Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:51
TRAVELLING

Akibat Upacara Keagamaan, Gunung Agung Ditutup Hingga 1 Maret

Akibat Upacara Keagamaan, Gunung Agung Ditutup Hingga 1 Maret
Gunung Agung ditutup hingga 1 Maret (Dok Pribadi)

ASKARA - Aktivitas pendakian di Gunung Agung, Karangasem, Bali, kembali dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan terhadap upacara adat yang berlangsung di kawasan tersebut. Penutupan ini berkaitan dengan pelaksanaan upacara Budha Wage Ukir di Pura Kahyangan Jagat Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir, Desa Sebudi, Kecamatan Selat.  

Informasi mengenai penutupan ini tersebar luas di berbagai platform media sosial, termasuk akun X @Beritabali.com, pada Selasa, 25 Februari 2025. Penutupan ini tidak hanya berlaku untuk jalur pendakian melalui Pura Pasar Agung, tetapi juga mencakup semua akses lain menuju puncak. Larangan mendaki ini berlaku mulai 25 Februari hingga 1 Maret 2025, dengan pembukaan kembali pada 2 Maret 2025.

Penutupan jalur pendakian di Gunung Agung akibat upacara keagamaan bukanlah hal baru. Sebelumnya, pada 1 Oktober hingga 30 November 2024, gunung berapi setinggi 3.142 mdpl ini juga ditutup karena adanya upacara suci di Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir.  

Keputusan ini berdampak pada sektor wisata pendakian, di mana beberapa pemandu harus membatalkan reservasi dari wisatawan lokal maupun internasional. 

Wayan Widi Yasa, selaku Sekretaris Forum Komunikasi Pemandu Wisata Pendakian Gunung Agung, berharap bahwa keputusan ini dapat dihormati tanpa adanya pelanggaran dari pihak-pihak yang masih berusaha mendaki selama periode penutupan. 

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang lebih intensif antara penyelenggara upacara dengan para pemandu agar informasi dapat tersampaikan lebih cepat kepada wisatawan.  

Sebagai tindak lanjut, pihak Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir telah mengeluarkan surat resmi yang melarang aktivitas pendakian selama upacara berlangsung. Surat ini ditandatangani oleh Ketua Panitia Jro Mangku Wayan Sukra dan Pengelingsir Jro Mangku Gede Umbara, yang menjelaskan bahwa upacara Karya Tabuh Gentuh Wana Kertih, Segara Kertih, serta Nubung Pedagingan Purnama Kelima sedang dilaksanakan di pura tersebut.  

Selain penutupan pendakian, Gunung Agung juga menjadi lokasi upacara Mecaru Pemarisudha, sebuah ritual yang bertujuan untuk menyeimbangkan hubungan manusia dengan alam dan menyucikan tempat yang dianggap sakral. 

Pelaksanaan upacara ini juga mendapat dukungan finansial dari pihak keluarga seorang pendaki asal Korea Selatan yang mengalami musibah di Gunung Agung sebelumnya.  

Upacara Mecaru Pemarisudha sendiri dikenal sebagai tradisi yang dilakukan untuk membersihkan lingkungan dari unsur negatif dan biasa dilaksanakan sebelum Hari Raya Nyepi di berbagai titik strategis, seperti perempatan jalan dan pekarangan rumah.

 

 

Komentar