Asap Putih dari Kapel Sistina, Tanda Lahirnya Paus Pertama dari Amerika Serikat
ASKARA - Asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina pada Kamis (8/5/2025) pukul 18:07 waktu setempat, menandai berakhirnya konklaf dan terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik. Tradisi kuno itu menjadi isyarat bagi umat Katolik di seluruh dunia: Paus baru telah terpilih.
Tak lama berselang, nama Kardinal Robert Francis Prevost diumumkan sebagai Paus ke-267 Gereja Katolik. Ia memilih nama kepausan Leo XIV, menjadikannya Paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Serikat. Sosok kelahiran Chicago tahun 1955 itu tampil di balkon Basilika Santo Petrus, memberikan sapaan dan berkat pertama kepada umat dari seluruh dunia yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.
Pemilihan Leo XIV menjadi momen bersejarah yang menggambarkan arah baru Gereja Katolik. Sebelumnya, tidak pernah ada warga Amerika Serikat yang menduduki takhta Santo Petrus, simbol tertinggi dalam hierarki Katolik. Pemilihannya juga menandai keberlanjutan semangat reformasi yang telah ditanamkan oleh mendiang Paus Fransiskus.
Prevost dikenal luas sebagai figur moderat yang dekat dengan Paus Fransiskus. Sebelum terpilih sebagai Paus, ia menjabat sebagai Prefek Dikasteri untuk Para Uskup—kantor penting di Vatikan yang bertanggung jawab atas pengangkatan para uskup di seluruh dunia. Ia juga menjadi Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, wilayah yang menjadi rumah bagi hampir 40 persen umat Katolik global.
Karier spiritual Leo XIV banyak dibentuk oleh pengabdiannya sebagai misionaris di Peru. Ia pertama kali tiba di Amerika Selatan pada 1985 bersama Ordo St. Augustine dan bekerja selama satu dekade di Trujillo. Pada 2014, ia kembali ke Peru untuk memimpin Keuskupan Chiclayo. Pengalaman pastoral inilah yang membentuk empatinya terhadap umat di wilayah pinggiran, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus semasa hidup.
Dalam wawancara dengan Vatican News, Prevost pernah mengatakan bahwa dirinya tak pernah berhenti merasa sebagai seorang misionaris. “Panggilan saya, seperti setiap orang Kristen, adalah untuk mewartakan Injil di mana pun saya berada,” ujarnya.
Setelah wafatnya Paus Fransiskus dalam usia 88 tahun, konklaf digelar secara tertutup oleh 135 kardinal yang memiliki hak pilih. Meski hasil suara tidak diumumkan secara publik, Paus terpilih dipastikan mengantongi setidaknya dua pertiga suara atau minimal 90 suara.
Sebelum tampil ke publik, Paus Leo XIV terlebih dahulu mengenakan jubah putih kepausan di ruangan yang dikenal sebagai “Ruangan Air Mata”—sebuah tempat refleksi pribadi di balik Kapel Sistina, tempat di mana beban tanggung jawab menjadi pemimpin 1,3 miliar umat Katolik dunia dirasakan pertama kali.
Langkah Leo XIV dinilai sebagai kelanjutan semangat reformasi Gereja. Ia disebut-sebut sebagai sosok yang memperluas partisipasi perempuan dalam Vatikan, salah satunya dengan memasukkan tiga perempuan dalam komisi pemungutan suara untuk seleksi uskup.
Dengan latar belakang ganda—warga negara Amerika Serikat dan Peru—Paus Leo XIV dipandang sebagai jembatan antara dunia Barat dan Selatan. Sikapnya yang "soft spoken" namun tegas, serta kedekatannya dengan akar-akar pelayanan pastoral, membuat banyak pihak berharap akan arah Gereja yang lebih inklusif dan berpihak pada kaum marjinal. (Dwi Taufan Hidayat (

Komentar