.
Dan seperti biasa, yang jadi korban tetap rakyat sipil.
Yang teriak "perang", tidur di hutan.
Yang mati? Anak muda.
Yang menderita? Ibu dan anak.
Yang tertawa? Mereka yang nonton dari luar negeri sambil upload "laporan perang" ke grup WA.

Komentar