Mafia Emas Hitam: Bara di Kilang Minyak (Seri 1)
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Kilatan cahaya dari bara api membara di puncak cerobong kilang minyak, menari di atas langit malam yang pekat. Udara di sekitar terasa panas, bercampur dengan bau minyak mentah yang menyengat. Di kejauhan, suara mesin-mesin raksasa terus bergemuruh, seolah menelan segala suara lain di sekitarnya.
Di balik pagar pembatas, Hendra Saputra berdiri dengan tubuh tegang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, tangannya menggenggam erat ponsel yang sejak tadi bergetar dengan pesan-pesan masuk. Ia tahu malam ini akan berbahaya. Namun, sudah terlalu jauh ia melangkah. Tidak ada jalan untuk kembali.
Hendra menarik napas panjang. Malam ini, ia berencana menemui seseorang yang mungkin bisa membantunya membongkar kejahatan ini. Seseorang yang tidak terikat dengan kepentingan perusahaan atau pemerintahan.
Di sisi lain kota, Raka Wirawan, seorang jurnalis investigasi dari majalah Ekspos, duduk di sudut warung kopi kecil. Kopinya sudah dingin, tetapi pikirannya justru semakin panas. Ia membaca ulang pesan yang dikirim Hendra beberapa jam lalu:
"Saya punya informasi soal mafia BBM. Ini lebih besar dari yang pernah kita bayangkan. Kita harus ketemu."
Hendra bukan orang sembarangan. Lima tahun bekerja di kilang minyak membuatnya paham seluk-beluk permainan kotor yang terjadi di dalamnya. Tapi keberaniannya untuk berbicara membuatnya kehilangan pekerjaan, dan mungkin juga nyawanya dalam bahaya.
Raka menghela napas dan meraih jaketnya. Hendra memintanya datang ke sebuah gudang tua di pinggiran kota. Tempat yang cukup aman, jauh dari mata-mata yang mungkin mengawasi.
Gudang Tua, 23.45 WIB
Hendra mondar-mandir gelisah di dalam gudang yang remang-remang. Dindingnya berlapis karat, dan bau oli bekas menusuk hidung. Setiap bayangan yang bergerak di kejauhan membuatnya semakin waspada.
Tak lama kemudian, suara motor tua terdengar mendekat. Hendra menegang, bersiap jika yang datang bukan orang yang ia tunggu. Namun, saat pengendara itu melepas helmnya, ia menghela napas lega. Raka Wirawan.
"Kau datang sendiri?" tanya Hendra dengan suara pelan.
Raka mengangguk. "Kau terdengar panik di telepon. Ada apa sebenarnya?"
Hendra membuka jaketnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku dalam. "Di dalam ini ada data transaksi BBM ilegal yang kulihat sendiri. Mereka mengoplos solar subsidi dengan bahan kimia, lalu menjualnya ke industri dengan harga tinggi. Kilang ini milik orang dalam. Bahkan beberapa SPBU mereka hanya fiktif, dipakai untuk mencuci transaksi."
Raka mengambil flashdisk itu. "Siapa yang ada di balik ini semua?"
Hendra menatapnya lekat-lekat. "Orang yang lebih besar dari yang kau bayangkan. Bukan cuma pengusaha, tapi juga pejabat. Ada jaringan yang mengendalikan ini dari atas ke bawah."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar mendekat. Dua SUV hitam berhenti di depan gudang. Lampu sorotnya menyilaukan wajah mereka.
"Kita harus keluar dari sini!" bisik Hendra.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, pintu gudang didobrak. Beberapa pria berbadan tegap masuk dengan langkah cepat. Salah satu dari mereka mengangkat pistol.
"Serahkan flashdisk itu."
Hendra menggertakkan giginya. "Kalian pikir bisa membungkam kami?"
Pria bersenjata itu tidak menjawab, hanya mengarahkan pistolnya tepat ke dada Hendra.
"DOR!"
Sebuah suara tembakan memecah keheningan. Hendra terhuyung ke belakang, darah merembes dari dadanya.
Raka membelalak, tubuhnya menegang dalam ketakutan.
Pria itu menoleh ke arah Raka. "Kau berikutnya."
Dengan cepat, Raka melempar meja kayu ke arah pria bersenjata itu dan berlari menuju pintu belakang. Tembakan lain meletus di belakangnya, peluru menembus papan kayu tempat ia berlindung.
Dengan napas memburu, Raka menerobos keluar gudang dan langsung berlari ke arah gang sempit di belakangnya. Sepatunya menghantam genangan air, cipratannya mengenai celana panjangnya.
Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang. Namun, sebelum ia sempat menekan nomor, sesuatu menghantam bahunya.
Ia tersungkur, ponselnya jatuh ke tanah. Salah satu pengejarnya berhasil menangkapnya. Raka meronta, mencoba melawan, tapi pria itu lebih kuat. Sebuah pukulan keras menghantam perutnya, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Di detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, ia mendengar suara familiar.
"Jangan bunuh dia. Tuan Gozali ingin berbicara dengannya dulu."
Gelap.
(Bersambung ke Seri 2: Jejak di Pelabuhan Gelap)

Komentar