#KaburAjaDulu: Prof Rokhmin Dahuri Tawarkan Solusi Atasi Kelesuan Ekonomi dan Pengangguran di Indonesia
ASKARA - Tagline #KaburAjaDulu menjadi viral di media sosial, terutama di platform seperti Twitter (X), mengarah pada perasaan banyak orang yang merasa terhimpit oleh tantangan ekonomi dan kurangnya peluang di tanah air.
Banyak yang merasa seperti "terjebak" dalam situasi yang tidak memberi harapan bagi masa depan mereka, seperti pengangguran, ketidakpastian, atau kondisi ekonomi yang stagnan.
Tagline #KaburAjaDulu menjadi perhatian anggota DPR RI periode 2024 -2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Menurutnya, fenomena tersebut bukan hanya sebagai ekspresi frustrasi, tetapi juga sebagai sebuah panggilan untuk bertindak, memperbaiki kondisi ekonomi dalam negeri, dan meningkatkan daya saing Indonesia.
"Pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, koperasi, UMKM, perguruan tinggi, BRIN, LSM, masyarakat sipil, dan media massa untuk membangun solusi bersama yang berkelanjutan," ujar ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University itu dalam keterangannya, Ahad (16/2).
Pemerintah dan sektor swasta harus fokus pada perbaikan iklim investasi, pendidikan, pelatihan keterampilan, serta pemanfaatan potensi sektor-sektor unggulan seperti pertanian, kelautan, perikanan, dan teknologi untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Jika hal ini tidak dilakukan dengan serius, tegasnya, maka banyak orang, terutama generasi muda, akan lebih memilih untuk mencari peluang di luar negeri, yang menjadikan #KaburAjaDulu semakin relevan.
Jadi, meski #KaburAjaDulu mencerminkan keresahan, menurut Prof Rokhmin Dahuri, ini juga menjadi sebuah cambuk untuk perbaikan agar Indonesia dapat menghadirkan lapangan pekerjaan dan kondisi ekonomi yang lebih baik, agar masyarakat tak lagi merasa perlu "kabur" mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.
Lima Solusi
Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri menawarkan solusi untuk mengatasi kelesuan ekonomi dan pengangguran di Indonesia. Berikut adalah lima langkah utama dari solusi tersebut:
1. Revitalisasi Sektor Ekonomi yang Ada (Existing Sectors)
Solusi pertama yang diusulkan adalah menjaga dan merevitalisasi sektor2 ekonomi yang ada saat ini (existing) seperti pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, dan industri manufaktur (tekstil, elektronik, otomotif, makanan dan minuman, dll).
Pertanian: Meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian. Kelautan dan Perikanan: Memanfaatkan potensi maritim Indonesia dengan bijaksana. Kehutanan: Melakukan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Industri Manufaktur: Memperkuat sektor industri seperti tekstil, elektronik, otomotif, makanan, dan minuman.
"Revitalisasi ini penting untuk memperkuat fondasi ekonomi yang sudah ada dan meningkatkan daya saing sektor-sektor ini di pasar global," sebut Wakil Ketua Dewan Pakar Majelis Daerah (MD) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) itu.
2. Menciptakan Lapangan Kerja melalui Investasi dan Perdagangan
Langkah kedua adalah menciptakan lapangan kerja dg meningkatkan investasi, bisnis, dan perdagangan di berbagai sektor including Agro Maritim, Industri Manufaktur, Pariwisata, dan Digitlal Technology (AI, IoT, Blockchain, Big Data, and Robotics);
Sektor Agro Maritim: Mengembangkan sektor pertanian dan perikanan terpadu. Industri Manufaktur: Meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor. Pariwisata: Memajukan pariwisata dengan memanfaatkan kekayaan budaya dan alam. Teknologi Digital: Mengembangkan teknologi canggih seperti AI, IoT, Blockchain, Big Data, dan Robotics.
Transformasi sektor-sektor ini akan membuka peluang kerja baru, memperkuat perekonomian lokal, serta mengurangi tingkat pengangguran. "Di sektor teknologi digital, seperti AI, IoT, Blockchain, Big Data, dan Robotics, Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berinovasi," kata Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu.
3. Program DIKLAT (Upskilling dan Reskilling) untuk Angkatan Kerja
Pendidikan dan pelatihan merupakan elemen kunci dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Prof. Rokhmin mengusulkan adanya program DIKLAT yang berfokus pada upskilling (peningkatan keterampilan) dan reskilling (perubahan keterampilan) untuk angkatan kerja yang ada saat ini, guna menjawab kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
"Hal ini akan membantu pekerja untuk lebih siap menghadapi tantangan industri yang terus berkembang," ujar Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu.
4. Reformasi Sistem Pendidikan
Reformasi dalam sistem pendidikan di Indonesia juga penting untuk menyiapkan generasi penerus yang kompeten dan unggul. Prof. Rokhmin menekankan reformasi sistem pendidikan dari jenjang PAUD, SD, Poltek (VOKASI) hingga Universitas.utk.menyiapkan dan menghasilakn SDM yg bener2 unggul, kompeten, kreatif, inovatif, agile, adaptif, berdaya saing global, berakhlak mulia, dan memiliki IMTAQ kokoh sesuai agama.masing2.
Pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri adalah kunci untuk menciptakan tenaga kerja yang siap menghadapi era digital dan global.
5. Iklim Investasi dan Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business)
Terakhir, untuk mewujudkan semua upaya di atas, pemerintah harus menghadirkan Iklim Investasi dan Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business) yg kondusif dan atraktif.
Ini mencakup reformasi kebijakan, pengurangan birokrasi yang menghambat, serta peningkatan kemudahan berbisnis agar menarik lebih banyak investasi domestik dan asing. Dengan lingkungan yang mendukung, maka perekonomian Indonesia dapat berkembang lebih pesat dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Selain itu, beberapa cara lain untuk mengatasi pengangguran di Indonesia adalah: Memperbanyak lowongan kerja, Memberikan pelatihan kerja, Memberikan sertifikasi pelatihan kerja, Mempermudah syarat kerja, Menyingkat proses rekrutmen, Meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan, Meningkatkan perpindahan penduduk, Mengembangkan kewirausahaan
"Dengan melakukan beberapa cara di atas, diharapkan pengangguran di Indonesia dapat berkurang dan pertumbuhan ekonomi dapat meningkat," tegas anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas dari Bremen, Jerman itu.

Komentar