Pesan Ramadhan: Prof. Rokhmin Dahuri Tegaskan Jangan Jadi Pembohong
ASKARA - Dalam bulan yang penuh hikmah ini, kebohongan menjadi hal yang sangat berbahaya, karena dapat merusak esensi ibadah kita. Pembohong tidak hanya menipu orang lain, tapi juga dirinya sendiri. Ibadah shaum (puasa) tidak akan diterima jika kita masih terjebak dalam kebohongan, karena ibadah shaum adalah perintah Allah untuk orang-orang yang beriman.
"Orang beriman pasti tidak akan berani berbohong, karena mereka yakin bahwa Allah akan mengetahui segala sesuatu," Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dalam tausiyahnya di Bogor, dikutip Selasa (18/3).
Beliau menegaskan pentingnya menjaga kejujuran selama menjalankan ibadah shaum. Pembohong adalah orang yang merasa Allah tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengetahui apa yang dia lakukan. Padahal, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk perkataan dan perbuatan hamba-Nya.
Keterkaitan Shaum dan Kejujuran
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa shaum (puasa) adalah ibadah yang diperuntukkan bagi orang-orang beriman. Pembohong adalah orang yang tidak percaya bahwa Allah SWT melihat, mendengar, dan mengetahui segala sesuatu.
Seorang mukmin sejati, yang yakin bahwa Allah melihat segalanya, tidak akan berani berbohong. Sebab, kebohongan tidak hanya menghapus nilai-nilai keimanan, tetapi juga membuat ibadah shaum menjadi sia-sia.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya (shaum)." (HR. Bukhari)
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kejujuran adalah syarat utama diterimanya ibadah shaum, bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga harus disertai dengan menjaga lisan dan perbuatan dari kebohongan.
Jika seseorang tetap berdusta, doa-doanya tidak akan didengar, istighfarnya tidak akan diijabah, dan bahkan pahala bacaan Al-Qur'annya tidak akan diberikan.
"Jika shaum kita tidak diterima karena kebohongan, maka seluruh ibadah yang terkait dengan shaum pun akan ditolak, termasuk doa, istighfar, dan bacaan Al-Qur’an kita. Semua itu tidak akan berpahala," tegas Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University itu.
Makna Pahala dan Kesungguhan
Pahala dari Allah SWT adalah bentuk ampunan dan cinta-Nya kepada hamba-hamba yang tulus mengabdi. Namun, pahala ini hanya bisa kita raih jika kita menjaga kejujuran dan kebenaran dalam setiap langkah kita, terutama di bulan yang mulia ini.
Pahala yang diharapkan oleh kita yang kerap lalai dalam ibadah adalah ampunan dan cinta Allah SWT. Jangan sia-siakan pahala shaum bulan Ramadhan yang hanya ada satu kali di setiap tahunnya dengan melakukan dusta atau kebohongan.
“Jangan sia-siakan pahala shaum yang hanya ada satu kali dalam setahun, apalagi jika kita diberi umur panjang dan kesempatan untuk menjalaninya. Hati-hati dengan kebohongan, karena itu bisa menghalangi kita dari rahmat Allah,” pesan Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2001-2004) itu..
Prof. Rokhmin Dahuri mengajak umat untuk menyadari bahwa Ramadhan hanya datang sekali setahun, dan itu pun jika kita diberikan umur serta kesempatan. Maka, jangan biarkan pahala shaum hilang sia-sia karena kelalaian dalam menjaga lisan dan kejujuran.
"Semoga Allah lindungi kita dari berbicara dan berbuat yang dusta. Aamiin ya Allah ya robbal aalamin," tutup Prof. Rokhmin Dahuri dengan penuh harap.

Komentar