Selasa, 14 Juli 2026 | 04:00
NEWS

Digitalisasi Dunia Pendidikan Diingatkan Bermata Dua

Digitalisasi Dunia Pendidikan Diingatkan Bermata Dua
Pengamat Pendidikan Darmaningtyas (dok)

ASKARA- Digitalisasi dunia pendidikan suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari karena sudah menjadi tuntutan zaman. Namun perlu diingat kalau digitalisasi itu bisa bermata dua.  Satu sisi  bisa membawa kemajuan untuk dunia pendidikan dan di sisi lain  bisa memperlebar kesenjangan pendidikan antara sekolah-sekolah yang ada di perkotaan dengan yang ada di pedesaan,  terutama yang belum memiliki infrastruktur listrik dan internet.

Demikian pandangan Pengamat Pendidikan Darmaningtyas pada  dialektika demokrasi yang digagas Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI dengan tajuk 'Perkuat Digitalisasi hingga ke Pelosok, Senjata Ampuh Tekan Ketimpangan Pendidikan', di kompleks parlemen, Senayan, Kamis (8/5/2025).  Pembicara lainnya Direktur Rumah Literasi 45, Andreas.

Dia menyebut ada sebanyak 3000 desa yang belum teraliri listrik dan ada 13.000 desa yang belum memiliki akses internet. Nah, desa-desa ini menurut Darmaningtyas pasti juga punya sekolah. Masalah ini ujarnya menjadi PR yang belum sepenuhnya bisa diselesaikan.

“Jadi kalau mau digitalisasi pendidikan maka pemerintah tidak hanya cukup membagi-bagi TV cerdas ke sekolah-sekolah tetapi juga pemerintah itu menyiapkan infrastruktur yang baik terutama untuk listrik dan internet di daerah-daerah yang belum memiliki jaringan listrik dan internet,” ujarnya.

Sementara sekolah di luar Jawa  juga masih menyimpan masalah. Menurut dia, di sana persoalannya bukan hanya memiliki jaringan listrik atau sudah, tetapi masalah yang lain adalah listriknya sering mati. Kondisi ini berbeda dengan  kota besar  seperti Jakarta, Jawa dan Bali mungkin relatif stabil jaringan listriknya.

“Kita harus pahami kalau luar Jawa itu listrik sering diabet,” kata Darmaningtyas.

Nah ketika diabet itu terjadi, dia melanjutkan tentunya akan mengganggu proses pembelajaran yang bersifat online.  Di sisi lain selain masalah itu menurut dia, adalah masalah pembangunan BTS yang kemarin dikorupsi.  Darmaningtyas balik bertanya apakah pembangunannya masih dilanjutkan atau tidak.

“Penyebaran jaringn internet di daerah-daerah perlu dilakukan secara merata ke daerah yang belum memiliki interne. Kalau tidak bisa segera dilakukan sementara pembagian  TV cerdasnya sudah akan dilakukan pada pertengahan tahun 2026 maka nanti akan timbul kesenjangan pendidikan yang semakin lebar antara sekolah-sekolah yang ada di perkotaan dengan yang ada di pedesaan,” tegasnya. (dry)

Komentar