Tembok Kolam Tandon Air Ponpes Gontor 5 Magelang Roboh, 20 Santri Tertimpa Longsoran
ASKARA - Musibah terjadi di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Jumat (25/4) pagi. Sebuah tembok kolam tandon air di lingkungan pesantren tersebut roboh dan menimpa sekitar 20 santri yang saat itu sedang mandi dan mengantre di area kamar mandi. Insiden ini mengundang keprihatinan mendalam dari keluarga santri, masyarakat, dan pihak pengelola pondok.
Peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Menurut kesaksian Guru Senior Pondok Gontor 5, Muhib Huda Muhammady, tembok penahan kolam tandon air secara tiba-tiba ambrol ke arah area kamar mandi santri. Saat kejadian, banyak santri sedang beraktivitas rutin, sebagian mandi, dan sebagian lain mengantre giliran.
"Beberapa santri terdampak adalah kelas IV, V, dan VI. Mereka langsung dilarikan ke RSUD Merah Putih untuk mendapatkan penanganan medis," ujar Muhib saat ditemui seusai evakuasi.
Muhib menambahkan bahwa sebagian besar santri mengalami luka ringan seperti lecet, memar, hingga syok akibat benturan dan tertimpa material bangunan. Namun demikian, pihak pondok dan tenaga medis tetap melakukan observasi menyeluruh guna memastikan tidak ada cedera internal atau komplikasi yang mungkin tidak langsung terlihat.
Diduga kuat penyebab robohnya tembok adalah karena pergeseran tanah atau longsor yang melemahkan struktur penahan air. Area kolam tandon air tersebut berada di ketinggian yang berdekatan dengan jalur drainase alami, sehingga saat curah hujan tinggi, tekanan tanah dapat meningkat dan menyebabkan retakan struktural yang tidak terlihat sebelumnya.
Tim teknis dari pondok pesantren bersama aparat setempat telah melakukan pengecekan lapangan, sementara polisi dan petugas BPBD Magelang juga telah berada di lokasi untuk menyelidiki penyebab pasti kejadian dan memastikan tidak ada korban lain yang belum terdata.
Penanganan Cepat dan Tanggapan Pihak Pondok
Pengurus pondok segera mengambil langkah cepat. Selain membawa para santri yang terluka ke rumah sakit, area sekitar kolam langsung disterilkan untuk mencegah kejadian serupa. Kegiatan belajar-mengajar untuk sementara dialihkan ke tempat yang lebih aman.
“Kami sangat bersyukur tidak ada korban jiwa. Ini adalah ujian bagi kami, dan kami akan mengevaluasi semua bangunan di lingkungan pondok untuk memastikan keamanannya,” imbuh Muhib.
Pihak keluarga santri pun telah dihubungi secara langsung oleh pengurus pondok. Beberapa wali santri dari luar daerah bahkan langsung datang ke Magelang untuk memastikan kondisi anak-anak mereka.
Respons Pemerintah dan Rencana Tindak Lanjut
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magelang dijadwalkan akan mengirim tim ahli struktur bangunan untuk menilai kembali keamanan infrastruktur pondok. Pemerintah daerah juga menyatakan siap membantu perbaikan fasilitas dan memberikan pendampingan psikologis kepada santri yang terdampak.
“Keselamatan para santri adalah prioritas utama. Kami akan evaluasi semua fasilitas air dan bangunan berisiko di pondok-pondok wilayah Magelang,” ujar Kepala BPBD Magelang, Roni Purwanto.
Insiden robohnya tembok kolam tandon air di Pondok Gontor 5 ini menjadi peringatan penting mengenai pentingnya pengawasan berkala terhadap bangunan di lingkungan pendidikan. Meski tak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini meninggalkan trauma fisik dan psikologis bagi para santri. Pihak pondok, pemerintah daerah, dan masyarakat kini bergandengan tangan untuk memastikan keselamatan serta pemulihan yang menyeluruh bagi seluruh warga pondok.

Komentar