Jokowi Tak Mampu Beli Kacamata Usai Pecah?
ASKARA - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo bahwa ia tidak mampu membeli kacamata pengganti semasa kuliah di UGM kembali menjadi sorotan publik. Ungkapan itu muncul saat Jokowi menunjukkan ijazah-ijazahnya kepada awak media di kediamannya di Solo, Rabu (16/4/2025). Ketika salah seorang wartawan menyoroti foto Jokowi berkacamata di ijazah UGM, ia menjawab santai, "Oh yang itu sudah pecah, saya dulu tidak mampu beli lagi."
Ucapan itu terdengar sepele, mungkin juga hanya selipan kelakar khas Jokowi. Namun dalam konteks komunikasi publik seorang kepala negara, bahkan kelakar bisa mengundang perdebatan. Apakah masuk akal seorang mahasiswa UGM, meski berasal dari keluarga sederhana, tidak mampu membeli kacamata baru saat yang lama pecah?
Jokowi memang dikenal berasal dari keluarga yang hidup pas-pasan. Kisahnya tinggal di rumah kontrakan, harus bekerja keras sejak muda, dan menjalani masa kuliah dengan penuh keterbatasan, sudah sering ia sampaikan. Maka dari itu, bila ditarik ke konteks itu, jawaban soal tidak mampu beli kacamata bisa dianggap masuk akal. Bukan semata-mata tidak bisa beli, melainkan harus mendahulukan kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Namun, dari sisi logika sosial-ekonomi, mahasiswa perguruan tinggi sekelas UGM di era 1980-an umumnya masih bisa mengakses kebutuhan dasar seperti kacamata, bahkan dengan biaya pas-pasan. Kacamata bukanlah barang mewah. Maka ketika Jokowi menyatakan tidak mampu membeli lagi karena kacamata pecah, bagi sebagian publik, ucapan ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini bagian dari gaya bertutur merendah, atau justru membuat kesederhanaan menjadi tampak berlebihan?
Yang menarik, pernyataan tersebut muncul di tengah momen klarifikasi soal keaslian ijazah. Momen yang sejatinya ditujukan untuk meluruskan tudingan, justru memunculkan elemen baru yang bisa mengaburkan pesan utama. Di sinilah pentingnya kehati-hatian dalam membangun narasi publik. Dalam komunikasi politik, bukan hanya kebenaran yang penting, tapi juga persepsi.
Akhirnya, apakah ucapan Jokowi soal kacamata itu masuk akal? Bisa ya, bisa tidak—tergantung dari sudut pandang mana publik menilainya. Tapi satu hal pasti: ketika seorang Presiden bicara, apapun yang ia ucapkan akan diurai dan ditafsirkan, bukan hanya sebagai fakta, tetapi juga simbol.

Komentar