Cerita Bersambung Seri 2: Jejak Konflik di Mushala Al-Hidayah
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Pagi di Karangjati disambut dengan cerahnya mentari, namun suasana hati para penduduk tidak sepenuhnya selaras dengan itu. Pemilihan kepala desa yang semakin dekat membuat ketegangan antar warga perlahan terasa, termasuk di mushala Al-Hidayah, pusat aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan di desa itu.
Rania yang baru saja pulang dari pengajian pagi bersama beberapa ibu-ibu di mushala merasakan aura yang berbeda. Biasanya, setelah kajian, pembicaraan mereka penuh dengan cerita ringan dan motivasi agama. Namun kali ini, diskusi mereka perlahan-lahan berubah arah, menyentuh topik pemilihan kepala desa.
“Aku dengar Pak Hadi akan memberikan bantuan renovasi mushala kalau dia terpilih,” ujar Bu Ratna dengan nada penuh keyakinan.
Ibu Lina, salah satu peserta pengajian, mengernyitkan dahi. “Tapi apa kita bisa percaya? Belum tentu itu akan benar-benar terjadi.”
Percakapan itu menghangat, dengan masing-masing mulai menyebutkan pandangan mereka terhadap para calon. Rania yang baru pertama kali ikut pengajian di mushala itu hanya diam, menyimak pembicaraan mereka sambil berusaha menilai situasi.
Sementara itu, Ibrahim sibuk membantu pengurus koperasi di mushala untuk menyusun laporan keuangan. Di ruang belakang, pembicaraan lain tengah berlangsung.
“Pak Ibrahim, saya dengar Bapak lebih condong mendukung Pak Arifin. Apa itu benar?” tanya Pak Hasan, salah satu pengurus koperasi yang dikenal dekat dengan Hadi.
Ibrahim tersenyum samar, mencoba tetap netral. “Saya hanya berharap kepala desa yang terpilih nanti bisa membawa manfaat untuk desa ini. Bukan soal siapa, tapi soal apa yang mereka perjuangkan.”
Namun, jawaban diplomatis itu tidak memuaskan Pak Hasan. “Tapi kalau Pak Hadi menang, koperasi ini akan mendapat tambahan modal. Saya pikir, kita harus realistis, Pak Ibrahim.”
Percakapan itu terhenti saat Ustaz Salman masuk ke ruangan, membawa beberapa dokumen. Meski tidak berkata apa-apa, tatapan matanya yang tajam seperti memahami bahwa percakapan barusan bukan sekadar diskusi biasa.
“Pak Ibrahim,” ujar Ustaz Salman sambil menyerahkan dokumen, “ini rencana kegiatan bulan depan. Saya berharap mushala ini tetap menjadi tempat yang netral, tempat di mana semua orang bisa merasa nyaman tanpa membawa urusan politik.”
Ibrahim mengangguk, meski dalam hati ia tahu menjaga netralitas di tengah suasana seperti ini bukanlah perkara mudah.
Di sore hari, mushala kembali ramai oleh aktivitas warga. Anak-anak belajar mengaji, ibu-ibu sibuk mengemas hasil panen yang dijual di koperasi, dan beberapa warga laki-laki membantu memperbaiki atap mushala yang bocor. Namun, di sudut mushala, sebuah percakapan kecil antara dua pendukung calon kepala desa mulai memanas.
“Pak Hadi itu pengusaha sukses. Dia pasti punya akses untuk membawa perubahan besar ke desa ini,” kata Pak Hasan kepada Pak Surya, seorang pendukung setia Arifin.
“Tapi apa gunanya kekayaan kalau tidak dibarengi dengan nilai agama? Pak Arifin sudah terbukti, dia selalu mendahulukan kepentingan warga,” balas Pak Surya dengan nada keras.
Percakapan yang awalnya hanya berupa adu argumen itu mulai menarik perhatian warga lain. Beberapa mencoba melerai, tapi ketegangan sudah terlanjur terasa.
“Sudahlah, jangan ribut di mushala. Tempat ini untuk ibadah, bukan untuk politik!” tegur Ustaz Salman tegas, membuat keduanya terdiam.
Namun, meski perdebatan berhenti di sana, bisikan-bisikan kecil terus berlanjut, membawa aroma persaingan yang semakin menyengat.
Malam itu, Rania duduk termenung di teras rumah. Pengalaman pertamanya di mushala menyadarkannya bahwa tempat itu bukan sekadar ruang ibadah, tetapi juga pusat dinamika sosial yang penuh warna. Di sisi lain, ia mulai merasakan tekanan dari Ibrahim yang berharap ia lebih aktif di mushala.
“Ibu, kenapa diam saja?” tanya Siti yang duduk di sampingnya.
Rania tersenyum kecil. “Ibu sedang berpikir, Nak. Banyak hal yang Ibu belum mengerti.”
Siti mengangguk, lalu berkata dengan polos, “Ustaz Salman bilang, kalau kita bingung, kita harus doa. Allah pasti kasih jawaban.”
Kata-kata itu sederhana, tapi menghujam hati Rania. Malam itu, ia memutuskan untuk bangun di sepertiga malam terakhir, mencoba melantunkan doa dengan hati yang lebih tenang.
“Ya Allah,” bisiknya di tengah keheningan malam, “jika memang mushala itu tempat yang bisa membawa kebaikan bagi keluarga kami, mudahkanlah aku untuk mencintainya. Dan jika aku bisa menjadi bagian dari kebaikan di desa ini, tunjukkanlah jalannya.”
Di sisi lain desa, tim sukses kedua calon kepala desa semakin aktif mempersiapkan strategi kampanye mereka. Pak Hadi mengadakan pertemuan tertutup di rumahnya, merancang program-program yang mampu menarik simpati warga.
“Kita harus fokus pada mushala. Itu pusat kegiatan warga. Kalau kita bisa tunjukkan bahwa kita mendukung penuh mushala, warga pasti mendukung kita,” ujar Hadi kepada timnya.
Di pihak lain, Arifin yang lebih sederhana tetap mengandalkan pendekatan langsung kepada warga. Ia sering berkunjung ke rumah-rumah, mendengar keluhan mereka, dan memberikan solusi sebisa mungkin.
Namun, perbedaan strategi ini justru menimbulkan gesekan di kalangan warga. Beberapa merasa bahwa pendekatan Hadi terlalu materialistis, sementara yang lain menganggap Arifin terlalu tradisional.
Akhir Seri 2: Hati yang Terbelah
Hari Jumat, mushala kembali penuh oleh warga yang melaksanakan salat berjemaah. Setelah salat, Ustaz Salman memberikan khutbah singkat yang mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.
“Pemilihan kepala desa adalah bagian dari demokrasi. Tapi ingat, jangan sampai perbedaan pilihan memecah belah kita. Kita tetap saudara, tetap satu desa,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Namun, di luar mushala, diskusi tentang calon kepala desa kembali menghangat. Rania yang berdiri di dekat pintu mendengar dua ibu-ibu membicarakan sesuatu dengan nada sarkastik.
“Lihat saja nanti, siapa yang menang. Kalau Hadi yang menang, mushala ini pasti berubah jadi pusat ekonomi yang besar.”
“Dan kalau Arifin yang menang, mungkin kita cuma dapat ceramah tanpa tindakan.”
Rania merasa hatinya terbelah. Di satu sisi, ia ingin tetap berfokus pada keluarga dan agama. Tapi di sisi lain, ia tahu bahwa apa pun hasil pemilihan nanti, hidup mereka di desa ini tidak akan pernah sama lagi.
Bersambung ke Seri 3: Retakan di Tengah Persaudaraan

Komentar