Tontonan yang Menjadi Tuntunan: Menjaga Pandangan demi Ketenangan Hati
ASKARA - Di era teknologi yang serba cepat ini, manusia dimanjakan dengan kemudahan akses terhadap berbagai hiburan. Hanya dengan satu sentuhan layar, dunia dapat tersaji dalam genggaman. Namun, di balik kemudahan ini, ada ujian besar yang sering kali luput dari perhatian: bagaimana kita mengelola tontonan agar menjadi tuntunan, bukan sekadar hiburan yang melalaikan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna."
(QS. Al-Mu’minun: 3)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin seharusnya mampu memilah dan memilih apa yang bermanfaat bagi dirinya, termasuk dalam hal tontonan. Segala sesuatu yang tidak mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, bahkan bisa melalaikan dari ibadah, sebaiknya dihindari.
Menjaga Pandangan, Menjaga Hati
Pandangan adalah gerbang utama yang dapat memengaruhi hati seseorang. Apa yang kita lihat akan memengaruhi pikiran, emosi, dan akhirnya menjadi kebiasaan dalam kehidupan. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"النَّظْرُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، فَمَنْ تَرَكَهُ مَخَافَةَ اللَّهِ آتَاهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ"
"Pandangan (yang haram) adalah panah beracun dari panah-panah Iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya."
(HR. Al-Hakim, no. 7875)
Pandangan yang tidak terjaga akan membawa pengaruh negatif dalam hati. Sedangkan, mereka yang mampu menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan akan diberikan kebersihan hati dan ketenangan jiwa oleh Allah ﷻ.
Seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu'anhu berkata:
"حِفْظُ الْبَصَرِ أَشَدُّ مِنْ حِفْظِ اللِّسَانِ"
"Menjaga pandangan lebih sulit daripada menjaga lisan."
(Ibnu Abid Dunya, jilid 1/hlm. 204)
Hal ini menunjukkan bahwa godaan untuk melihat sesuatu yang tidak baik sangat besar dan sering kali sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Islam memberikan bimbingan agar seorang mukmin selalu menjaga pandangannya.
Allah ﷻ berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’"
(QS. An-Nur: 30)
Perintah dalam ayat ini tidak hanya berlaku bagi laki-laki, tetapi juga bagi perempuan sebagaimana dalam ayat selanjutnya (QS. An-Nur: 31). Dengan menjaga pandangan, seseorang akan lebih mudah menjaga kemurnian hati dan pikiran dari hal-hal yang dapat menjauhkannya dari Allah ﷻ.
Dampak Buruk dari Tontonan yang Tidak Bermanfaat
Banyaknya tontonan yang tidak mendidik di zaman ini telah membawa banyak dampak buruk bagi umat manusia, di antaranya:
1. Melalaikan dari Ibadah
Hiburan yang berlebihan dapat membuat seseorang lalai dari kewajibannya kepada Allah ﷻ. Banyak orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam menonton film atau drama, tetapi merasa berat untuk sekadar membaca Al-Qur'an atau shalat tepat waktu.
2. Melemahkan Hati dan Menurunkan Iman
Tontonan yang mengandung unsur maksiat, seperti adegan tidak senonoh, kekerasan, dan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, dapat melemahkan keimanan seseorang secara perlahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ فَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ"
"Jika seorang hamba berbuat dosa, maka akan muncul noktah hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa itu, dan memohon ampun, maka hatinya akan kembali bersih. Namun, jika ia terus melakukan dosa, maka titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah 'ran' (penutup hati) yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya (QS. Al-Mutaffifin: 14)."
(HR. Tirmidzi, no. 3334)
3. Membuang Waktu yang Berharga
Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering disia-siakan oleh manusia. Allah ﷻ berfirman:
وَٱلْعَصْرِ ١ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ ٢
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian."
(QS. Al-‘Asr: 1-2)
Menghabiskan waktu untuk tontonan yang tidak bermanfaat termasuk dalam bentuk kerugian yang besar. Sebaliknya, waktu yang ada seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaat.
Solusi: Mengubah Tontonan Menjadi Tuntunan
Agar tidak terjerumus dalam hiburan yang melalaikan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Pilih tontonan yang bermanfaat, seperti kajian Islami, film sejarah Islam, atau dokumenter yang menambah wawasan.
2. Batasi waktu menonton, agar tidak mengganggu waktu ibadah dan aktivitas produktif lainnya.
3. Gantilah tontonan dengan aktivitas lain, seperti membaca buku, menghafal Al-Qur’an, atau menulis jurnal refleksi harian.
4. Berkumpul dengan teman-teman yang shalih, agar lebih mudah menjaga diri dari kebiasaan yang kurang bermanfaat.
Kesimpulan
Tontonan yang kita pilih hari ini akan menentukan arah hidup kita di masa depan. Jika kita terus menerus membiarkan diri terbuai dengan hiburan yang sia-sia, maka hati akan semakin jauh dari ketenangan. Sebaliknya, jika kita menjadikan tontonan sebagai sarana mendapatkan ilmu dan kebaikan, maka ia akan menjadi tuntunan yang membawa keberkahan.
Semoga kita semua senantiasa diberikan taufik oleh Allah ﷻ untuk memilih hal-hal yang baik dalam hidup kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Dwi Taufan Hidayat)

Komentar