Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:57
COMMUNITY

Pesan Ramadhan, Prof. Rokhmin Dahuri: Bangkit Dengan Islam Kaffah dan ittiba, Memperbaiki Dunia

Pesan Ramadhan, Prof. Rokhmin Dahuri:  Bangkit Dengan Islam Kaffah dan ittiba, Memperbaiki Dunia
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS (dok askara)

ASKARA - Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, anggota DPR RI 2024-2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mengajak umat Islam untuk bangkit dengan memaknai dan mengamalkan dengan sungguh-sungguh nilai-nilai ibadah yang diajarkan oleh agama. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan harapan agar Indonesia bisa bangkit menuju Indonesia Emas 2045.  

Dengan memaknai dan mengamalkan nilai-nilai ibadah, menuntut ilmu, dan memperkuat ekonomi umat, diharapkan umat Islam dapat berperan aktif dalam memperbaiki dunia, termasuk Indonesia, menuju masa depan yang lebih baik.

Maka, untuk mewujudkan kemajuan dan perubahan, Indonesia perlu kembali pada prinsip-prinsip Islam Kaffah (menjalankan Islam secara menyeluruh) dan Ittiba (mengikuti ajaran Islam) untuk mengamalkan ajaran Islam secara utuh dan mengikuti sunnah Rasulullah. 

"Kita berdoa sebagai umat Islam harus bangkit. Jangan takut lagi bahwa syarat untuk memperbaiki dunia termasuk Indonesia adalah Islam Kaffah dan ittiba menurut keyakinan kita," ujar cendekiawan Muslim dan pakar ekonomi kelautan itu, dalam tausiyahnya dikutip Senin (10/3).

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, muslim dan muslimah yang menjalankan Islam secara kaffah dan ittiba akan memiliki pribadi yang luhur dan berakhlak mulia. 

“Karena misi Islam yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi alam semesta. sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Anbiya' ayat 107: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lilalamin). Itu Allah yang membuat pernyataan dalam Alquran,” terang Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu.

Prof. Rokhmin Dahuri juga mengajak umat Islam untuk kembali kepada Islam dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Ia mengatakan bahwa bertaqwa kepada Allah SWT adalah kunci kebahagiaan dan kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat. 

Memaknai dan Mengamalkan Nilai-nilai Ibadah

Untuk mencapai kebangkitan, Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya memaknai dan mengamalkan nilai-nilai substansial dari setiap ibadah mahdhoh (hablum minallah) yang kita lakukan.Tidak hanya memperbanyak ibadah mahdhoh, tetapi juga mengerjakan amal saleh dan berbagi kebajikan serta kelebihan (kekuasaan, harta, dan IPTEKS) kepada sesama (ibadah ghaira mahdhoh atau hablum minanas).

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045, umat Islam harus memaknai dan mengamalkan hikmah substansial dari setiap ibadah mahdhoh yang dilakukan. Setiap ibadah memiliki nilai dan pelajaran yang sangat berharga, yang jika diterapkan dengan benar akan menciptakan perubahan positif tidak hanya untuk individu tetapi juga untuk bangsa.

Menuntut Ilmu sebagai Kunci Kebangkitan

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya menuntut ilmu, terutama melalui membaca, yang menurutnya adalah pintu untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam Islam, perintah pertama yang diturunkan adalah "Iqra" (bacalah), yang menandakan bahwa membaca adalah langkah awal untuk meraih ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Tanpa membaca, seseorang tidak akan memperoleh informasi atau pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Prof. Rokhmin juga mengutip ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa orang yang mengetahui dan tidak mengetahui adalah dua hal yang tidak dapat disamakan, menegaskan pentingnya memiliki pengetahuan.

"Ayat Al-Qur'an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca, bukan perintah shalat, puasa, zakat, ataupun haji," tuturnya. Membaca adalah pintu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Tanpa membaca, mustahil seseorang akan memperoleh ilmu, baik dari ayat-ayat qawliyah maupun ayat-ayat kawniyah.

Menurutnya, umat Islam harus memanfaatkan ilmu pengetahuan ini untuk menjadi umat yang unggul, terutama dalam aspek ekonomi. Hal ini karena ekonomi yang kuat adalah salah satu indikator kesejahteraan umat.

"Orang yang pintar dan terbiasa membaca akan kaya informasi, fakta, data, dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, orang yang tidak mau membaca tidak akan mengetahui apa-apa," ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

Kesejahteraan Ekonomi Umat Islam

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menekankan bahwa umat Islam harus unggul secara ekonomi, karena persoalan ekonomi merupakan salah satu indikator kesejahteraan umat. Ia mengajak umat Islam untuk memperkuat perekonomian mereka dengan membangun kemandirian dan mengelola potensi yang ada secara maksimal, serta menciptakan lembaga-lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Islam sebagai sebuah agama menginginkan kita menjadi umat yang terbaik di permukaan bumi ini," jelas ujar Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu.

Beliau juga mengingatkan umat Islam untuk menjalankan peran mereka sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ali Imran ayat 110. Tugas umat Islam adalah menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran sambil beriman kepada Allah.

Namun, beliau juga menyadari bahwa ekonomi umat Islam di Indonesia belum kuat, dengan berbagai tantangan seperti tingginya angka kemiskinan, ketergantungan pada impor pangan, serta penguasaan sumber daya alam oleh pihak asing.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali-Imran ayat 110 yang artinya: "Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh kepada kebaikan dan kamu mencegah dari kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah."

Prof. Rokhmin Dahuri menambahkan bahwa tugas dan tanggung jawab umat terbaik adalah menyeru kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT.

Tantangan Ekonomi Umat Islam

Namun, Prof. Rokhmin Dahuri juga mengakui bahwa ekonomi umat Islam hari ini belum kuat dan mandiri. Beberapa parameter yang menunjukkan hal ini antara lain: 1. Angka kemiskinan yang masih tinggi, 2. Sumber daya alam yang masih banyak dikuasai oleh pihak asing, 3. Kebutuhan pangan yang masih bergantung pada impor, 4. Lembaga-lembaga produksi kebutuhan yang hampir semuanya dikuasai oleh non-muslim.

"Dalam momen Ramadhan ini, mari kita ambil hikmah dari setiap amalan yang kita lakukan, memperkuat iman, serta menjalin ukhuwah Islamiyah yang kokoh, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, sejahtera, dan bermartabat. Sebab, hanya dengan Islam yang kaffah dan ittiba, kita dapat memimpin dunia, termasuk Indonesia, menuju kemajuan dan kedaulatan yang hakiki," ujar Wakil Ketua Dewan Pakar MN - KAHMI itu.

Komentar